Aksi ribuan orang pemuda dikoordinir Ketua Pemuda NW Wilayah NTB, Saparwadi itu, diawali dengan "long march" dari Universitas NW di Jalan Kaktus melintasi Jalan Pendidikan hingga tiba di Jalan Langko, depan Markas Polda NTB.
Aparat kepolisian terpaksa mengarahkan ribuan pemuda yang menamakan diri Massa Ulama Nahdlatul Wathan (Maulana) itu ke Lapangan Mapolda NTB demi kelancaran lalu lintas di jalan utama depan Mapolda NTB itu.
Mereka mengecam caleg DPR dari PDIP yang mencantumkan foto tokoh panutan NW sekaligus pendiri NW, TGH Zainuddin Abdul Madjid, yang terpampang di belasan titik antara lain di Pancor Kabupaten Lombok Timur dan Cakranegara Kota Mataram.
Para pemuda NW tidak menerima upaya Ketua DPD PDIP NTB itu menjadikan guru besar mereka sebagai tameng untuk mendongkrak popularitas dalam proses Pemilu 2009.
Meskipun Rahmat Hidayat beralasan hendak mengajukan "Almagfurulah" Maulana Syech TGH Zainuddin Abdul Madjid itu, sebagai salah seorang pahlawan nasional.
Karena itu, para pemuda NW itu mengultimatum Rahmat Hidayat untuk segera menurunkan baliho tersebut sekaligus meminta maaf kepada keluarga besar NW melalui media massa selama tiga hari berturut-turut.
Saat berdialog dengan pihak-pihak terkait disela-sela unjukrasa di lapangan Mapolda NTB, Suparwadi mengatakan, caleg PDIP itu juga layak dicoret dari daftar caleg tetap karena telah melakukan perbuatan tidak terpuji.
"Apabila berbagai permintaan kami tidak dipenuhi dan Panwaslu, KPU serta PoLda NTB tidak mengindahkannya maka jangan salahkan jama'ah NW jika bersikap lebih tegas dan lebih keras," ujarnya Suparwadi.
Diakuinya, aksi massa dari ribuan pemuda NW itu dilakukan setelah aksi protes penggunaan foto tokoh panutan NW melalui media massa tidak digubris Rahmat Hidayat.
Bahkan, Rahmat Hidayat mengklaim dirinya tidak bersalah dalam pemasangan foto pendiri NW itu dalam balihonya.
Rahmat beralasan pemasangan foto pendiri NW dalam balihonya itu lebih bermakna mengagumi tokoh panutan NW itu karena sebagai bagian dari pimpinan DPRD NTB (Wakil Ketua DPRD NTB) dirinya telah mengusulkan agar TGH Zainuddin Abdul Madjid itu diangkat sebagai pahlawan nasional.
Dia pun mengaku telah meminta izin Gubernur NTB, KH M. Zainul Majdi selaku salah seorang cucunya.
Rahmat pun mengaku tidak akan menuruti permintaan Pemuda NW untuk menurunkan baliho itu dan tidak juga mau menyatakan permohonan maaf melalui media massa sesuai tuntutan Pemuda NW.
Menyikapi aksi massa Pemuda NW itu, Direktur Intelkam Polda NTB, Kombes Pol Misik Natari, mengajak pihak Panwaslu dan KPU Provinsi NTB untuk menyamakan sikap dan tindakan agar massa Pemuda NW itu dapat mengakhiri aksi tersebut.
Dalam pertemuan singkat, Kombes Pol Misik dan anggota Panwaslu NTB, Lalu Fadlan Prayanegara dari Divisi Sengketa Pemilu dan anggota KPU NTB dari Divisi Teknik Penyelenggaraan Pemilu, Aksar Anshary, sepakat untuk segera memanggil Rahmat Hidayat guna menuntaskan permasalahan tersebut.
"Masalah ini harus dibereskan hari ini juga karena dapat berakibat gangguan kamtibmas menjelang tahapan inti pemilu legislatif," ujar Kombes Misik seraya mengajak anggota Panwaslu dan KPU NTB untuk menemui Rahmat Hidayat.(*)
Pewarta :
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026