"Saiyo Sakato", sajian drama keluarga Minang nan "nendang"

id Saiyo sakato, goplay, gina s noer, nirina zubir, cut mini

"Saiyo Sakato", sajian drama keluarga Minang nan "nendang"

Poster serial drama "Saiyo Sakato" (2020) yang tayang di GoPlay. (ANTARA/HO/GoPlay)

Jakarta (ANTARA) - "Saiyo Sakato", yang dalam Bahasa Minang berarti "seiya sekata" merupakan drama keluarga yang berfokus pada isu poligami yang diracik dengan pendekatan nan ringan dengan unsur komedi yang renyah.

Serial drama garapan sineas Gina S Noer yang hadir di layanan streaming video berbayar GoPlay itu terdiri dari 10 episode, dan ANTARA berkesempatan untuk menyaksikan dua episode pertama dari serial ini beberapa waktu lalu.

"Saiyo Sakato" menceritakan Mar (Cut Mini) dan Nita (Nirina Zubir) yang mendapati kenyataan bahwa mereka ternyata berbagi suami yang sama, yaitu Da Zul (Lukman Sardi). Kenyataan pahit tersebut mereka dapatkan tak lama setelah wafatnya Da Zul, sang pemilik restoran Minang.

Tidak hanya berbagi suami, mereka juga mengelola restoran Minang dengan nama yang sama, Saiyo Sakato. Tak hanya itu, Da Zul mewariskan buku resep baik kepada Mar maupun Nita.

Konflik segera muncul saat Mar tidak menerima tindakan Nita yang nekat membuka usaha restoran masakan Minang bernama serupa, persis di seberang restoran miliknya.

Sajian paket komplit
Nirina Zubir dan Cut Mini berpose saat jumpa pers dan penayangan dua episode pertama "Saiyo Sakato" di Jakarta, Jumat (24/1/2020). (ANTARA/Arnidhya Nur Zhafira)


Membuat film drama yang berpusat pada keluarga bukanlah hal yang baru bagi Gina S Noer. Mulai dari "Keluarga Cemara" (2018), "Dua Garis Biru" (2019), hingga serial "Saiyo Sakato" (2020), semuanya adalah drama mengenai dinamika dalam sebuah keluarga.

Gina sendiri dikenal mampu menyuguhkan kisah keluarga secara hangat, walaupun memiliki isu sensitif yang diangkat. Pun dengan "Saiyo Sakato" yang mengangkat isu poligami yang melibatkan dua keluarga dari satu lelaki yang sama.

Di tangannya, didukung dengan kolaborasi sineas-sineas muda lainnya seperti Aditya Ahmad sebagai sutradara, bisa mengangkat isu yang cukup "pedas" ini dengan pendekatan yang ringan, tanpa lupa mengajak penonton untuk peduli dengan isu tersebut.

Gina maupun showrunner yang terlibat dalam serial tersebut sadar bahwa topik poligami merupakan hal yang jarang dibicarakan secara gamblang, walaupun sebenarnya isu tersebut dekat di kehidupan sekitar kita.

Dengan membalut kisah poligami yang sarat akan pandangan negatif bersama dengan pendekatan kultur Minang yang identik dengan watak tegasnya, rupanya menjadi paduan rasa yang unik bagi penonton.

Ditambah dengan gaya penceritaan yang mengajak penonton untuk berinteraksi secara tak langsung, selain menyegarkan dari sisi pengalaman, juga menggugah penonton untuk lebih dekat dengan tiap karakter dan kisahnya.

Drama keluarga ini juga dibumbui dengan aksi dan guyonan "gurih" yang tidak mengganggu jalannya cerita, karena memiliki porsi yang pas dan tidak berlebihan, seakan-akan kejutan itu hadir secara natural, dan melengkapi sajian audio-visual ini.

Serial rasa film

Para pemain dan showrunner yang terlibat dalam "Saiyo Sakato" sepakat bahwa perlakuan serial ini tak jauh beda dari pembuatan film pada umumnya.

Hal tersebut ditunjukan mulai dari rapinya jahitan adegan demi adegan dengan pengambilan gambar yang memanjakan mata, hingga bagaimana kepiawaian para lakonnya berakting di kisah berlatar keluarga Minang ini.

Penokohan yang kuat - utamanya dari Cut Mini (Mar) dan Nirina Zubir (Nita) yang diceritakan sebagai dua istri sekaligus rival, mampu mengundang tawa sekaligus perspektif baru bagi audiens dari kedua tokoh tersebut.

Mulai bagaimana sedih dan kesalnya Mar saat tahu mendiang suaminya memiliki istri kedua, hingga perasaan Nita si istri kedua dengan satu anak kecil dan harus menerima julukan "pelakor" (perebut laki orang) di lingkungan sekitarnya.

Kemampuan akting para pemain utama sekaligus pendukung di masing-masing perannya, semakin membuat spektrum emosi yang beragam dan mengaduk-aduk perasaan dan kesabaran penonton.

Dari segi teknis, serial ini memiliki pendekatan dengan palet warna yang cukup terang dan cerah - yang secara tak langsung juga ikut membuat visual yang ringan, cantik, dan menggugah nafsu makan pada shot-shot masakan Padang yang disematkan.

Secara keseluruhan, dari dua episode awal "Saiyo Sakato" ini, kesan yang ditimbulkan adalah cukup menjadi tontonan serial yang menarik dan segar.

Meskipun secara teknis cerita ini akan menjadi lebih panjang dari sebuah film, tapi dengan penyampaian dan pendekatan kultur serta humor yang lekat di kehidupan masyarakat sehari-hari, bisa membuat penonton tergugah untuk batambuah ciek* hingga episode terakhir.

"Saiyo Sakato" yang dibumbui dengan makanan dan budaya Minang yang kental ini dapat disaksikan di GoPlay pada hari Kamis setiap minggunya untuk episode baru.

* Batambuah ciek; adalah Bahasa Minang dari "tambah lagi".
 
Pewarta :
Editor: Riza Fahriza
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar