"Eksportir ingin sekali bisa memasukkan melon ke Jepang, tapi sulit sekali karena berbagai persyaratan"Mataram (Antara NTB) - Dinas Perindustrian dan Perdagangan Nusa Tenggara Barat mengungkapkan melon hasil produksi petani di provinsi tersebut sulit masuk pasar Jepang karena beberapa kendala.
"Eksportir ingin sekali bisa memasukkan melon ke Jepang, tapi sulit sekali karena berbagai persyaratan," kata Kepala Bidang Perdagangan Luar Negeri Dinas Perindustrian dan Perdagangan Nusa Tenggara Barat Baiq Noviana Indiari di Mataram.
Sementara di Singapura dan Hong Kong, kata dia, melon yang diproduksi petani di Sembalun, Kabupaten Lombok Timur, cukup diminati.
Selama periode Januari-April 2016, nilai ekspor melon NTB ke Singapura mencapai 10.224 USD, dan Hong Kong 1.440 USD, dengan total volume ekspor 4.500 kilogram.
Komoditas hortikultura tersebut dikirim ke luar negeri melalui Lombok International Airport oleh PT Ginta Jasimindo Logistics, yang merupakan mitra dari petani melon di Sembalun, Kabupaten Lombok Timur.
Noviana mengatakan, petani yang memproduksi melon kualitas ekspor di lahan puluhan hektare itu sudah berupaya memenuhi persyaratan yang diinginkan oleh pasar Jepang, seperti mengatasi lalat buah dengan mesin khusus, namun, tetap belum bisa diterima.
"Ukuran buah dan kandungan kadar kemanisan juga sudah memenuhi persyaratan, tapi tetap saja belum diterima," ujarnya.
Masalah tersebut, kata dia, sudah disampaikan ke Direktorat Jenderal Perdagangan Luar Negeri, melalui Direktorat Pengamanan Perdagangan, Kementerian Perdagangan, pada saat ada kegiatan koordinasi di Jakarta, beberapa waktu lalu.
Pada pertemuan itu, Direktur Pengamanan Pangan mengatakan bahwa produk buah-buahan Indonesia yang bisa masuk ke Jepang, baru satu jenis saja, yakni pisang dari Lampung.
"Memang persyaratan buah masuk ke Jepang agak sulit, termasuk Tiongkok, ada beberapa persyaratannya," kata Noviana. (*)
Pewarta :
Editor:
Awaludin
COPYRIGHT © ANTARA 2026