Mataram (ANTARA) - Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat melalui Badan Riset dan Inovasi Daerah (Brida) membidik status Indikasi Geografis untuk komoditas kakao dan kurma yang dikembangkan sejumlah petani lokal di Kabupaten Lombok Utara.

"Ini semua sedang berproses. Ada dua yang kami urus betul terkait Indikasi Geografis, yaitu kakao dan kurma," kata Kepala Brida NTB I Gede Putu Aryadi di Mataram, Rabu.

Ia menjelaskan kedua komoditas tersebut harus mengantongi Sertifikat Varietas Unggul Lokal terlebih dahulu dari Kementerian Pertanian sebelum akhirnya mendapatkan status Indikasi Geografis.

Brida NTB menggandeng Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) guna melakukan pengujian terhadap varietas kakao dan kurma. Proses pengujian melibatkan lima ahli guna memastikan keaslian dan keunggulan varietas.

"Ahli melakukan pengujian apakah ada yang sama atau tidak. Kalau ada yang sama, gugur," ucap dia.

Ia menjelaskan proses pengujian varietas membutuhkan kehati-hatian agar tidak terjadi klaim dari pihak lain terhadap varietas yang dikembangkan di Lombok Utara tersebut.

Apabila suatu varietas telah lebih dulu didaftarkan oleh pihak lain, maka peluang untuk mendapatkan pengakuan resmi Indikasi Geografis bakal tertutup rapat.

"Kami menargetkan tahun ini terbit Sertifikat Varietas Unggul Lokal. Untuk mendapatkan sertifikat itu butuh proses yang lumayan, karena harus diuji," katanya.

Kabupaten Lombok Utara salah satu sentra terbesar penghasil cokelat di Nusa Tenggara Barat. Lokasi budi daya kakao di Desa Genggelang, Kecamatan Gangga.

Baca juga: Kakao, dari biji ke martabat

Varietas kakao unggul dari daerah tersebut adalah Ijo Kajuman yang menghasilkan buah dan biji berukuran besar, tahan penyakit, memiliki tingkat produksi yang tinggi.

Petani setempat kemudian menciptakan varietas unggul baru bernama Beneng Jomot hasil persilangan Ijo Kajuman dan Mama Murwas. Varietas Beneng Jomot memiliki warna merah pekat yang semakin mencolok saat matang dan ukuran buah lebih besar daripada Ijo Kajuman.

Baca juga: Tanam 2.000 kakao, Gubernur Iqbal gas hilirisasi ekonomi desa

Kurma komoditas unggulan baru yang dikembangkan petani di Lombok Utara pada 2016. Budi daya kurma dilakukan Yayasan Ukhuwah Datu bersama warga lokal.

Pada 2023, kurma Lombok Utara meraih peringkat ketujuh dalam pameran kurma internasional di Abu Dhabi. Varietas kurma tersebut diberi nama Kumari atau akronim dari Kurma Rinjani.