Mataram, (ANTARA) - Sekitar 200 umat Hindu di Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat, Jumat (4/3) petang terlibat saling pukul menggunakan api.
Aksi saling pukul menggunakan api yang disulut pada "bobok" (daun kelapa yang sudah kering dan diikat dalam bentuk sapu) itu, merupakan ritual "perang api" yang digelar umat Hindu dari dua banjar (lingkungan) di Kelurahan Cakranegara Timur, yaitu Banjar Negara Sakah dengan Banjar Sweta, sebagai salah satu rangkaian menyambut Hari Raya Nyepi tahun baru Saka 1933.
Ritual "perang api" yang merupakan tradisi umat Hindu di Mataram sejak 1838 tersebut, dilaksanakan di Jalan Selaparang, Cakranegara, yang merupakan lokasi peperangan antara Kerajaan Singosari dengan Kerajaan Karang Asem.
Sebelum dilakukannya aksi saling serang, para tokoh masyarakat terlebih dahulu memeriksa "bobok" yang akan digunakan oleh warga untuk menyerang warga lainnya.
Proses saling serang terjadi setelah para tokoh masyarakat dari masing-masing banjar sudah sepakat untuk memulai "peperangan".
"Perang api" yang sebagian besar diikuti oleh kalangan pemuda dari kedua banjar tersebut berlangsung tegang, namun tidak menimbulkan korban luka. Aksi saling pukul hanya berlangsung sekitar 15 menit.
Menurut Ketua Panitia Gede Ganggar, "Perang Api" bukan sekedar bentuk peringatan menyambut Hari Raya Nyepi, namun memiliki makna yang lebih dalam yaitu untuk membersihkan bumi dari segala malapetaka yang terjadi.
"Dulu awalnya ada salah seorang warga kami yang mendapat bisikan oleh Hyang Kuasa untuk membakar bobok (oboh-oboh) di pekarangan masing-masing dengan tujuan menghilangkan segala macam musibah yang disebabkan mahluk jahat atau yang disebut dengan 'kala'. Setelah itu, mereka bertemu di jalan ini untuk saling menyerang" katanya.
Saling serang dengan api menggambarkan pembakaran hawa nafsu buruk yang ada dalam diri manusia agar benar-benar suci sebelum memulai acara Tapa Brata Penyepian.
Dia mengatakan, dua hari setelah pelaksanaan Tapa Brata Penyepian, umat Hindu melaksanakan "Lembak Geni" untuk mempererat rasa persatuan sesama manusia.
"Kita saling maaf-memaafkan dua hari setelah pelaksanaan 'Perang Api' agar tidak ada rasa dendam antar sesama umat manusia," ujarnya.
Pelaksanaan ritual 'Perang Api' tersebut ditonton oleh ribuan masyarakat Kota Mataram dan dijaga oleh ratusan anggota kepolisian dari Polres Mataram. (*)
Pewarta :
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026