Kelompok Tani "Ngudi Mekar" menatap 2024 penuh optimisme

id Klomtan Ngudi Mekar,Kalurahan Madurejo Prambanan,Pertanian Sleman ,Sleman

Kelompok Tani "Ngudi Mekar" menatap 2024 penuh optimisme

Ketua Kelompok Tani Ngudi Mekar Achlida saat memantau pertumbuhan tanaman padi di Sorogedug Lor, Madurejo, Prambanan, Sleman. ANTARA/Victorianus Sat Pranyoto

Sleman (ANTARA) - Berbagai kejadian yang tak terduga di sektor pertanian akibat adanya fenomena El Nino pada 2023 membuat petani maupun kelompok petani di sejumlah daerah mengalami kendala dalam memproduksi hasil pertanian sebagai andalan ekonomi mereka.

Kondisi serupa juga sangat dirasakan oleh Kelompok Tani "Ngudi Mekar" di Dusun Sorogedug Lor, Kalurahan (Desa) Madurejo, Prambanan, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta.
 

Fenomena El Nino yang membawa dampak kemarau panjang pada 2023, telah mempengaruhi perubahan pada musim tanam maupun pola tanam, khususnya komoditas padi.

Oleh karena itu, 2024 akan menjadi tahun yang penuh dengan tantangan, sekaligus harapan bagi mereka untuk bangkit dan menatap optimistis untuk mampu bangkit kembali.

Ketua Kelompok Tani Ngudi Mekar Achlida mengaku optimistis tahun ini menjadi tahun kebangkitan sektor pertanian dan peternakan.

Perjalanan panjang juga harus dilalui oleh kelompok tani dan ternak "Ngudi Mekar" di Dusun Sorogedug Lor, Kelurahan Madurejo, Kapanewon (Kecamatan) Prambanan, dalam menghadapi dinamika lingkungan, seperti berkurangnya intensitas pertemuan kelompok dengan petugas penyuluh lapangan (PPL), terhambatnya penyediaan pupuk subsidi, serta perubahan aturan administrasi pertanian yang disebabkan oleh meningkatnya kasus COVID-19, beberapa waktu lalu.

Menghadapi semua kenyataan itu, tidak membuat kelompok tani Ngudi Mekar kendur semangat. Seluruh anggota kelompok petani dan peternak yang berjumlah masing-masing 35 orang ini begitu mantap untuk bisa terus meningkat dalam menatap masa depan.

Para petani ini merasakan perubahan pola cuaca yang tak terduga, yang telah menjadi ujian besar bagi produktivitas hasil pertanian maupun ternak, kini mencoba memulai kembali usaha penunjang ekonomi mereka.

Kekhawatiran terhadap kekeringan lahan sawah dan serangan penyakit hewan ternak tidak memutus usaha mereka dalam menciptakan kemandirian pangan yang berkelanjutan, lebih-lebih untuk memenuhi kebutuhan pangan lokal.

Meski dengan segala keterbatasan dan kendala, Kalurahan Madurejo dengan luas lahan pertanian 354 hektare ini, pada tahun 2023 masih mampu menghasilkan produksi padi sekitar 3.750 ton gabah dalam tiga kali panen selama satu tahun.


Regenerasi petani

Salah satu anggota Kelompok Tani dan Ternak Ngudi Mekar, Poniman menyebutkan bahwa saat ini regenerasi petani masih perlu digalakkan. Ada banyak generasi milenial yang mau belajar pertanian, namun tetap tidak mau turun ke lahan.

Menghadapi kenyataan itu, petani tua mau tidak mau harus bisa mengikuti zaman, termasuk teknologi pertanian dan dunia digital lainnya.

Melalui berbagai interaksi dengan petani dan peternak, para petani tetap memiliki harapan besar dan terus berupaya untuk bertukar pikiran dan pengalaman, khususnya terkait dengan belajar mengenai perkembangan teknologi pertanian saat ini.

Kehadiran generasi muda di lahan pertanian, tentunya sangat mereka butuhkan sebagai jembatan untuk melalui berbagai perkembangan teknologi.

Dengan pendampingan dan kesiapan generasi muda untuk menerima peran langsung dalam pertanian memang menjadi harapan para petani tua.

Meskipun begitu, seiring berjalannya waktu, masih besar harapan kelompok tani dan ternak atas kehadiran mereka.


Pakan dan kesehatan 

Pergantian musim yang tidak menentu juga dapat mempengaruhi produktivitas serta kesehatan hewan ternak.

Pemberian pakan rumput yang masih basah akibat tidak terkena paparan sinar Matahari dapat menyebabkan tumbuhnya cacing di dalam hati hewan ternak, sehingga perlu perhatian khusus terhadap kandungan gizi dalam pakan ternak karena sangat mempengaruhi produktivitas dan kesehatan hewan ternak.

Pelayanan pemeriksaan kesehatan hewan ternak yang diberikan oleh pemerintah daerah setempat adalah di posyandu ternak telah dilakukan setiap enam bulan sekali sangat membantu peternak.

Kelompok ternak ini sendiri saat ini memiliki 70 ekor ternak sapi. Para peternak berharap berupaya memadukan pakan tambahan, sehingga hewan ternak tidak diberi makan rumput. Dengan perpaduan pakan itu, hewan peliharaan menjadi cepat besar dan gemuk.

Kelompok ternak ini tidak diam saja menghadapi hal tersebut. Mereka terus mencoba untuk mencari solusi, salah satunya dengan memperkuat kemitraan dengan pemangku kepentingan setempat.

Mereka juga berusaha keras meningkatkan kualitas serta nilai tambah produk pertanian serta produk hasil ternak dengan tetap mengeksplorasi dan merangkul inovasi.

Langkah-langkah tersebut diambil untuk meningkatkan kemandirian dalam memasarkan produk mereka di tingkat lokal maupun regional, dalam rangka menjadikan pertanian lebih efisien dan berkelanjutan, sambil menjaga keselarasan dengan lingkungan.


Harapan di 2024

Harapan besar mereka terletak pada dukungan yang berkelanjutan, inklusif, dan responsif dari pihak terkait, termasuk pengembangan kebijakan yang mendukung pertanian berkelanjutan, investasi guna memperkuat infrastruktur, bantuan finansial, serta pengembangan program pendidikan dan pelatihan yang relevan.

Permasalahan yang muncul akibat perubahan musim dan optimisme di Tahun 2024 akan menggoda kaum milenial untuk betul-betul terlibat dalam bisang pertanian dan peternakan.

Tahun 2024 bukan hanya tentang tantangan, tetapi juga tentang potensi besar yang menanti. Perjalanan harapan kelompok tani dan ternak tidak hanya sebatas pada hasil yang mereka capai, melainkan pada semangat dan dedikasi untuk menjadikan pertanian dan peternakan sebagai kekuatan utama dalam mewujudkan Indonesia Emas 2045.
 

Anggota Kelompok Ternak Ngudi Mekar saat berada di kandang kelompok di Sorogedug Lor, Madurejo, Prambanan, Sleman. ANTARA/Victorianus Sat Pranyoto



Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: Kelompok Tani "Ngudi Mekar" Prambanan menatap 2024 penuh optimisme