"Berdasarkan imbauan dari Kantor Syahbandar Lembar, sistem buka tutup mulai diberlakukan sejak pukul 16.00 WITA"
Mataram (Antara NTB) - PT ASDP Indonesia Ferry Cabang Lembar, Nusa Tenggara Barat, memberlakukan sistem buka tutup pelayaran dari Pelabuhan Lembar, Kabupaten Lombok Barat, menuju Pelabuhan Padangbai, Bali, akibat cuaca buruk di perairan laut.

"Berdasarkan imbauan dari Kantor Syahbandar Lembar, sistem buka tutup mulai diberlakukan sejak pukul 16.00 WITA," kata Hubungan Masyarakat (Humas) PT ASDP Indonesia Ferry Cabang Lembar, Denny Nurdiana Putra, ketika dihubungi dari Mataram, Selasa.

Pihaknya belum bisa menentukan batas waktu penerapan sistem buka tutup Pelabuhan Lembar yang menghubungkan ke Pelabuhan Padangbai.

Menurut Denny, sistem buka tutup diberlakukan sifatnya situasional sampai dengan cuaca memungkinkan atau layak untuk aktivitas penyeberangan.

"Kami terus berkoordinasi dengan syahbandar. Kalau cuaca memungkinkan untuk pelayaran, pelabuhan dibuka, tapi kalau tiba-tiba kurang bagus kembali diberlakukan penutupan sementara," ujarnya.

Berdasarkan rapat koordinasi, kata dia, pelabuhan hanya dibuka untuk kapal kategori besar, sedangkan kapal yang tergolong ukuran kecil dan berjenis katamaran tidak direkomendasikan berlayar.

Hal itu disebabkan tinggi gelombang di perairan laut saat ini 1,5 hingga 2 meter dengan kecepatan angin 10 hingga 15 knot.

"Meskipun ada sistem buka tutup dan pembatasan jenis kapal berlayar, tidak menyebabkan penumpukan penumpang atau pengguna jasa di area pelabuhan sampai petang ini," kata Denny.

Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) sudah mengeluarkan peringatan dini terkait kondisi cuaca ekstrem berupa hujan lebat dan angin kencang.

Seluruh otoritas pelabuhan di NTB, diminta mewaspadai kecepatan angin yang cukup tinggi, yakni 20-30 kilometer per jam.

Selain itu, waspada gelombang tinggi di perairan Selat Alas, Selat Lombok, perairan utara NTB, dan perairan selatan NTB yang mencapai lebih dari tiga meter, dan Selat Sape yang mencapai lebih dari dua meter.

Gelombang tinggi tersebut berbahaya bagi aktivitas penyeberangan kapal.

Cuaca ekstrem tersebut sebagai dampak dari adanya pusat tekanan rendah di barat laut Benua Australia (994 hPa) yang menarik massa pada udara dengan kuat di sekitar wilayah NTB.

Kondisi hujan lebat dan angin kencang serta gelombang tinggi diperkirakan berlangsung hingga 9 Februari 2017. (*)


Pewarta :
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026