Mataram (ANTARA) - Belasan guru Sekolah Menengah Kejuruan Negeri (SMKN) 7 Mataram, Senin, melaporkan kepala sekolah H. Mugni ke DPRD dan Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Dikpora) setempat karena dianggap arogan.
Belasan guru tersebut melaporkan kepala sekolah melalui selembar surat yang berisi tentang kondisi manajemen sekolah yang dinilai amburadul yang menyebabkan kondisi sekolah tidak kondusif, bahkan proses belajar mengajar berjalan tidak efektif.
"Kami sudah mengirim surat tentang kondisi sekolah yang sebenarnya kepada Ketua DPRD dan Dikpora Kota Mataram. Surat itu dilampiri tanda tangan para guru yang ingin kepala sekolah diganti," kata Salappudin mewakili belasan guru SMKN 7 Mataram.
Menurut dia kepala sekolah tidak mendukung proses belajar mengajar. Selama lima tahun berjalan beberapa jurusan seperti perikanan hanya memiliki beberapa akuarium praktik tanpa media lainnya.
"Demikian juga dengan jurusan busana butik hanya memiliki belasan mesin jahit yang sering rusak. Jurusan lainnya yakni teknologi alat berat tidak memiliki satu pun alat atau media belajar, bahkan satu obeng pun tidak punya," katanya.
Ia mengatakan apalagi jurusan pertambangan tidak memiliki satu alat pun sebagai media belajar, bahkan yang lebih parah jurusan teknik jaringan komputer tidak memiliki komputer karena 10 unit komputer untuk praktik sudah dicuri. "Praktis siswa hanya belajar teori," katanya.
Kepala sekolah juga mengaku sering mengeluarkan dana operasional sekolah dari kantong pribadi, padahal wakil kepala sekolah, ketua program dan guru tidak tetap sering mengeluarkan uang pribadi untuk menunjang kelancaran tugas.
Kepala sekolah dan bendahara juga diduga banyak membuat laporan fiktif dalam hal pembelanjaan untuk keperluan sekolah.
"Dalam surat laporan itu kami juga melaporkan tentang ancaman kepala sekolah terhadap para guru yang tidak sejalan dengan kebijakannya. Ada juga guru yang pernah diancam dengan parang," ujarnya.
Bantah
Kepala SMKN 7 Mataram H. Mugni ketika dikonfirmasi membantah tidak ada fasilitas yang mendukung proses belajar mengajar. Pihaknya sudah menyediakan berbagai fasilitas untuk menunjang kelancaran proses belajar mengajar di semua jurusan.
Ia mencontohkan jurusan tata busana sudah memiliki 26 unit mesin jahit, jurusan perikanan yang dulunya menggunakan akuarium mini sekarang sudah ditingkatkan dengan akuarium "fiber glass" dengan diameter yang besar serta menambah kolam budidaya ikan untuk praktik.
Menurut dia untuk teknologi alat berat, pihaknya sudah menjalin kerja sama dengan perusahaan internasional yakni PT. Trakindo. Hanya jurusan pertambangan yang masih menghadapi kendala dalam proses belajar mengajarnya.
"Kendala yang masih dihadapi antara lain sekolah ini baru beberapa tahun didirikan, apalagi sebagian besar siswa berasal dari kelurga ekonomi kurang mampu sehingga mempengaruhi biaya operasional sekolah," ujarnya.
Ia mengaku kalau SKMN 7 Mataram mengalami defisit anggaran sebesar Rp70 juta pertahun meski ada bantuan dana rutin dari pemerintah dan komite.
"Minimnya dana operasional itu berpengaruh terhadap kelancaran gaji guru tidak tetap," katanya.
Menurut dia pihaknya mencoba mencari jalan keluar dengan cara mengkomunikasikan dengan guru tidak tetap yang mendapatkan tunjangan dari pemerintah kota sebanyak 13 orang untuk membagi separuh tunjangan itu kepada tujuh orang guru tidak tetap yang tidak memperoleh tunjangan.
"Kami sudah komunikasikan dengan para guru penerima tunjangan. Mereka semua mengikhlaskan, dan tidak ada guru yang dipaksa untuk mengikuti kemauan kepala sekolah. Apalagi sampai diancam," kata Mugni.
Informasi yang diperoleh dari salah seorang staf bidang pendidikan menengah (dikmen) Dikpora Kota Mataram, sebanyak enam orang perwakilan guru SMKN 7 Mataram akan dipanggil untuk memberikan keterangan terkait masalah yang terjadi di sekolah tersebut.(*)
Pewarta :
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026