"Proses pembangunannya sudah berjalan, sekarang salurannya yang dikerjakan lebih dulu sambil menunggu pembebasan lahan kawasan hutan, dan sertifikasi bangunannya," kata Kepala Balai Wilayah Sungai (BWS) Nusa Tenggara I (NTB-NTT) Marsono.Mataram (Antara Mataram) - Pemerintah membangun dua bendungan baru di Kabupaten Dompu, Pulau Sumbawa, Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) untuk memperkuat jaringan irigasi pertanian dan penyediaan air baku.
"Proses pembangunannya sudah berjalan, sekarang salurannya yang dikerjakan lebih dulu sambil menunggu pembebasan lahan kawasan hutan, dan sertifikasi bangunannya," kata Kepala Balai Wilayah Sungai (BWS) Nusa Tenggara I (NTB-NTT) Direktorat Sumber Daya Air (SDA) Kementerian Pekerjaan Umum (PU) Marsono, di Mataram, Jumat.
Ia menyebut kedua bendungan baru itu yakni Bendungan Mila, dan Bendungan Tanju yang berlokasi di Kabupaten Dompu, Pulau Sumbawa.
Pembangunan Bendungan Mila dilatarbelakangi oleh potensi sungai Rababaka yang potensi airnya cukup besar, sementara lahan irigasinya relatif kecil dengan klasifikasi A seluas 1.689 hektare.
Potensi aliran air sungai Rababaka mencapai 79 juta meter kubik/tahun, namun yang dipakai baru sekitar 40 juta meter kubik/tahun, sehingga sisanya terbuang ke laut.
Sedangkan pembangunan Bendungan Tanju, dilatarbelakangi oleh potensi sungai Tanju yang juga mempunyai potensi cukup besar namun sejauh ini belum dimanfaatkan secara optimal.
Sungai Tanju dapat mengairi sawah tadah hujan seluas 2.242 hektare dan penyediaan air baku untuk 5.776 kepala keluarga (KK), sementara sungai Rababaka dapat mengairi tanam seluas 1.689 hektare.
"Hanya saja biaya yang dibutuhkan untuk membangun kedua bendungan baru itu diperkirakan mencapai Rp831 miliar lebih, dan dana yang dibutuhkan untuk pembebasan lahan sekitar Rp300 Miliar, serta anggaran jasa konsultan yang mencapai Rp9 miliar," ujar Sumarsono.
Kedua bendungan baru itu merupakan komponen pendukung mega proyek Bendungan Raba Baka Komplek (RBK) di Desa Tanju, Kecamatan Manggelewa, Kabupaten Dompu, NTB.
Proyek Bendungan RBK itu mulai dikerjakan untuk proyek fisik bangunan utama pada 11 April 2013, atau setelah proses sertifikasi dirampungkan.
Sertifikasi bendungan itu merupakan proses penetapan kelayakan dan legitimasi oleh pemerintah pusat.
Sesuai ketentuan, setidaknya ada empat syarat sertifikasi, yakni penelitian umum dan rencana desain, pembebasan dan relokasi pemukiman penduduk pada areal genangan air, penyelesaian izin atas lahan kawasan, dan jaminan keamanan serta dukungan masyarakat setempat.
Bendungan RBK merupakan salah satu infrastruktur strategis yang diharapkan dapat memenuhi kebutuhan air dan irigasi masyarakat Dompu, sekaligus untuk mendukung kemajuan kepariwisataan Dompu.
Dua bendungan baru yang dibangun di wilayah NTB itu, merupakan bagian dari 14 bendungan baru dan tujuh waduk baru, yang akan dibangun Direktorat Jenderal Sumber Daya Air Kementerian Pekerjaan Umum sepanjang 2014 dengan dukungan anggaran sebesar Rp7,48 triliun.
Puluhan bendungan dan waduk baru itu menyedot 20 persen dari total anggaran Kementerian PU di 2014, namun hanya berupa dana permulaan, yang akan dilanjutkan dalam tahun jamak (multi years).
Keempat belas bendungan baru itu yakni Bendungan Kreureuto di Aceh, Bendungan Teritip di Kalimantan Timur, Bendungan Lolak di Sulawesi Utara, Bendungan Karalloe di Sulawesi Selatan, Bendungan Tanju, dan Mila di NTB, Bendungan Tugu di Jawa Timur, Bendungan Tukul di Jawa Timur, Bendungan Gongseng di Jawa Tengah, Bendungan Gondang di Jawa Tengah.
Selanjutnya, Bendungan Pidekso di Jawa Tengah, Bendungan Diponegoro di Jawa Tengah, Bendungan Kuningan di Jawa Tengah, dan Bendungan Lau Simeme di Sumatra Utara.
Sedangkan tujuh waduk baru yang juga akan dibangun pada 2014 yakni Waduk Sindangheula di Banten, Waduk Logung di Jawa Tengah, Waduk Nipah di Jawa Timur, Waduk Lambuk di Bali, dan Waduk Tunggu Nipa di Sulawesi Selatan, Waduk Raknamo, dan Waduk Kolhua di NTT. (*)
Pewarta : Oleh Anwar Maga
Editor:
Anwar Maga
COPYRIGHT © ANTARA 2026