Mataram, (ANTARA) - Jepang siap menyerap hasil kerajinan Nusa Tenggara Barat karena dinilai memenuhi standar mutu yang diinginkan konsumen di negeri sakura itu khususnya kerajinan kain tenun, anyaman ketak dan cukli.
Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Nusa Tenggara Barat (NTB) Hj. Rabiatul Adawiyah Majdi, SE, di Mataram (9/2) mengatakan pelaku usaha kerajinan di Jepang berminat memasarkan tiga jenis kerajinan NTB tersebut setelah menilai kualitas produk tersebut pada pameran yang digelar di Tokyo, Jepang.
"Kegiatan pameran yang berlangsung di "The 71 International Gift Show" tersebut difasilitasi oleh "Japan External Trade Organization" (Jetro). NTB diundang untuk ikut pameran karena merupakan salah satu dari lima provinsi di Indonesia yang menjadi binaan Jetro, selain Jawa Tengah, Yogyakarta, Jawa Barat, dan Bali," katanya.
Ia menjelaskan, pihak Jetro hanya mengundang tiga pengusaha kerajinan NTB untuk mengikuti pameran yang diikuti oleh pengusaha kerajinan dari negara Asia dan Eropa.
Ketiga pengusaha kerajinan tersebut yaitu H. Murad, pengusaha kerajinan cukli, Mawarianti pengusaha kerajinan anyaman ketak dan Linda Hamidy pengusaha kain tenun khas Lombok, NTB di Sukarara, Lombok Timur.
Tiga orang pengusaha tersebut dipilih secara langsung oleh Jetro untuk mengikuti pameran memperkenalkan produk kerajinan unggulan NTB, melalui penilaian yang dilakukan pada saat pelatihan peningkatan kualitas produk kerajinan.
"Dari beberapa pengrajin yang diberikan pelatihan oleh Jetro, hanya tiga pengrajin tersebut yang dipilih untuk ikut pameran. Jadi bukan Dekranasda yang menentukan siapa yang ikut pameran," ujarnya.
Rabiatul Adawiyah didampingi Sekretaris Dekranasda Hj. Martha Eveni Elok Badrul Munir, SPd, dan pengusaha kerajinan kain tenun khas NTB Linda Hamidy mengatakan, dari pameran yang digelar sejak 1-4 Februari 2010, sejumlah pengusaha kerajinan Jepang sudah memesan sampel kerajinan kain tenun, anyaman ketak dan cukli.
Para pengusaha dari Jepang juga memberikan masukan agar bagaimana tiga kerajinan tersebut diberikan sentuhan modifikasi sesuai dengan keinginan konsumen di Jepang.
Ia mengatakan, modifikasi yang diinginkan oleh konsumen Jepang yakni dari segi ukuran yang disesuaikan dengan bentuk rumah warga Jepang yang relatif kecil.
Selain ukuran, modifikasi yang diinginkan untuk kedua jenis hasil kerajinan tersebut yakni dari sisi bahan baku tidak selalu polos menggunakan bahan alam, melainkan dipadukan dengan bahan plastik.
Demikian juga dengan kain tenun khas NTB, diminta tidak menggunakan bahan pewarna kimia yang mudah luntur, tapi menggunakan bahan pewarna alami.
"Berbagai keinginan konsumen Jepang akan kami sampaikan melalui Rapat Kerja Daerah Dekranasda NTB. Kami berharap para ketua Dekranasda kabupaten/kota mengajak minimal satu orang pengrajin agar mereka bisa memperoleh informasi mengenai peluang pasar kerajinan di Jepang," ujarnya.
Rabiatul Adawiyah Majdi yang juga isteri Gubernur NTB TGH. M. Zainul Majdi, mengaku akan berupaya untuk menyelaraskan pemahaman dengan seluruh pengrajin di NTB, agar mampu memenuhi permintaan pasar kerajinan di negari sakura itu.
Para pengrajin yang sudah memperoleh pelatihan dari Jetro diminta untuk menularkan ilmunya kepada para pengrajin lainnya yang belum memperoleh kesempatan mengikuti pelatihan peningkatan kualitas produk.
"Kami mengharapkan para pengrajin yang sudah memperoleh pelatihan dari Jetro untuk menularkan ilmunya kepada pengrajin lainnya, sehingga upaya Dekranasda memperkenalkan kerajinan khas NTB baik di tingkat lokal, nasional dan internasional bisa terwujud," ujarnya.(*)
Pewarta :
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026