Biasanya sakali melaut bisa meraih hasil Rp1 juta hingga Rp2 juta per hari, namun terkadang tidak dapat sama sekali. Ini tergantung rezeki masing-masingMataram, (Antara) - Ratusan nelayan di sepanjang pantai Ampenan, Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat, tidak berani melaut karena cuaca buruk dan hujan lebat yang melanda kota tersebut dalam sepekan terakhir ini.
Ratusan nelayan yang tidak melaut tersebut berada di daerah Pondok Perasi, Kampung Bugis, Bangsal, Kampung Banjar, Gatep, Karang Panas dan Mapak, sementara ratusan sampan terlihat berbaris diparkir di sepanjang pantai.
Muhamad Ropii, salah seorang nelayan di Ampenan, Jumat, mengatakan, dirinya bersama sejumlah nelayan lainnya sudah beberapa hari ini tidak melaut karena cuaca buruk, sehingga tidak memiliki penghasilan.
Menurutnya, kejadian seperti ini sudah rutin setiap tahun dan untuk mengisi kekosongan sejumlah nelayan melakukan kegiatan, seperti memperbaiki jaring, sampan dan berbagai peralatan lainnya.
Dia menjelaskan, selain itu banyak pula nelayan mencari pekerjaan lain, seperti menjadi buruh bangunan, berjualan dan ada pula yang menganggur untuk sementara waktu sembari menunggu cuaca membaik.
Bagi mereka yang tidak bekerja untuk sementara waktu, biasanya menjual berbagai perabotan rumah tangga, seperti piring, mangkok dan lainnya untuk menutup biaya sehari-hari, katanya.
"Menjual perabotan rumah tangga tidak menjadi masalah bagi nelayan dan ini biasa, karena nanti barang serupa dapat dibeli lagi setelah mulai melaut, karena sekali melaut bisa membeli barang kebutuhan rumah tangga lagi," katanya.
Menurut Muhamad, biasanya sakali melaut bisa meraih hasil Rp1 juta hingga Rp2 juta per hari, namun terkadang tidak dapat sama sekali dan ini tergantung rezeki masing-masing.
Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian dan Perikanan Kota Mataram H L Mazhuriadi menjelaskan bahwa pemerintah telah memberi bantuan pada para nelayan berupa mesin, sampan dan alat tangkap guna meningkatkan produksi mereka.
Di samping itu, bantuan juga telah diberikan kepada para istri nelayan secara berkelompok, sekitar Rp5 juta per kelompok, sebagai modal usaha, sehingga jika terjadi musim barat atau cuaca buruk seperti sekarang ini ada modal untuk biaya hidup.
Sementara untuk mengantisipasi gelombang pasang, maka nelayan yang rumahnya berada di pinggir laut telah dipindahkan ke perumahan yang dibangunkan pemerintah yang lokasinya berada di Karang Panas, katanya.
Pewarta : Siti Zulaeha
Editor:
Dina
COPYRIGHT © ANTARA 2026