Jakarta (ANTARA) - Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat menilai krisis rob di Kecamatan Sayung, Kabupaten Demak, Jawa Tengah, merupakan bagian dari krisis pesisir Pantai Utara (Pantura) Jawa yang harus ditangani sebagai isu nasional dengan langkah terukur dan berkelanjutan.

“Yang terjadi di Sayung, Demak, bukan lagi sekadar banjir rob, melainkan krisis struktural yang menyebabkan hilangnya daratan dan ruang hidup masyarakat secara perlahan,” kata Lestari dalam keterangan tertulis di Jakarta, Selasa.

Ia menegaskan fenomena tersebut tidak berdiri sendiri, melainkan terkait perubahan garis pantai di Pantura yang didominasi abrasi. Data Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mencatat 65,8 persen garis pantai Pantura mengalami erosi sepanjang 2000–2024, berdasarkan analisis citra satelit Sentinel.

Kondisi ini dinilai tidak lazim karena terjadi di kawasan delta yang seharusnya menjadi wilayah sedimentasi. Sejumlah faktor seperti perubahan aliran sungai, pembangunan infrastruktur, hingga berkurangnya suplai sedimen dari hulu disebut memperparah abrasi.

Dampak serupa terjadi di berbagai wilayah Pantura, antara lain hilangnya daratan di Tanjung Pontang, Serang, serta intrusi air laut di Bekasi, Subang, dan Indramayu yang merendam tambak dan infrastruktur.

Baca juga: Riprap dan masa depan pesisir Ampenan

Di Demak, air laut dilaporkan telah masuk hingga 5–6 kilometer ke daratan, menyebabkan sawah dan permukiman terendam. Sepanjang 2026, sekitar 6.600 hektare wilayah terdampak rob dan genangan permanen, meningkat tajam dari sekitar 1.200 hektare pada tahun sebelumnya.

Lestari menyebut sekitar 15.000 kepala keluarga di 20 desa terdampak langsung, dengan sebagian besar kehilangan lahan pertanian dan terpaksa beralih ke sektor informal atau tambak tanpa kesiapan.

“Transisi ini terjadi secara paksa, tanpa kesiapan dan tanpa dukungan sistemik,” ujarnya.

Ia juga menyoroti kondisi sosial ekonomi warga yang semakin tertekan akibat hilangnya sumber penghidupan. “Mereka seperti dibiarkan menghadapi kondisi itu sendiri,” katanya.

Baca juga: Cuaca ekstrem, Pantai Loang Baloq Mataram dipasangi tanggul batu

Menurut Lestari, penanganan rob tidak cukup hanya dengan pembangunan fisik seperti tanggul, tetapi harus disertai kebijakan jangka panjang yang mencakup pemulihan ekosistem pesisir, perlindungan sosial, serta program transisi ekonomi bagi masyarakat terdampak.

“Yang hilang di Sayung bukan hanya tanah. Yang hilang adalah ruang hidup, kepastian, dan masa depan,” ujarnya.

 

 

 

 



Pewarta :
Editor: I Komang Suparta
COPYRIGHT © ANTARA 2026