Lombok Barat (Antaranews NTB) - Pemerintah Kabupaten Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat meluncurkan Gerakan "Tiga Jurus Selamat Generasi Lombok Barat" dalam mengatasi stunting atau tubuh anak bayi lima tahun pendek, penyakit tuberculosis, dan peningkatan kapasitas imunisasi.
Peluncuran gerakan dalam rangka meningkatkan derajat kesehatan masyarakat tersebut dilakukan oleh Bupati Lombok Barat Fauzan Khalid, di "Bencingah Agung" Kantor Bupati Lombok Barat di Gerung, Senin.
Hadir dalam acara tersebut seluruh kader pos pelayanan terpadu se-Kabupaten Lombok Barat, kepala desa, camat, dan seluruh anggota serta organisasi profesi, seperti bidan, perawat, ahli gizi, ahli kesehatan lingkungan, ahli kesehatan masyarakat, dan para tuan guru yang tergabung dalam dai kesehatan Kabupaten Lombok Barat.
Bupati Lombok Barat Fauzan Khalid menyebutkan persentase anak stunting di daerah setempat pada 2017 tercatat 32,01 persen. Angka tersebut mengalami penurunan selama tiga tahun terakhir daripada sebelumnya yang 49,8 persen.
Penurunan drastis tersebut membuat Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) tertarik menjadikan Kabupaten Lombok Barat sebagai daerah percontohan penurunan kasus stunting di tingkat nasional.
"Tapi ini bukan hanya tugas pemerintah, namun semua pihak. Saya harap nanti pemerintah desa pun menyisihkan alokasi dana desa untuk membantu penanganan stunting," katanya.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Lombok Barat Rachman Sahnan Putra menyebutkan kasus stunting tersebar merata di semua kecamatan. Namun, daerah tertinggi di Kecamatan Narmada 37,32 persen, sedangkan terendah di Kecamatan Gunung Sari 21,24 persen.
Pihaknya berjuang keras untuk menurunkan angka tersebut. Upaya yang dilakukan berupa intervensi sensitif dan intervensi spesifik.
Intervensi sensitif adalah upaya nonkesehatan berupa jaminan ketersediaan pangan, perbaikan sanitasi, air bersih, serta keamanan pangan. Intervensi itu berkontribusi 70 persen terhadap penanggulangan stunting yang artinya upaya tersebut membutuhkan kesadaran dan aksi seluruh pihak.
Ia mengatakan intervensi spesifik dilakukan oleh jajarannya berupa penanganan teknis kesehatan dan pengobatan, namun hanya berkontribusi 30 persen.
"Kami juga membangun sistem informasi seperti e-puskesmas, e-pustu, dan e-posyandu, serta menguatkan aspek pelayanan ke masyarakat, terutama di 1.000 hari pertama kehidupan," kata Rachman. (*)