Komitmen Pertamina jaga ketahanan energi tepat dan bijak

id pertamina,ketahanan energi,harga minyak dunia

Komitmen Pertamina jaga ketahanan energi tepat dan bijak

Ekonom dan Co-Founder Dewan Pakar Institute of Social, Economics, and Digital (ISED) Ryan Kiryanto. ANTARA/Dokumentasi Pribadi

Jakarta (ANTARA) - Ekonom senior Institute for Social, Economic, and Digital (ISED) Ryan Kiryanto menilai optimisme dan komitmen Pertamina untuk terus menjaga ketahanan energi nasional dan mendukung stabilitas perekonomian merupakan keputusan yang tepat dan bijak.

"Di tengah kondisi geopolitik yang terus meningkat di Timur Tengah, yang berpotensi membuat harga crude oil (minyak mentah) terus melesat, sikap tersebut sebagai wujud kehadiran negara melalui Pertamina," kata Ryan Kiryanto melalui sambungan telepon di Jakarta, Minggu.

Dalam keadaan apa pun negara melalui Pertamina, kata dia, harus hadir. Bentuk kehadiran negara tersebut ikut menstabilkan harga di pasar, yang menjadi konsumsi masyarakat banyak, termasuk Pertamina terus memelihara pasokan BBM guna menjaga ketahanan energi.

Menurut dia, optimisme dan komitmen Pertamina tersebut sangat penting, terutama dalam kondisi saat ini, apalagi melesatnya harga minyak dunia akibat kondisi geopolitik sangat berpengaruh pada perekonomian nasional, terlebih dibarengi dengan melemahnya nilai tukar mata uang.

Jika dalam situasi geopolitik seperti sekarang, Pertamina menaikkan harga BBM misalnya, menurut dia, efek spiralnya ke mana-mana. Ada yang namanya first round effect yaitu pembeli BBM akan langsung terpukul karena harga tiba-tiba menjadi lebih mahal.

Hal yang membahayakan, lanjut dia, adalah second round effect yakni harga barang-barang akan mengikuti kenaikan harga BBM tersebut.

"Ujungnya, kalau harga barang kelompok barang pokok naik, yang terjadi adalah inflasi," kata dia

Selain kenaikan harga barang di dalam negeri, kata Ryan Kiryanto, kenaikan harga barang di luar negeri juga membuat \makin berat. Kondisi demikian disebut sebagai imported inflation yakni kenaikan harga akibat tingginya harga barang dari luar negeri.

"Indonesia akan terkena double inflation factor, causa prima-nya adalah risiko geopolitik yang meningkat," katanya.

Jika itu terjadi, tentu sangat memberatkan masyarakat. Oleh karena itu, Pertamina sebagai BUMN di tengah situasi yang sedang hangat secara geopolitik, tentu dari sisi timing, pilihan terbaik adalah tidak menyesuaikan harga BBM dahulu sambil terus menjaga ketahanan energi.

Baca juga: GM Susanto tak mampu raih poin babak pertama
Baca juga: Ketum Utut harapkan lahir Grand Master dari Pertamina Indonesian Tournament


Sebelumnya, Direktur Utama Pertamina Nicke Widyawati menyatakan bahwa Pertamina akan terus meningkatkan upaya mitigasi risiko untuk mengurangi potensi dampak dari dinamika situasi ekonomi dan geopolitik, termasuk pengendalian biaya, pemilihan komposisi crude yang optimal, pengelolaan inventory yang efektif, peningkatan produksi high-yield products dan efisiensi di semua lini operasional

Terus meningkatnya ketegangan di Timur Tengah, memicu kenaikan harga minyak dunia. Pada hari Jumat (26/4) misalnya, harga minyak WTI naik 0,39 persen ke 83,90 dolar AS per barel. Sementara itu, jenis brent naik 0,38 persen ke 89,35 dolar AS per barel. Dalam sepekan, harga minyak WTI menguat 2,04 persen. Pada periode yang sama, harga minyak brent menguat 2,36 persen. Meski demikian, Pertamina menyatakan optimistis dan terus berkomitmen untuk selalu menjaga ketahanan energi nasional dan mendukung stabilitas perekonomian.