Moskow (ANTARA) - Perdana Menteri Irak Mohammed Shia al-Sudani, Senin, mengatakan bahwa operasi di Selat Hormuz tidak akan membantu pelayaran dan akan memprovokasi reaksi dari Iran, seraya menambahkan bahwa Irak tidak akan berpartisipasi di dalamnya.
Eskalasi seputar Iran telah menyebabkan blokade de facto Selat Hormuz, jalur utama untuk pengiriman minyak dan gas alam cair dari negara-negara Teluk Persia ke pasar global, dan juga telah memengaruhi tingkat ekspor dan produksi minyak di kawasan tersebut.
Presiden AS Donald Trump telah menyerukan sejumlah negara untuk mengirim kapal ke selat tersebut.
"Kami tidak percaya pada solusi militer. Perlindungan bersenjata terhadap kapal akan memprovokasi reaksi dari Iran dan tidak akan berkontribusi pada pelayaran. Oleh karena itu, kami tidak akan berpartisipasi dalam aksi militer apa pun di Teluk Persia," kata al-Sudani kepada surat kabar Italia, Corriere della Sera.
Baca juga: Sebanyak 22 negara berunding amankan Selat Hormuz
Pada 19 Maret, enam negara -- Inggris, Prancis, Jerman, Italia, Belanda, dan Jepang -- mengumumkan "kesiapan mereka untuk berkontribusi pada upaya yang tepat untuk memastikan jalur aman melalui" Selat Hormuz.
Beberapa negara lain kemudian ikut bergabung dalam pernyataan tersebut.
Pada 28 Februari, AS dan Israel melancarkan serangan terhadap target di Iran, termasuk di Teheran, yang menyebabkan kerusakan dan korban sipil. Iran merespons dengan menyerang wilayah Israel dan fasilitas militer AS di Timur Tengah.
Sumber: Sputnik/RIA Novosti
Baca juga: Iran mengancam akan membalas jika fasilitas energinya diserang Amerika
Baca juga: Pangkalan Inggris dibuka untuk AS, ketegangan Selat Hormuz memanas
Baca juga: Trump tolak gencatan senjata perang AS-Israel dengan Iran
Pewarta : Cindy Frishanti Octavia
Editor:
Abdul Hakim
COPYRIGHT © ANTARA 2026