"Bukan hanya kami yang kecewa, banyak masyarakat yang juga kecewa dan mengkritik acara itu, karena menampilkan tarian dengan perempuan seksi serta mengenakan pakaian yang tidak pantas di depan publik. Bahkan kegiatan tersebut bertentangan dengan NTB
Mataram (Antara NTB) - Sejumlah anggota DRPD Nusa Tenggara Barat mengkritisi pelaksanaan "Car Wash Show" atau cuci mobil di Lombok Epicentrum Mall pada Minggu (29/5) yang diperankan para perempuan karena dinilai vulgar dan berbau porno aksi di depan halayak ramai.

Ketua Komisi V DPRD NTB Hj Wartiah di Mataram, Selasa, mengaku kecewa dan menyesalkan kejadian itu, karena sudah menampilkan tarian tarian berbau pornografi di depan publik dan disaksikan semua orang, baik dewasa maupun anak-anak.

"Bukan hanya kami yang kecewa, banyak masyarakat yang juga kecewa dan mengkritik acara itu, karena menampilkan tarian dengan perempuan seksi serta mengenakan pakaian yang tidak pantas di depan publik. Bahkan kegiatan tersebut bertentangan dengan NTB yang dikenal sebagai pulau seribu Masjid," kata Wartiah di hadapan sejumlah anggota DPRD NTB yang bertemu manajemen Lombok Epicentrum Mall di Mataram.

Menurut dia, acara tersebut tidak pantas untuk dilaksanakan. Karena, merusak moral masyarakat, terlebih kegiatan itu di tonton banyak anak-anak. Bahkan, hal ini bertentangan dengan slogan kota Mataram religius dan agamis. Termasuk, tidak lama lagi bulan Ramadhan dan penyelenggaraan MTQ Nasional dilaksanakan di NTB.

"Manajemen harus mengklarifikasi kegiatan tersebut dan meminta maaf kepada masyarakat. Sebab, acara kemarin telah melukai perasaan masyarakat NTB," tegas Wartiah.

Ia menuturkan, DPRD NTB meminta agar hal semacam itu tidak terulang kembali. Termasuk bagi penyelenggara kegiatan untuk tidak melakukan kegiatan diluar batas dan harus memperhatikan kondisi sekitar.

"Masalah ini tidak boleh terulang lagi. Para penyelenggara kegiatan (EO) tidak boleh bertindak diluar batasan," katanya.

Wakil Ketua Komisi V DPRD NTB HMS Kasdiono juga menyayangkan kejadian tersebut bisa terjadi di depan khalayak ramai. Di mana, banyak anak-anak maupun remaja yang menyaksikan, sehingga di mempengaruhi mereka.

"Yang jelas apa yang terjadi itu sudah bentuk porno aksi. Makanya kita minta pihak manajemen meminta maaf dan tidak mengulangi perbuatan itu," ucapnya.

Selain itu, ia berharap pengelola mall juga harus mengingatkan kepada pengunjung saat adzan shalat berkumandang melalui pengeras suara. Sehingga para pengunjung bisa melaksanakan ibadah shalat.

Dia mengaku, ada dua persoalan pernah dilakukan managemen, pertama sempat melarang karyawati menggunakan jilbab, khusus di informa. Saat ini ada kejadian paling parah yang tidak boleh dilihat anak-anak yakni memandikan mobil oleh kaum hawa layaknya pornografi.

"Kami tegaskan, jangan ulangi lagi. Jangan sampai kita membuat kebijakan cabut izin nanti," kata Kasdiono.

Sementara General Manager LEM, Salim Abdad langsung meminta maaf kepada seluruh masyarakat NTB atas kejadian acara "Car Wash Show" yang dilaksanakan pada Minggu kemarin. Dengan menampilkan acara tarian yang berbau pornografi.

"Kami memohon maaf atas keteledoran yang dilakukan. Sehingga ke depan diharapkan tidak kecolongan lagi," kelitnya.

Namun demikian, ia mengakui, acara tersebut datang dari inisiatif peserta sebelum kegiatan mulai dilaksanakan. Saat, peserta melalui penyelenggara kegiatan melaporkan ke manajemen langsung menyetujui tanpa melihat acara yang lebih rinci.

"Memang kejadian ini tanpa sepengetahuan manajeman, tetapi kami siap tidak mengulangi lagi," katanya. (*)

Pewarta :
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026