Mataram (ANTARA) - Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) Kota Mataram, Provinsi Nusa Tenggara Barat, menyebutkan keberadaan iklan rokok di kota itu menjadi salah satu kendala untuk meningkatkan status Mataram menjadi Kota Layak Anak (KLA) dengan peringkat Nindya.

"Keberadaan iklan rokok harus menjadi perhatian pemerintah daerah, sebab mempengaruhi penilaian KLA sehingga menyebabkan nilai Kota Mataram turun," kata Kepala D3A Kota Mataram H Zuhhad di Mataram, Jumat.

Hal tersebut disampaikan menyikapi masih maraknya iklan rokok di sejumlah sudut Kota Mataram, sehingga peringkat KLA Kota Mataram masih berada pada peringkat Madya.

Terkait dengan itu, lanjut dia, pemasangan iklan rokok harus menjadi perhatian bersama dan yang penting jangan dipasang di tempat umum, jalan utama, apalagi di dekat sekolah.

Untuk itu pihaknya akan melakukan koordinasi terkait iklan rokok dengan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) lainnya, salah satunya Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP).

Baca juga: Iklan rokok masih jadi tantangan wujudkan KLA di Mataram

Selain itu koordinasi yang dilakukan juga untuk menertibkan iklan rokok yang menyalahi aturan dengan OPD lain, misalnya Badan Keuangan Daerah (BKD), ketika mereka terbukti tidak bayar pajak, Dinas PUPR, dan Satpol PP ketika mereka terbukti melanggar ketentuan pemasangan titik lokasi.

Sementara pemenuhan kriteria KLA seperti lainnya, menurut dia, sudah terpenuhi seperti fasilitas disabilitas di ruang-ruang publik saat ini sudah tersedia. Salah satunya di Taman Sangkareang dan ruang terbuka hijau lainnya.

"Bahkan di objek wisata Ampenan juga sudah lengkap, yang menjadi perhatian kami saat ini hanya iklan rokok," katanya.

Baca juga: Masyarakat NTB diimbau tak tergiur iklan rokok nasional

Untuk peningkatan status KLA di Kota Mataram tahun ini, lanjut dia, masih menunggu penilaian dari pemerintah pusat, yang jadwal resminya belum ditentukan.

"Hingga saat ini, kami masih menunggu penilaian dari pemerintah pusat," kata Zuhhad.



Pewarta :
Editor: I Komang Suparta
COPYRIGHT © ANTARA 2026