"Polemik kebijakan pemerintah, isu kenaikan bahan bakar minyak (BBM), hingga berbagai persoalan nasional lainnya, seluruh personel untuk lebih peka dan responsif dalam membaca situasi,”
Lombok Tengah (ANTARA) - Polres Lombok Tengah, Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) menekankan kepada personel untuk lebih peka terhadap isu-isu sensitif yang menjadi perhatian publik dampak situasi global saat ini.
"Polemik kebijakan pemerintah, isu kenaikan bahan bakar minyak (BBM), hingga berbagai persoalan nasional lainnya, seluruh personel untuk lebih peka dan responsif dalam membaca situasi,” kata Kapolres Lombok Tengah AKBP Eko Yusmiarto saat apel Kontingensi Aman Nusa I Rinjani 2026 di Lapangan Apel Mapolres di Lombok Tengah, Senin.
Ia mengatakan perkembangan situasi global saat ini, yang ditandai konflik geopolitik serta ketidakpastian ekonomi, turut memberikan pengaruh signifikan terhadap stabilitas sosial dan ekonomi di dalam negeri.
Selain itu, arus informasi yang bergerak sangat cepat melalui media digital dinilai turut mempengaruhi persepsi dan pola pikir masyarakat, yang pada akhirnya berdampak langsung pada situasi kamtibmas.
“Pergeseran isu dari tingkat nasional menuju isu lokal yang lebih spesifik dan emosional berpotensi memicu gangguan kamtibmas apabila tidak diantisipasi dan dikelola dengan baik," katanya.
Pengalaman dari berbagai kejadian sebelumnya, khususnya dalam pengamanan aksi unjuk rasa yang berujung pada perusakan fasilitas umum, menjadi perhatian serius jajaran kepolisian agar setiap potensi kerawanan dapat diantisipasi secara profesional, cepat, tepat, dan terukur.
Ia menekankan bahwa ancaman kamtibmas ke depan tidak lagi semata berkaitan dengan tindak kriminalitas, tetapi juga menyangkut pengelolaan opini publik serta respons terhadap isu-isu strategis yang berkembang di masyarakat.
"Seluruh personel Polres Lombok Tengah diminta tetap menjaga soliditas internal tanpa adanya ego sektoral, bergerak dalam satu narasi, satu komando dan satu tujuan," katanya.
Selain itu, personel diminta memperkuat sabuk pengamanan markas komando dan asrama Polri, meningkatkan kemampuan deteksi dini serta respons cepat terhadap setiap isu yang berkembang.
Pendekatan dialogis juga menjadi salah satu penekanan utama, dengan membuka ruang komunikasi dan silaturahmi bersama tokoh masyarakat, tokoh agama, tokoh adat, akademisi, serta tokoh pemuda guna meredam potensi konflik sosial.
Dalam pengamanan aksi unjuk rasa, personel diinstruksikan untuk mengedepankan pendekatan humanis, menghindari tindakan represif, serta menampilkan sikap empati dan tidak konfrontatif.
“Unjuk rasa bukan ancaman, tetapi indikator demokrasi. Oleh karena itu, crowd management harus dilakukan secara dialogis dan humanis,” katanya.
Keberhasilan tugas kepolisian, lanjutnya, tidak hanya diukur dari kondusif atau tidaknya situasi, tetapi juga dari bagaimana masyarakat menilai dan merasakan kehadiran Polri sebagai pelindung, pengayom, dan pelayan yang humanis.
"Dengan kesiapan, soliditas, dan dedikasi yang tinggi, seluruh personel diyakini mampu menghadapi setiap dinamika kamtibmas demi menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat," katanya.
Pewarta : Akhyar Rosidi
Editor:
Agus Setiawan
COPYRIGHT © ANTARA 2026