Mataram (ANTARA) - Lesatan waktu Ramadhan terasa kian menggesa, ketika tetiba terasa sudah pun beranjak Syawal. Apakah lantaran dimensi siklus manusia kian padat dan bejibun ataukah memang putarannya sebegitu berlangsung mengalami percepatan ritme? Baru saja Ramadhan, kini telah berada pada titik Syawal. Tentu, sekon yang berputar tetap sama saja takarannya, tetapi ritme siklus yang menggesa tersebut, termakna sebegitu lekasnya. Tarawih, tadarusan, ngabuburit kulineran, kajian, sahuran, bederma sosial, berzakat-infak, hingga opsi iktikaf berpadu pada suatu siklus kepatuhan sebagai hamba atas keagungan anjuran serta perintah Tuhan.
Hari raya dari historisnya, semula hura-hura tanpa batas menjadi refleksi kemenangan spiritual jiwa. Melalui petunjuk dalam bentuk Idul Fitri. Menerima perbedaan hermeneutika hilal-hisab dengan kearifan bahwa perbedaan dengan hujjah yang mendasar sebagaimana perbedaan dari para mazhab yang dipermaklumkan. Sepanjang terdapat dalil yang melandasinya. Ringkasnya, umat berlebaran. Antusiasme bertakbiran dengan segala varian yang tumpah ruah.
Saat pulang khidmat menjenguk mertua dan orangtua, saya mendapat kesempatan menyaksi deretan karnaval takbiran diperjalanan. Beberapa titik kumpul takbiran tumpah ruah. Miniatur usungan yang disusun dari medio Ramadhan memiliki makna mendalam. Dengan ekspresi para muda-mudi meluapkan kegembiraan atas tibanya lebaran. Setelah tak sedikit menyedihi pisahnya ramadhan. Gema takbir berbagai genre dan aransemen, menghiasi karnaval jalanan. Irama musikalisasi nasyid dan lantunan merdu hingga cadas mendegup kencang dengan buncahan kilatan warna kembang api yang indah di langit-langit angkasa. Ekspresi piawai dalam berpawai dengan segenap ornamen luapan pemaknaan. Semuanya bergembira.
Kita memakna lebaran dalam sekuel kilasan keadaan dengan premis-premis pelega yang terkadang bagi sebagian orang membutuhkan hening dalam kebisingan. Kadang pula dengan suasana penuh keramaian sebagai khazanah Ramadhan beridul fitri. Diantaranya sebagai berikut: pertama, Konstanta Permaafan. Agregat permaafan dengan determinan sikap kerendahhatian yang bertulus pada momentum lebaran Idul Fitri. Selain meminta maaf juga memberi maaf, konstanta maaf. Jika lazimnya yang terjadi memohon maaf, tetapi untuk menuju titik konstanta permaafan, diperlukan pemberian maaf. Maka titik temunya adalah saling memaafkan. Boleh jadi yang meminta maaf, belum tentu lebih bersalah dari yang memberi maaf ataupun sebaliknya. Rasulullah bersabda: "Tidaklah seseorang memaafkan, kecuali Allah menambah kemuliaan baginya" (H.R. Muslim).
Kedua, Sirkulasi Perekonomian. Aspek sirkulasi perekonomian selama Ramadhan sebagai terapan sosial dan ritual yang sebangun pada potensi kekhaniefan yang ada pada tiap diri manusia. Membuncah pada kelegaan bertaut resiprokal. Kita bisa pilah semisal, Minggu pertama hingga minggu ketiga sirkulasi perekonomian seputar kuliner mendominasi. Sedangkan pada Minggu terakhir Ramadhan telah beralih pada kebutuhan Hampers, Parsel, dan barang-barang Tekstil. Kebijakan apa yang disebut sebagai Tunjangan Hari Raya turut andil memenuhi sirkulasi yang berdampak. Nyaris semua ingin baru. Belum lagi kebutuhan sosial dan transportasi permudikan. Rezeki yang memberkah. Dalam Al-Qur'an, rezeki ditera sebanyak 112 kali pada 41 surat dan 92 ayat. Termasuk saat Ramadhan, terasa berdampak nyata bagi sirkulasi perekonomian.
Ketiga, Siklus Ziarah. Tradisi berziarah dengan mendatangi makam sebelum Ramadhan atau setelah lebaran, mengakibatkan para peziarah makam ramai dengan membeli kebutuhan kembang berbagai rupa dan mengunjungi sanak saudara keluarga yang lebih dahulu tiada. Secara substansi mengingatkan kepada para peziarah bahwa kematian pasti nyata. "Setiap yang bernyawa pasti akan mati" (Q.S. Al-Anbiya: 35). Ziarah makam menunjukkan adanya refleksi sekaligus semacam wisata ruhiyah yang lazim tampak saat Ramadhan dan saat berlebaran. Refleksi pulang menuju fitrah.
Singkatnya, pulang sebagai pengejawantahan yang menyegarkan. Puasa Ramadhan melatih kebiasaan untuk senantiasa prima pada keluhuran. Medium rehat yang baik untuk mendetoks segala yang berlebihan, sekaligus pada sisi lain memenuhi yang berkekurangan. Rehat sejenak dari siklus organ tubuh yang padat, rehat dari urusan dunia untuk bertafakkur jeda, rehat pengingat kesetaraan dan kepedulian pada sesama manusia. Mendapatkan ketenangan beribadah, kenyamanan berinteraksi, serta kesungguhan untuk berempati sosial.
Kini bulan telah beringsut-ingsut Syawal. Bulan kegembiraan untuk saling berkelegaan. Bulan penanda bahwa telah pernah ada secara komunal berpuasa sebulan penuh, untuk menahan sejenak ego kebebasan dari anjuran yang diperintahkan. Berpuasa untuk patuh sebagai hamba kepada Sang Khalik. Berpuasa untuk kesehatan diri hingga berpuasa untuk memacu spirit kesetimbangan bahwa hidup adalah resiprokal empati.
Ketika telapak tangkup menjura membahana ke seantero interaksi, saat dimana petanda lebaran membathin ke hati. Mari saling memaafkan, ketika ampunan Tuhan tak terbilang dari jumlah dan ranah. Maka darinya kita berpasrah, setelah relationship kemanusiaan kita saling melega. Alhamdulillah Ramadhan, bismillah Syawal. Seperti pada lagu lawas populer bertajuk Hari Lebaran ciptaan Ismail Marzuki (1954) yang pada lirik baitnya menyatakan: "Minalaidin walfaidzin// maafkan lahir dan bathin// selamat para pemimpin// rakyatnya makmur terjamin".
Pulang dari pijakan Ramadhan terasa bermakna untuk bertumpu Syawal. Kembali pada suasana bersih dan menyegar. Tahniah wafitrah. •
*) Penulis adalah Kolumnis
COPYRIGHT © ANTARA 2026