Festival Bau Nyale jadi penggerak ekonomi di Lombok

id bau nyale,penggerak ekonomi ,mandalika,lombok

Festival Bau Nyale jadi penggerak ekonomi di Lombok

Warga saat turun ke laut di Pantai Seger, Kawasan Ekonomi Khusus Mandalika, Kabupaten Lombok Tengah, Provinsi NTB untuk menangkap cacing laut yang merupakan jelmaan Putri Mandalika, Jumat (1/03/2024) (ANTARA/Ho-Ahmad Subaidi)

Lombok Tengah (ANTARA) - Akses jalan menuju Pantai Seger, Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Mandalika, Kabupaten Lombok Tengah, Provinsi Nusa Tenggara Barat dipenuhi tenda dadakan yang dibangun masyarakat sebelum puncak Bau Nyale (menangkap cacing laut) 29 Februari-1 Maret 2024 digelar.

Tenda yang jumlahnya mencapai ribuan tersebut dijadikan sebagai lapak oleh warga atau Pedagang Kaki Lima (PKL) untuk berjualan mencari rezeki pada Festival Bau Nyale yang merupakan tradisi masyarakat Lombok secara turun temurun tersebut.

Dalam Bau Nyale itu tidak pernah sepi atau warga yang datang untuk menangkap cacing laut yang dipercaya merupakan jelmaan Putri Mandalika tersebut mencapai puluhan ribu jiwa. Tidak hanya warga setempat yang datang, namun warga dari luar Lombok Tengah bahkan wisatawan mancanegara yang datang berlibur di Lombok.

Pedagang yang mencari rezeki di ajang Festival Bau Nyale itu mulai dari pedagang cilok, warung kopi, nasi dan sate serta aneka permainan. Selain itu juga, terlihat para pedagang alat tangkap Nyale seperti jaring dijajakan di sepanjang jalan tersebut.

Warga yang ingin menangkap cacing laut tersebut harus membeli jaring, agar lebih mudah mendapatkan cacing laut. 

Warga yang datang sejak sore hari hingga malam hari harus begadang untuk menyaksikan acara hiburan puncak Bau Nyale sebelum mereka turun ke laut Pantai seger untuk menangkap jelmaan Putri Mandalika.

Untuk menjaga stamina warga yang datang harus membeli makanan dan kopi, sehingga ajang itu menjadi peluang untuk menggerakkan ekonomi masyarakat pasca-COVID-19.

Bencana COVID-19 memang sudah berlalu, namun dampak pertumbuhan ekonomi masyarakat khususnya di Pulau Lombok masih terasa, bahkan tidak jarang usaha jasa perhotelan dan restoran serta para UMKM banyak gulung tikar, karena tidak mampu mengimbangi biaya operasional dengan jumlah pendapatan.

Lokasi Bau Nyale tersebut berada di kawasan program proyek prioritas nasional pengembangan pariwisata KEK Mandalika yang telah ditentukan Presiden Jokowi. Di kawasan tersebut juga telah dibangun Sirkuit dan setiap tahun menjadi tuan rumah MotoGP, WSBK serta event sport tourism.

Wisatawan diperkirakan meningkat jika penyelenggaraan MotoGP Mandalika bisa diselaraskan dengan event Bau Nyale. 

"Bau Nyale ini salah satu roda penggerak ekonomi masyarakat dan bisa menjadi magnet peningkatan kunjungan wisatawan. Pedagang yang berjualan di acara ini mencapai ribuan dan perputaran uang itu bisa mencapai ratusan juta bahkan Rp1 miliar seperti tahun sebelumnya" kata Kepala Dinas Koperasi dan UMKM Lombok Tengah, Ikhsan.


Dampak COVID-19 

Bencana COVID-19 tidak hanya berdampak pada kesehatan, namun sangat berdampak terhadap ekonomi masyarakat, karena kunjungan wisatawan sepi, sehingga para UMKM juga ikut terdampak, meskipun tidak mematikan usaha para pedagang.

Daya beli masyarakat juga menurun drastis, sehingga pemerintah daerah maupun pusat terus melakukan berbagai upaya dalam membangkitkan ekonomi melalui pengembangan UMKM. 

Selain itu, berbagai kegiatan salah satu seperti Bau Nyale terus dilaksanakan, sehingga bisa menarik kunjungan wisatawan dan ekonomi masyarakat bisa bergerak.

Selain itu, jasa transportasi juga terdampak, karena tidak ada wisatawan yang datang berlibur ke Lombok, karena pemerintah menerapkan pembatasan wisatawan untuk mencegah peningkatan kasus COVID-19 yang melanda semua negara di dunia di 2020 hingga 2022.

Banyak hotel dan restoran serta pusat oleh-oleh sepi pengunjung dampak COVID-19, sehingga dengan adanya event Bau Nyale ini menjadi magnet peningkatan kunjungan wisatawan di pulau Lombok dan NTB umumnya.

Oleh karena itu, pemerintah daerah terus melestarikan budaya Bau Nyale tersebut, untuk dijadikan ajang promosi destinasi wisata di Lombok.

Menurut Bupati Kabupaten Lombok Tengah, H Lalu Pathul Bahri, ribuan warga berkumpul di KEK Mandalika untuk menangkap cacing laut. Mereka yang datang pasti membutuhkan makanan dan minuman, sehingga ekonomi masyarakat pasti bergerak.

Apalagi Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) sempat memasukkan tradisi budaya Sasak itu masuk dalam Karisma Event Nusantara (KEN). Dengan adanya dukungan dari pemerintah pusat melalui Kemenparekraf, tentunya bisa menjadi promosi pariwisata di Lombok Tengah. 

Bantuan yang diberikan pemerintah pusat dalam rangka mendukung perayaan puncak Bau Nyale tidak dalam bentuk anggaran, melainkan berupa program kegiatan seperti halnya program kegiatan di malam puncak, termasuk promosi Bau Nyale supaya berskala nasional guna mendukung peningkatan kunjungan wisatawan di Lombok Tengah.

Rangkaian kegiatan Bau Nyale biasanya juga menjadi rangkaian dalam menyambut ajang Wolrd Superbike (WSBK) di Sirkuit Mandalika, NTB.  Beberapa kegiatan rangkaian kegiatan Bau Nyale tahun ini seperti Peresean, pemilihan Putri Mandalika, Karnaval Mandalika dan hiburan malam puncak Bau Nyale. 

Nilai ekonomis

Nyale atau cacing laut yang ditangkap warga dalam Festival Bau Nyale yang digelar setiap tahun tersebut memiliki nilai ekonomi.

Nyale yang ditangkap saat keluar di Pantai Seger pada tanggal 20 bulan 10 penanggalan Sasak tersebut tidak hanya bisa dimakan untuk dikonsumsi sendiri. Namun, tidak jarang dari warga lingkar Mandalika menjual Nyale hasil tangkapan tersebut kepada para wisatawan atau warga lainnya yang tidak ikut menangkap Nyale.

Nyale yang dijual ada yang sudah dipepes dan siap untuk dimasak dijadikan lauk, ada juga Nyale yang dijual dalam keadaan hidup. Harga Nyale tergantung dari banyaknya Nyale yang keluar atau yang berhasil ditangkap ribuan warga. Jika sedikit hasil tangkapan harga cukup tinggi Rp30 ribu satu bungkus dan jika banyak yang keluar biar mencapai Rp20 ribu per bungkus.

Warga yang ingin membeli Nyale mereka bisa membeli di sepanjang jalan keluar dari KEK Mandalika. Selain itu, bisa juga tersedia di Pasar Tradisional di wilayah setempat.

Waktu Bau Nyale (menangkap cacing laut) di Pantai Seger, Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Mandalika diputuskan tanggal  29 Februari hingga 1 Maret 2024. Sebelum sidang besar ini, telah dilakukan sidang kecil yang dihadirkan pemangku adat dari delapan penjuru mata angin, tokoh agama dan tokoh pemuda atau perwakilan masing-masing wilayah.

Sidang kecil itu untuk menghimpun pendapatan para tokoh. Keputusan ini diambil berdasarkan hati nurani untuk kebersamaan masyarakat Sasak.

Nyale yang keluar setiap tahun memang tidak banyak seperti tahun sebelumnya, hal itu dampak dari lingkungan atau biota laut yang tidak terjaga. Sehingga diharapkan masyarakat dapat menjaga alam, agar Bau Nyale ini bisa dilestarikan dan bisa ditangkap masyarakat.