Mataram (ANTARA) - Langit Maret menghadirkan sebuah momentum yang jarang terjadi: dua perayaan besar keagamaan hadir hampir bersamaan. Pada 19 Maret umat Hindu merayakan Hari Raya Nyepi, sementara umat Islam bersiap menyambut Idul Fitri yang diperkirakan jatuh pada 21 Maret. Kedekatan waktu ini menempatkan masyarakat pada situasi yang unik, yakni antara kesunyian dan gema takbir.
Perbedaan cara merayakan iman ini bukan sekadar peristiwa kalender. Ia menjadi ujian kedewasaan sosial bagi masyarakat yang hidup dalam keberagaman. Dalam ruang publik yang sama, dua tradisi spiritual yang berbeda harus menemukan cara untuk berjalan berdampingan dengan saling menghormati.
Nyepi dan Idul Fitri membawa pesan spiritual yang berbeda namun saling melengkapi. Nyepi mengajarkan kesunyian, perenungan, dan pengendalian diri melalui Catur Brata Penyepian: tidak menyalakan api, tidak bepergian, tidak bekerja, dan tidak menikmati hiburan.
Sebaliknya, Idul Fitri hadir sebagai puncak kegembiraan setelah sebulan menahan diri, ditandai dengan gema takbir, silaturahmi, dan suasana kemenangan spiritual.
Pertemuan dua tradisi ini terasa nyata di Bali dan di wilayah sekitarnya, termasuk Kota Mataram di Nusa Tenggara Barat. Menjelang Nyepi, masyarakat Hindu menggelar pawai ogoh-ogoh sebagai simbol pembersihan alam dari energi negatif. Pada saat yang sama, umat Islam mempersiapkan malam takbiran yang biasanya diramaikan dengan kegiatan ibadah di masjid dan mushala.
Situasi tersebut menuntut adanya penyesuaian agar kedua perayaan tetap berlangsung khidmat tanpa saling mengganggu. Pemerintah daerah, tokoh agama, serta aparat keamanan mulai merumuskan berbagai langkah kompromi. Takbiran, misalnya, tetap diperbolehkan namun diarahkan lebih banyak dilakukan di masjid atau mushala dengan pembatasan tertentu.
Pendekatan ini menunjukkan bahwa toleransi sering kali lahir dari kesediaan untuk menahan diri. Dalam masyarakat majemuk, kebebasan menjalankan ibadah tidak dapat dilepaskan dari kesadaran untuk menghormati keyakinan orang lain.
Pengalaman masa lalu sebenarnya memberi optimisme. Pada 2004, Nyepi pernah berdekatan dengan Idul Fitri dan kedua perayaan berjalan relatif aman. Hal itu menunjukkan bahwa toleransi di Indonesia bukan sekadar konsep normatif, tetapi telah menjadi praktik sosial yang hidup di tengah masyarakat.
Namun tantangan zaman tidak lagi hanya datang dari perbedaan agama. Di era digital, misinformasi dan provokasi di media sosial sering kali menjadi pemicu ketegangan. Narasi yang keliru dapat menyebar cepat dan menciptakan persepsi yang tidak utuh terhadap sebuah kebijakan atau peristiwa.
Karena itu, literasi sosial menjadi kunci penting. Tokoh agama, pemuda, serta pemerintah daerah perlu aktif membangun komunikasi lintas komunitas agar masyarakat memahami bahwa penyesuaian tertentu bukanlah pembatasan ibadah, melainkan upaya menjaga keharmonisan bersama.
Dalam konteks ini, negara memiliki peran strategis sebagai penjamin keamanan. Aparat tidak hanya menjaga ketertiban, tetapi juga memastikan setiap warga dapat menjalankan ibadahnya tanpa rasa takut. Pengamanan menjelang Nyepi dan Idul Fitri perlu dilakukan secara profesional sekaligus humanis.
Di Bali, misalnya, aparat kepolisian bekerja bersama pecalang atau penjaga adat yang memiliki otoritas sosial di tingkat desa. Kolaborasi antara aparat negara dan lembaga adat tersebut menunjukkan bahwa keamanan dapat dibangun melalui pendekatan komunitas yang kuat.
Namun harmoni sosial pada akhirnya tidak dapat sepenuhnya bergantung pada negara. Penjaga pertama toleransi tetaplah masyarakat itu sendiri. Ketika warga saling memahami tradisi satu sama lain, potensi konflik akan mengecil dengan sendirinya.
Sunyi Nyepi mengajak manusia menenangkan diri dan merenung, sementara takbir Idul Fitri mengajak manusia bersyukur dan saling memaafkan. Jika dua nilai itu dipadukan, masyarakat justru memiliki peluang besar untuk memperkuat persaudaraan.
Momentum Maret 2026 bukan sekadar pertemuan dua hari raya. Ia adalah pengingat bahwa keberagaman Indonesia membutuhkan kesadaran kolektif untuk saling menjaga. Ketika sunyi dan takbir dapat berjalan berdampingan dengan damai, di situlah makna toleransi menemukan bentuknya yang paling nyata.
Baca juga: Tajuk ANTARA NTB - Alarm campak di NTB: Ketika imunisasi melemah
Baca juga: Tajuk ANTARA NTB - Saatnya NTB bertaruh pada ekonomi kreatif
Baca juga: Tajuk ANTARA NTB - Menata ulang strategi pengentasan kemiskinan di NTB
Baca juga: Tajuk ANTARA NTB - Bypass Lembar-Kayangan: Dari logistik ke pertahanan