Kasus dr Soeko meninggal saat rusuh persulit permintaan dokter ke Papua
Kamis, 26 September 2019 22:17 WIB
Suasana jenazah dr Soeko Marsetiyo di semayamkan di Kantor Dinas Kesehatan Provinsi Papua (ANTARA News Papua/Musa Abubar)
Jayapura (ANTARA) - Kepala Dinas Kesehatan (Kadinkes) Provinsi Papua, drg Aloysius Giyai mengaku menyesal dan merasa kekurangan atas wafatnya dr Soeko Marsetiyo, karena kasus itu akan mempersulit permintaan dokter ke daerahnya
Dokter Soeko Marsetiyo, yang meninggal dunia setelah ditemukan dalam keadaan terluka dalam demonstrasi berujung anarkis di Wamena, Kabupaten Jayawijaya, 23 September 2019.
"Saya sebagai seorang dokter orang asli Papua, sangat saya sesalkan dan saya sedih, kenapa seorang pelayan, dokter yang hatinya mulia mau mengabdikan diri di daerah-daerah yang cukup terpencil dalam waktu cukup lama dan usianya juga sudah 53 tahun, kenapa harus pergi dengan cara-cara seperti begini," jelas Aloysius di Jayapura, Kamis malam.
Aloysius menegaskan dirinya selaku Kepala Dinas Kesehatan Papua, mengutuk keras pelaku-pelaku yang menghilangkan nyawa dr Soeko Marsetiyo. Kasus itu akan mempersulit permintaan tenaga dokter ke Papua terutama di wilayah pedalaman.
"Dengan kepergian dr Soeko Marsetiyo, hari ini saya merasa kekurangan, susah cari tenaga dokter kenapa yang ada diperlakukan seperti begini, coba demo menyampaikan aspirasi dengan damai," ujarnya.
Aloysisus berharap jangan ada lagi aksi demonstrasi yang berujung menghilangkan nyawa orang lain, apalagi seorang dokter yang melayani kesehatan masyarakat di wilayah pedalaman Papua.
"Sekali lagi saya sesalkan, oleh karena itu saya minta ada jaminan dan perlindungan kepada seluruh tenaga kesehatan baik tenaga dokter, tenaga bidan, perawat, dan tenaga penunjang lainnya, kedepan saya tidak mau lagi dengar model seperti begini," tambahnya.
Mantan Direktur RSUD Abepura itu menyebutkan, tenaga kesehatan itu tenaga yang dilindungi dibawah hukum internasional demi penyelamatan sesama yang lain.
Baca juga: Jenazah dr Soeko dievakuasi dari Wamena ke Jayapura
Ia berharap kedepan ada pengamanan yang ekstra ketat oleh pemerintah daerah, tokoh adat, tokoh agama, tokoh pemuda, kepala suku, dan ondoafi agar supaya menjaga dokter yang tenaga dokter, perawat, dan bidan yang ditempatkan dengan baik.
"Kalau seperti begini yang rugi kita semua, tidak akan ada lagi petugas yang datang bertugas lagi di Papua apalagi di daerah pedalaman, dampak itu harus dipertimbangkan," katanya.
Mantan Kepala Puskesmas Koya itu berulang kali mengaku sedih dan kesal dengan wafatnya dr Soeko Marsetiyo, karena jarang ada dokter yang mempunyai jiwa pengabdian di daerah pedalaman Papua seperti dr Soeko.
"Kami korps, penggiat kesehatan Papua merelakan kepergian dr Soeko Marsetiyo ke pangkauan Allah maha pencipta, dengan memohon ada perlindungan bagi tenaga kesehatan di atas tanah Papua agar kasus seperti ini tidak terulang lagi," tambah Aloysius.
Aksi unjuk rasa yang berujung kerusuhan di Wamena, Senin (23/9) lalu mengakibatkan setidaknya 30 orang meninggal dunia dan ratusan bangunan milik pemerintah maupun swasta rusak atau dibakar oleh demonstran.
Di antara korban yang meninggal dunia, ada warga yang tidak sempat menyelamatkan diri saat rumah atau rumah toko mereka dibakar demonstran. Kerusuhan yang terjadi di Wamena itu juga menyebabkan puluhan warga terluka.
Baca juga: Jenazah korban kerusuhan Wamena akan dimakamkan Jumat
Baca juga: Delapan jenazah korban kerusuhan Wamena diangkut dengan tiga pesawat ke Padang
Dokter Soeko Marsetiyo, yang meninggal dunia setelah ditemukan dalam keadaan terluka dalam demonstrasi berujung anarkis di Wamena, Kabupaten Jayawijaya, 23 September 2019.
"Saya sebagai seorang dokter orang asli Papua, sangat saya sesalkan dan saya sedih, kenapa seorang pelayan, dokter yang hatinya mulia mau mengabdikan diri di daerah-daerah yang cukup terpencil dalam waktu cukup lama dan usianya juga sudah 53 tahun, kenapa harus pergi dengan cara-cara seperti begini," jelas Aloysius di Jayapura, Kamis malam.
Aloysius menegaskan dirinya selaku Kepala Dinas Kesehatan Papua, mengutuk keras pelaku-pelaku yang menghilangkan nyawa dr Soeko Marsetiyo. Kasus itu akan mempersulit permintaan tenaga dokter ke Papua terutama di wilayah pedalaman.
"Dengan kepergian dr Soeko Marsetiyo, hari ini saya merasa kekurangan, susah cari tenaga dokter kenapa yang ada diperlakukan seperti begini, coba demo menyampaikan aspirasi dengan damai," ujarnya.
Aloysisus berharap jangan ada lagi aksi demonstrasi yang berujung menghilangkan nyawa orang lain, apalagi seorang dokter yang melayani kesehatan masyarakat di wilayah pedalaman Papua.
"Sekali lagi saya sesalkan, oleh karena itu saya minta ada jaminan dan perlindungan kepada seluruh tenaga kesehatan baik tenaga dokter, tenaga bidan, perawat, dan tenaga penunjang lainnya, kedepan saya tidak mau lagi dengar model seperti begini," tambahnya.
Mantan Direktur RSUD Abepura itu menyebutkan, tenaga kesehatan itu tenaga yang dilindungi dibawah hukum internasional demi penyelamatan sesama yang lain.
Baca juga: Jenazah dr Soeko dievakuasi dari Wamena ke Jayapura
Ia berharap kedepan ada pengamanan yang ekstra ketat oleh pemerintah daerah, tokoh adat, tokoh agama, tokoh pemuda, kepala suku, dan ondoafi agar supaya menjaga dokter yang tenaga dokter, perawat, dan bidan yang ditempatkan dengan baik.
"Kalau seperti begini yang rugi kita semua, tidak akan ada lagi petugas yang datang bertugas lagi di Papua apalagi di daerah pedalaman, dampak itu harus dipertimbangkan," katanya.
Mantan Kepala Puskesmas Koya itu berulang kali mengaku sedih dan kesal dengan wafatnya dr Soeko Marsetiyo, karena jarang ada dokter yang mempunyai jiwa pengabdian di daerah pedalaman Papua seperti dr Soeko.
"Kami korps, penggiat kesehatan Papua merelakan kepergian dr Soeko Marsetiyo ke pangkauan Allah maha pencipta, dengan memohon ada perlindungan bagi tenaga kesehatan di atas tanah Papua agar kasus seperti ini tidak terulang lagi," tambah Aloysius.
Aksi unjuk rasa yang berujung kerusuhan di Wamena, Senin (23/9) lalu mengakibatkan setidaknya 30 orang meninggal dunia dan ratusan bangunan milik pemerintah maupun swasta rusak atau dibakar oleh demonstran.
Di antara korban yang meninggal dunia, ada warga yang tidak sempat menyelamatkan diri saat rumah atau rumah toko mereka dibakar demonstran. Kerusuhan yang terjadi di Wamena itu juga menyebabkan puluhan warga terluka.
Baca juga: Jenazah korban kerusuhan Wamena akan dimakamkan Jumat
Baca juga: Delapan jenazah korban kerusuhan Wamena diangkut dengan tiga pesawat ke Padang
Pewarta : Musa Abubar
Editor : Masnun
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Menteri PU nenargetkan Jalan Trans Papua Jayapura-Wamena selesai tahun 2026
01 November 2025 7:57 WIB
Tim SAR mencari Kepala Kampung Holkima diduga hanyut di Sungai Ibele
22 December 2019 18:57 WIB, 2019
Terpopuler - Hukum
Lihat Juga
Inspektorat Situbondo Jatim menyerahkan dokumen dana desa ke kejaksaan
05 January 2024 5:20 WIB, 2024
Pengamat menyesalkan TNI AD tak koordinasi ke polisi terkait relawan Ganjar
05 January 2024 5:17 WIB, 2024
Polres Sukabumi Jabar menangkap pemuda penganiaya perempuan di bawah umur
05 January 2024 5:08 WIB, 2024
Kemen PPPA koordinasi mengkawal penanganan kekerasan seksual guru ngaji
03 January 2024 20:30 WIB, 2024
Polda NTB sebut pemberantasan aksi TPPO masih jadi atensi tahun 2024
03 January 2024 20:06 WIB, 2024
Polda NTB ungkap kepastian hukum kasus penipuan investasi WN Prancis
03 January 2024 18:06 WIB, 2024