Perilaku AS di Karibia dipicu keinginan kuasai minyak Venezuela

id venezuela,maduro,kolombia,petro,amerika,trump,narkoba,minyak

Perilaku AS di Karibia dipicu keinginan kuasai minyak Venezuela

Arsip foto - Presiden Venezuela Nicolas Maduro menyampaikan pidato setelah konferensi pers dengan anggota pers internasional di Hotel Eurobuilding di ibu kota Caracas, (15/9/2025). ANTARA/Ivan Mcgregor/Andolu/pri.

Washington (ANTARA) - Sikap bermusuhan Amerika Serikat terhadap Venezuela didorong oleh keinginan untuk mendapatkan kendali atas sumber daya minyak Venezuela, bukan untuk menumpas perdagangan narkoba, kata Presiden Kolombia Gustavo Petro.

"(Minyak) adalah inti dari persoalan ini," kata Petro dalam wawancara dengan CNN, seperti dikutip RIA Novosti pada Rabu (26/11).

Dia menambahkan bahwa negara Karibia itu memiliki cadangan minyak terbukti paling besar di dunia. Petro mengaku yakin pembahasan soal minyak akan mendominasi negosiasi antara AS dan Venezuela karena Presiden AS Donald Trump tidak tertarik pada demokratisasi Venezuela maupun perang melawan narkoba.

Baca juga: Mamdani anggap pertemuan dengan Trump sebagai peluang New York

Presiden Kolombia itu dikenal vokal mengkritik retorika agresif Trump terhadap Venezuela dan kehadiran militer AS di kawasan Karibia, yang disebut-sebut untuk memerangi perdagangan narkoba. Dia mengungkapkan keyakinannya bahwa pengerahan itu adalah untuk menggulingkan Presiden Nicolas Maduro.

Dengan dalih memerangi narkoba, Trump sejak awal September telah mengizinkan sejumlah serangan terhadap kapal-kapal yang diduga terlibat dalam penyelundupan narkoba di Karibia dan Pasifik Timur. Operasi itu telah menghancurkan puluhan kapal dan menewaskan lebih dari 80 orang.

Baca juga: Ribuan demonstran padati New York menolak kebijakan pemerintah

Awal November, Trump menyatakan bahwa akhir kekuasaan Maduro di Venezuela tinggal menunggu waktu. Namun, dia menegaskan bahwa AS tidak berencana melancarkan perang terhadap Venezuela. Pada Selasa, Trump mengatakan dia "mungkin" akan berbicara Maduro.

Sumber: Sputnik/RIA Novosti


Pewarta :
Editor: I Komang Suparta
COPYRIGHT © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.