Busuk Leher Serang Padi di Sumbawa Barat
Selasa, 24 Maret 2015 8:46 WIB
Sumbawa Barat (Antara NTB) - Puluhan hektare tanaman padi di Kelurahan Sampir, Kabupaten Sumbawa Barat, Nusa Tenggara Barat, terserang penyakit busuk leher.
Darmansyah, salah seorang petani yang ditemui di Taliwang, Sumbawa Barat, Selasa, mengatakan serangan penyakit tersebut sulit dideteksi karena umumnya tanaman padi yang terserang tidak memperlihatkan gejala seperti penyakit lainnya.
"Bupati menginginkan setiap desa gotong royong untuk mempercepat perbaikan irigasi, baik yang tersumbat, sedimentasi dan rusak," katanya.
Penyakit yang disebabkanbakteri pyricularia grisea itu menyerang tanaman padi pada fase awal berbuah dan menyebabkan bulir padi menjadi kopong (hampa).
Yang membuat petani miris, penyakit tersebut menyebar sangat cepat. Saat ini hampir seluruh lahan sawah ditanami padi di wilayah Lang Sesat, Kelurahan Sampir, Taliwang, sudah terserang. Padahal wilayah itu sudah memasuki masa panen.
"Dengan adanya serangan penyakit ini, panen yang biasanya mencapai 7 hingga 8 ton per hektare, sekarang hanya sekitar 5 sampai 6 ton, bahkan kurang," ujar Zainuddin, petani lainnya.
Wakil Ketua DPRD Sumbawa Barat Iwan Panjidinata, yang sempat turun ke Lang Sesat, meminta penyuluh dan pengamat hama penyakit untuk lebih serius bekerja.
Menurut dia serangan penyakit tersebut semestinya bisa diantisipasi jika penyuluh dan pengamat hama penyakit tetap intens turun ke lapangan melakukan pemantauan dan mendampingi petani.
"Saya mendapat laporan dari petani bahwa penyuluh dan pengamat hama panyakit jarang turun. Kasus ini harus menjadi perhatian, karena jika serangan sudah meluas seperti sekarang, tentu sulit ditanggulangi. Apalagi sekarang sudah terlambat, karena sudah memasuki masa panen," katanya.
Selain itu, Iwan juga mendesak Dinas Kehutanan Perkebunan dan Pertanian (Dishutbuntan) dan Badan Ketahanan Pangan Pelaksana Penyuluh Pertanian Perikanan Peternakan dan Kehutanan (BKP5K) Sumbawa Barat, untuk segera melakukan langkah antisipasi karena bukan tidak mungkin serangan penyakit itu telah menyebar ke wilayah lain.
Ia juga mengingatkan dengan dilaksanakannya program Upaya Khusus (Upsus) swasembada pangan melalui penanaman padi jagung dan palawija, target produksi juga ditingkatkan.
"Logikanya, mustahil target produksi tercapai jika faktor penyebab penurunan produksi seperti serangan penyakit ini tidak bisa dihilangkan," kata politisi yang juga Ketua DPC Gerindra Sumbawa Barat.
Sementara itu, Kepala BKP5K Sumbawa Barat Mansyur Sofyan, mengakui adanya serangan penyakit busuk leher (blast),
Penyakit tersebut bisa menyebar dengan cepat melalui perantara air dan angin.
"Jika tidak segera ditangani penyebarannya bisa dengan cepat meluas. Karena itu kami telah menganjurkan petani untuk menggunakan fungisida untuk menghentikan serangan bakteri penyebab penyakit itu," katanya. (*)
Darmansyah, salah seorang petani yang ditemui di Taliwang, Sumbawa Barat, Selasa, mengatakan serangan penyakit tersebut sulit dideteksi karena umumnya tanaman padi yang terserang tidak memperlihatkan gejala seperti penyakit lainnya.
"Bupati menginginkan setiap desa gotong royong untuk mempercepat perbaikan irigasi, baik yang tersumbat, sedimentasi dan rusak," katanya.
Penyakit yang disebabkanbakteri pyricularia grisea itu menyerang tanaman padi pada fase awal berbuah dan menyebabkan bulir padi menjadi kopong (hampa).
Yang membuat petani miris, penyakit tersebut menyebar sangat cepat. Saat ini hampir seluruh lahan sawah ditanami padi di wilayah Lang Sesat, Kelurahan Sampir, Taliwang, sudah terserang. Padahal wilayah itu sudah memasuki masa panen.
"Dengan adanya serangan penyakit ini, panen yang biasanya mencapai 7 hingga 8 ton per hektare, sekarang hanya sekitar 5 sampai 6 ton, bahkan kurang," ujar Zainuddin, petani lainnya.
Wakil Ketua DPRD Sumbawa Barat Iwan Panjidinata, yang sempat turun ke Lang Sesat, meminta penyuluh dan pengamat hama penyakit untuk lebih serius bekerja.
Menurut dia serangan penyakit tersebut semestinya bisa diantisipasi jika penyuluh dan pengamat hama penyakit tetap intens turun ke lapangan melakukan pemantauan dan mendampingi petani.
"Saya mendapat laporan dari petani bahwa penyuluh dan pengamat hama panyakit jarang turun. Kasus ini harus menjadi perhatian, karena jika serangan sudah meluas seperti sekarang, tentu sulit ditanggulangi. Apalagi sekarang sudah terlambat, karena sudah memasuki masa panen," katanya.
Selain itu, Iwan juga mendesak Dinas Kehutanan Perkebunan dan Pertanian (Dishutbuntan) dan Badan Ketahanan Pangan Pelaksana Penyuluh Pertanian Perikanan Peternakan dan Kehutanan (BKP5K) Sumbawa Barat, untuk segera melakukan langkah antisipasi karena bukan tidak mungkin serangan penyakit itu telah menyebar ke wilayah lain.
Ia juga mengingatkan dengan dilaksanakannya program Upaya Khusus (Upsus) swasembada pangan melalui penanaman padi jagung dan palawija, target produksi juga ditingkatkan.
"Logikanya, mustahil target produksi tercapai jika faktor penyebab penurunan produksi seperti serangan penyakit ini tidak bisa dihilangkan," kata politisi yang juga Ketua DPC Gerindra Sumbawa Barat.
Sementara itu, Kepala BKP5K Sumbawa Barat Mansyur Sofyan, mengakui adanya serangan penyakit busuk leher (blast),
Penyakit tersebut bisa menyebar dengan cepat melalui perantara air dan angin.
"Jika tidak segera ditangani penyebarannya bisa dengan cepat meluas. Karena itu kami telah menganjurkan petani untuk menggunakan fungisida untuk menghentikan serangan bakteri penyebab penyakit itu," katanya. (*)
Pewarta : Eriel Zakariah
Editor :
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Kemenkes menargetkan 90 persen anak laki-laki dan perempuan vaksin HPV di 2030
18 November 2025 4:15 WIB
Polda NTB ungkap ada luka bekas benda tumpul pada jasad Brigadir Esco Faska Rely
25 August 2025 17:15 WIB
Kemenkes sebut 70 persen kematian akibat kanker di negara berkembang
13 February 2023 22:36 WIB, 2023
Kakek di Lombok Tengah tebas leher seorang remaja hingga nyaris putus
02 February 2022 12:17 WIB, 2022
Terpopuler - Umum
Lihat Juga
Wow kirab pemuda Nusantara di Lombok dimeriahkan tradisi "nyongkolan"
02 November 2018 4:47 WIB, 2018