Mataram (ANTARA) - Memasuki 2026, isu kebencanaan kembali menempati ruang penting dalam percakapan publik. Frekuensi kejadian alam yang tinggi, data yang semakin terbuka, serta peringatan yang datang silih berganti menegaskan bahwa risiko bukan sesuatu yang jauh, melainkan hadir dalam keseharian.
Di wilayah rawan bencana, ancaman tidak selalu muncul dalam bentuk peristiwa besar, tetapi sering hadir sebagai kejadian kecil yang berulang dan saling bertaut.
Nusa Tenggara Barat berada dalam lanskap alam yang kompleks. Aktivitas tektonik menjadi bagian tak terpisahkan dari wilayah ini, seiring keberadaan zona subduksi di selatan, sistem sesar di utara, serta sejumlah sesar aktif di darat dan laut.
Sepanjang 2025, ribuan gempa bumi tercatat terjadi. Mayoritas berkekuatan kecil dan tidak dirasakan, tetapi akumulasi data tersebut menegaskan bahwa energi geologi terus bergerak.
Sejarah menunjukkan bahwa gempa merusak justru lahir dari sistem yang sama, sehingga aktivitas kecil yang berulang tidak bisa dimaknai sebagai kondisi aman.
Pada saat bersamaan, dinamika atmosfer menunjukkan intensitas yang tak kalah serius. Lebih dari satu juta sambaran petir tercatat menyambar langit NTB dalam setahun, dengan konsentrasi tinggi di Pulau Sumbawa. Petir bukan sekadar fenomena visual, melainkan penanda proses cuaca ekstrem berskala lokal.
Ia berkaitan erat dengan hujan deras berdurasi pendek, angin kencang, serta potensi gangguan pada aktivitas masyarakat, pertanian, dan infrastruktur dasar.
Memasuki awal 2026, sejumlah indikator iklim global memang bergerak menuju kondisi yang lebih netral. Tren hujan lebat diprakirakan melandai, namun bukan berarti risiko menghilang.
Pola hujan justru cenderung lebih lokal, tidak merata, dan sulit diprediksi. Dalam konteks kebencanaan, kondisi semacam ini kerap lebih berbahaya karena menurunkan kewaspadaan. Ancaman datang tiba-tiba, dengan waktu respons yang semakin sempit.
Karakter NTB sebagai provinsi kepulauan menambah lapisan risiko lain. Banyak desa dan kelurahan berbatasan langsung dengan laut. Ketika hujan lebat, pasang maksimum, dan dinamika atmosfer terjadi bersamaan, banjir rob dan gelombang tinggi menjadi ancaman nyata.
Pengalaman akhir 2025 menunjukkan bagaimana air laut dapat naik signifikan dan menggenangi kawasan pesisir. Siklus astronomi dan iklim memastikan bahwa pola semacam ini tidak berhenti di satu periode saja.
Dalam situasi tersebut, kewaspadaan menjadi isu publik yang mendesak. Data gempa, petir, dan cuaca ekstrem seharusnya tidak berhenti sebagai laporan tahunan, melainkan menjadi dasar kebijakan dan perilaku kolektif.
Tantangan utama terletak pada konsistensi. Kewaspadaan sering menguat setelah bencana besar, lalu perlahan melemah ketika situasi terlihat normal. Padahal, risiko di NTB lebih sering bersifat kumulatif dan berulang.
Pada tingkat masyarakat, mitigasi perlu dipahami sebagai bagian dari kebiasaan hidup. Gempa kecil yang sering terjadi seharusnya melatih refleks aman, bukan menumbuhkan sikap abai.
Sambaran petir perlu dimaknai sebagai alasan menunda aktivitas tertentu. Hujan singkat namun deras harus diantisipasi dengan kesiapan lingkungan dan infrastruktur dasar.
Pada tingkat kebijakan, integrasi data kebencanaan ke dalam perencanaan pembangunan menjadi kunci. Tata ruang, standar bangunan, dan pengelolaan kawasan pesisir perlu menjadikan risiko sebagai variabel utama.
Sistem peringatan dini yang semakin baik harus diiringi dengan komunikasi yang sederhana dan mudah dipahami.
Pada akhirnya, alam tidak sedang mengirim ancaman tanpa makna. Getaran bumi, kilat di langit, dan hujan yang datang tiba-tiba adalah isyarat yang menuntut kesadaran kolektif.
Kewaspadaan bukan bentuk pesimisme, melainkan upaya menjaga ruang hidup bersama agar tetap aman dan berkelanjutan.
Baca juga: Tajuk ANTARA NTB - Pupuk bersubsidi di NTB pada titik uji
Baca juga: Tajuk ANTARA NTB -Kapal pesiar di NTB dan ujian nilai tambah
Baca juga: Tajuk ANTARA NTB - Ujian kemandirian PAD NTB
Baca juga: Tajuk ANTARA NTB - Narkoba di NTB yang tak kunjung padam
Baca juga: Tajuk ANTARA NTB - Menata arah NTB menuju 2026
Baca juga: Tajuk ANTARA NTB - Cuaca tak berpola menguji NTB
Baca juga: Tajuk ANTARA NTB - Rinjani dan Tambora butuh jeda
Baca juga: Tajuk ANTARA NTB - Menakar siaga bencana NTB di musim libur
Baca juga: Tajuk ANTARA NTB - Langit NTB tak lagi longgar
Baca juga: Tajuk ANTARA NTB - Libur panjang, Pelayanan publik NTB dipertaruhkan
Baca juga: Tajuk ANTARA NTB - Jejak liburan dan janji wisata NTB