"Memang ada banyak teknologi, salah satunya itu CSA. Ini yang sedang kita dorong bagaimana petani menerapkan teknik budidaya seperti itu,"
Mataram (ANTARA) - Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) mendorong penerapan budidaya pertanian dengan teknologi climate smart agriculture (CSA) atau pertanian cerdas iklim dalam menghadapi dampak perubahan iklim (el nino) tahun ini.
"Memang ada banyak teknologi, salah satunya itu CSA. Ini yang sedang kita dorong bagaimana petani menerapkan teknik budidaya seperti itu," kata Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan NTB, Mirza Amir di Mataram, Senin.
Ia menegaskan teknologi ini diarahkan pada tiga aspek utama, yakni peningkatan produktivitas tanaman, ketahanan terhadap perubahan iklim dan serangan penyakit, serta keberlanjutan lingkungan melalui pengurangan emisi gas rumah kaca.
"Implementasinya di lapangan antara lain melalui penggunaan air secara hemat dengan sistem "macak-macak", pemupukan berimbang berbasis uji tanah, serta penggunaan benih unggul," ujarnya.
Selain itu, dalam menghadapi perubahan ini, pihaknya juga mendorong petani memanfaatkan varietas padi adaptif untuk mengantisipasi potensi kekeringan akibat musim kemarau tahun ini. Termasuk, memperkuat koordinasi dengan BMKG.
"Pemanfaatan varietas padi adaptif ini krusial agar produksi pertanian tetap terjaga meskipun menghadapi musim kemarau. Jadi, mana varietas yang tahan terhadap kemarau itu yang kita anjurkan selain tanaman yang berumur pendek," terangnya.
Disamping itu lanjut dia, pihaknya juga mendorong upaya mengoptimalkan pengelolaan sumber air. Upaya ini mencakup irigasi, pompanisasi, dan perpipaan di berbagai sentra produksi.
"Terkait pompanisasi ini, Kementerian Pertanian sudah mengumpulkan seluruh bupati/wali kota untuk memperkuat mitigasi. Apa hasilnya kita belum tahu, tapi kalau bicara usulan pompa sudah kita usulkan ke pemerintah pusat," katanya.
Ia menambahkan peran petugas di lapangan seperti Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL), pengawas benih, hingga petugas pengendali organisme pengganggu tumbuhan (OPT) akan terus diperkuat.
Mereka bertugas mendeteksi dini serangan hama, penyakit, hingga potensi dampak bencana alam terhadap tanaman.
"Pendampingan budidaya melalui penerapan good agriculture practices menjadi kunci agar produktivitas petani tetap optimal," ucapnya.
Menurut dia, untuk tahun ini pihaknya menargetkan produksi gabah kering giling (GKG) di NTB mencapai 1,460 juta ton.
"Itu target kita dan kita optimis angka itu bisa tercapai meski ada el nino dengan beberapa strategi yang kita lakukan," tandas Mirza.
Pewarta : Nur Imansyah
Editor:
Agus Setiawan
COPYRIGHT © ANTARA 2026