Mataram (ANTARA) - Anggota Komisi IV DPRD NTB Abdul Rahim meninjau TK Aisyiyah 7 dan SD 2 Aisyiyah yang terdampak banjir di Lingkungan Banjar, Kelurahan Banjar, Kecamatan Ampenan, Kota Mataram, Senin.
Abdul Rahim mengaku prihatin atas luputnya perhatian pemerintah daerah pada dua sekolah yang berada di bawah satu atap tersebut. Padahal, semua ruangan kelas, mushalla dan halaman sekolah terendam.
"Kenapa saya datang kemari. Ini karena sekolah ini luput dari perhatian pemda. Makanya, saya datang untuk melihat sejauh mana genangan banjir yang membuat sekolah ini terendam hingga kini," ujarnya.
Menurut dia, dari hasil tinjauan lapangan yang dilakukannya, didapati bahwa drainase di sekolah ini tidak ada. Parahnya, sumur resapan yang ada juga tidak berfungsi maksimal. Karena itu, diperlukan normalisasi atas kondisi lingkungan sekolah tersebut.
"Saya akan perjuangkan sumur resapan bisa normal kembali. Tadi saya sudah minta kepada ibu guru agar segera membuat usulan program ke saya untuk di anggarkan di APBD 2026," terang Rahim.
Baca juga: Tragis! Dua korban banjir di Mataram tewas tersengat listrik
Ia meminta agar Dinas PUPR NTB untuk melakukan perbaikan terhadap saluran irigasi yang berada di depan sekolah.
"Minimal harus ada pengerukan secara rutin. Ini saya lihat, saluran irigasi utama malah dangkal akibat banyak sampah yang menggenang," ucap anggota DPRD NTB Dapil V Kabupaten Sumbawa dan Sumbawa Barat ini.
Selain meninjau sekolah, dia juga menyerahkan sejumlah bantuan kepada pihak sekolah.
"Ini sebagai bentuk kepedulian kami terhadap nasib sekolah dan warga yang terdampak banjir," katanya.
Baca juga: Pascabanjir, Jalan dan enam jembatan di Mataram dilaporkan aman
Pihak sekolah pun mengaku mengapresiasi kepedulian anggota DPRD. Pasalnya, sejak Minggu (6/7), halaman, ruang kelas, dan mushalla terendam banjir, sehingga mengganggu aktivitas pendaftaran siswa baru.
"Kita apresiasi, termasuk penyedotan yang dilakukan untuk membuang air, sehingga halaman dan ruang kelas menjadi surut," ujar Imah, perwakilan guru setempat.
Sebelumnya, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) NTB melaporkan sebanyak 7.676 kepala keluarga atau setara 30.681 jiwa terdampak bencana banjir akibat hujan yang melanda Kota Mataram dan daerah sekitarnya.
Baca juga: Bantu korban banjir, Pemkot Mataram dirikan dapur umum
Kepala BPBD NTB Ahmadi mengatakan, ada enam kecamatan di Kota Mataram yang terdampak banjir, yakni Sandubaya, Mataram, Cakranegara, Sekarbela, Selaparang, dan Ampenan.
"Korban luka-luka sebanyak 15 jiwa dan korban mengungsi ada 520 jiwa. Sedangkan, korban meninggal dunia dan korban hilang masih dalam proses pendataan," ujarnya.
Ahmadi menjelaskan, sungai-sungai yang mengalir di Kota Mataram meluap dan merendam pemukiman penduduk akibat hujan intensitas sedang hingga lebat pada Minggu (6/7) mulai pukul 14.00 Wita sampai sore.
"Peristiwa itu menyebabkan puluhan mobil terseret banjir, pohon tumbang, dan tembok keliling tempat pembuangan sampah terpadu (TPST) Sandubaya roboh ke arah jalan.
"Kondisi saat ini sudah kondusif. Tim gabungan bersama saat ini sedang melakukan pembersihan material sisa banjir," katanya.
Baca juga: Ketua DPRD NTB: Stop saling menyalahkan, fokus tangani dampak banjir
Baca juga: Puluhan ton sampah pascabanjir diangkut dari jalan-jalan utama Mataram