Mataram (ANTARA) - Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB) Lalu Muhammad Iqbal mendorong Koperasi Desa Merah Putih menjadi pemasok utama kebutuhan bahan pangan bagi program Makan Bergizi Gratis (MBG) agar perputaran dana triliunan rupiah bisa dinikmati masyarakat lokal.

"Tidak usah mikir bisnis yang lain, fokus suplai untuk MBG saja, karena ada hampir Rp6 triliun uang yang berputar di MBG," ujar dia dalam keterangan di Mataram, Kamis.

Iqbal mengatakan program unggulan Presiden Prabowo Subianto tersebut membuka peluang besar bagi koperasi desa, terkhusus dalam penyediaan bahan pangan berupa telur dan daging ayam.

Sebelum MBG berjalan, imbuhnya, peternak telur di NTB baru mampu memenuhi 30 persen kebutuhan daerah dan sisanya sebanyak 70 persen dipasok dari luar daerah terutama Pulau Jawa.

"Dengan meningkatnya kebutuhan akibat MBG, pasokan dari luar daerah berpotensi semakin terbatas. Saya meminta pengurus Kopdes Merah Putih fokus menangkap peluang yang ada," kata Iqbal.

Baca juga: Pergub NTB wajibkan SPPG serap pangan dari Koperasi merah Putih

Lebih lanjut ia menyampaikan program unggulan pemerintah pusat tersebut senilai Rp5,7 triliun pada tahun 2026. Nominal itu melebihi nilai Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) NTB yang hanya berjumlah Rp5,64 triliun.

Pemerintah NTB mendorong penguatan permodalan koperasi melalui skema pembiayaan agar Koperasi Desa Merah Putih bisa menjadi pelaku utama dalam proyek pemberian makan gratis kepada jutaan orang penerima manfaat.

Bank NTB Syariah selaku Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) telah menyiapkan kredit usaha rakyat sebanyak Rp30 miliar yang bisa dimanfaatkan koperasi dan pelaku UMKM sebagai modal awal pengembangan usaha.

"Skema kredit sedang dirancang, Bank NTB Syariah sudah membuka akses kredit usaha rakyat agar program itu bisa terarah dan tepat sasaran. Apabila proposal bisnis telah rampung, koperasi dapat segera mengajukan pinjaman," papar Iqbal.

Baca juga: Sebanyak 30 ribu Kopdes Merah Putih tancap gas tahun ini

Sementara itu, Ketua Koperasi Desa Tegal Maja di Lombok Utara, Martinom, mengatakan saat ini koperasi yang dipimpinnya baru menjalankan dua jenis usaha berupa penjualan beras dan gas elpiji.

Ia mengakui potensi peternakan di desanya cukup besar. Saat ini telah berdiri belasan kandang ayam pedaging dan petelur, namun pengembangan usaha masih terkendala permodalan.

Selain keterbatasan modal, koperasi juga masih menghadapi persoalan lahan untuk pembangunan gerai. Mereka berharap permasalahan lahan dapat segera terselesaikan agar pembangunan gerai bisa segera direalisasikan dan koperasi lebih optimal menjalankan usaha.

"Dari awal kami sudah melirik potensi MBG, sekiranya dari awal kami diberikan anggaran lunak dalam bentuk uang, kami bisa memberikan prioritas untuk membangun kandang," pungkas Martinom.

Baca juga: Sebanyak 199 gerai Kopdes Merah Putih di NTB tahap pembangunan
Baca juga: MBG banjir dukungan di NTB, Anggota DPR RI Muazzim: Masyarakat antusias
Baca juga: Sukseskan MBG, Ketum PBNU resmikan 41 SPPG di Lombok Barat
Baca juga: Program MBG hidupkan ekonomi lewat pangan lokal



Pewarta :
Editor: Abdul Hakim
COPYRIGHT © ANTARA 2026