Mataram (ANTARA) - Pemerintah Kota (Pemkot) Mataram, Nusa Tenggara Barat, melalui Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) segera melakukan koordinasi dengan Balai Wilayah Sungai (BWS) untuk mengusulkan normalisasi sungai hingga muara secara masif, guna mencegah potensi banjir selama musim hujan.

"Dalam waktu dekat ini kami akan ke BWS bersama camat untuk menyuarakan agar BWS membantu normalisasi masif terhadap sungai yang ada di Mataram hingga ke muara," kata Kepala Dinas PUPR Kota Mataram Lale Widiahning di Mataram, Rabu.

Hal tersebut disampaikan menyikapi kondisi sedimentasi sejumlah sungai yang melintasi Kota Mataram, seperti Sungai Ancar, Unus, dan Jangkuk.

Namun kondisi terparah adalah Sungai Ancar dan Unus yang berada di Kecamatan Sekarbela. Setiap hujan datang dengan intensitas tinggi dan lama, dua sungai tersebut selalu meluap hingga memicu banjir ke permukiman warga.

Baca juga: Kali Jangkuk Mataram dinormalisasi untuk antisipasi banjir

Kondisi itu salah satunya dipicu karena terjadi pendangkalan sungai akibat sedimentasi yang tinggi serta tumpukan sampah.

"Sementara petugas kami, tidak bisa melakukan normalisasi maksimal jika hanya dilakukan secara manual," katanya.

Terkait dengan itu pihaknya bersama para camat akan mencoba melakukan koordinasi dengan BWS dan meminta BWS untuk melakukan normalisasi masif dengan menggunakan alat berat.

"Jika tahun ini tidak bisa semua, kami harapkan tahun 2026 normalisasi sungai di Mataram dapat menjadi program prioritas BWS," katanya.

Meskipun, diakuinya, kondisi sempadan sungai, terutama di Sungai Ancar di kawasan Kekalik, akan sulit untuk mencari jalan masuk alat berat karena kawasan tersebut padat permukiman penduduk.

"Tapi ketika usulan tersebut disetujui, kami berkomitmen akan mencari jalan agar alat berat bisa masuk ke sungai dan melakukan normalisasi," katanya.

Baca juga: Koordinasi antar daerah di Mataram ditingkatkan antisipasi banjir

Selain sedimentasi, kata Lale, kondisi sempadan sungai yang terus menyempit akibat maraknya bangunan di pinggir kali menjadi pemicu terjadinya banjir akibat luapan air ke permukiman penduduk.

"Andai saja kawasan itu bisa dibebaskan lima meter menjadi jalan, penataan dan pemeliharaan kawasan itu pasti bisa maksimal dan masyarakat bisa bebas dari ancaman banjir," katanya.

Upaya itu, diakuinya, membutuhkan komitmen bersama dan solusi terkait kemana warga akan pindah atau pemerintah harus menyiapkan tempat tinggal layak sebelum warga direlokasi.

"Kalau kami berbicara penataan bebas banjir di Kekalik, butuh anggaran besar dan masalahnya bisa panjang," katanya.

Oleh karena itu upaya cepat yang dapat dilakukan saat ini adalah melakukan normalisasi secara berkala, agar sungai bisa menampung debit air secara maksimal ketika terjadi hujan deras dengan intensitas lama.

"Selanjutnya, partisipasi masyarakat menjaga kebersihan dengan tidak membuang sampah ke sungai menjadi hal mendasar yang penting dilakukan warga sekitar," katanya.

Baca juga: Antisipasi banjir, Pemkot Mataram gencarkan normalisasi saluran air
Baca juga: Cegah banjir, Mataram tingkatkan kesiagaan hadapi musim hujan
Baca juga: Jembatan sementara pasca-banjir di Mataram mulai dimanfaatkan



Pewarta :
Editor: Abdul Hakim
COPYRIGHT © ANTARA 2026