Mataram (ANTARA) - Karapan kerbau kembali menandai awal tahun 2026 di Sumbawa Barat, Nusa Tenggara Barat (NTB).
Arena berlumpur di Bentiu tidak sekadar menjadi tempat adu kecepatan sepasang kerbau, tetapi juga ruang pertemuan antara masa lalu dan masa depan.
Tradisi agraris yang lahir dari kebutuhan membajak sawah itu, kini tampil sebagai wajah kebudayaan yang hidup, sekaligus penopang ekonomi rakyat.
Di tengah perubahan sosial, tekanan ekonomi, dan arus modernisasi, karapan kerbau menjadi wacana penting tentang bagaimana kebudayaan lokal dipertahankan, tanpa kehilangan relevansinya.
Sepanjang beberapa tahun terakhir, Pemerintah Kabupaten Sumbawa Barat menempatkan karapan kerbau sebagai bagian dari kalender kegiatan daerah. Pada awal 2026, ajang ini kembali digelar secara berkelanjutan di berbagai lokasi.
Kehadirannya bukan hanya hiburan rakyat, tetapi juga penegasan bahwa tradisi lokal masih memiliki daya hidup. Ribuan warga datang, pedagang kecil membuka lapak, jasa transportasi lokal bergerak, dan sirkulasi ekonomi terbentuk di sekitar arena.
Karapan kerbau menjadi bukti bahwa kebudayaan bukan beban masa lalu, melainkan modal sosial dan ekonomi yang nyata.
Di balik kemeriahan itu, terdapat pertanyaan mendasar. Sejauh mana karapan kerbau dilihat sebagai agenda strategis, bukan sekadar peristiwa seremonial.
Tahun 2026 menghadirkan tantangan baru. Ketika daerah berlomba memperkuat ekonomi berbasis pariwisata dan ekonomi kreatif, tradisi, seperti karapan kerbau, membutuhkan pendekatan yang lebih terencana agar tidak berhenti sebagai tontonan musiman.
Warisan agraris
Karapan kerbau atau barapan kebo lahir dari kehidupan agraris masyarakat Sumbawa. Tradisi ini berakar pada proses membajak sawah di tanah liat yang berat, ketika kerbau dipacu untuk menggemburkan lahan sebelum musim tanam.
Dari kebutuhan praktis itu tumbuh ritual, aturan, dan nilai kebersamaan. Karapan kerbau mengajarkan kerja sama, sportivitas, dan penghormatan pada alam.
Di Sumbawa Barat, tradisi ini tetap hidup karena masih terhubung dengan identitas masyarakat. Kerbau tidak dipandang semata sebagai hewan ternak, tetapi sebagai bagian dari siklus hidup pertanian.
Ketika karapan digelar, masyarakat lintas desa dan kecamatan berkumpul. Arena menjadi ruang silaturahim, tempat cerita lama dan baru bertemu. Modal sosial inilah yang menjadikan karapan kerbau lebih dari sekadar lomba.
Penyelenggaraan karapan kerbau pada awal 2026 mampu menggerakkan ekonomi lokal, terutama pelaku UMKM. Pedagang makanan, minuman, kerajinan, hingga jasa parkir dan transportasi merasakan dampaknya.
Ini menegaskan bahwa tradisi budaya memiliki efek ekonomi berlapis, meski sering luput dari perhitungan kebijakan formal.
Bersamaan dengan itu, warisan agraris ini juga menghadapi tekanan. Perubahan pola beternak, pergeseran minat generasi muda, serta dominasi ternak sapi yang dianggap lebih praktis berpotensi menggerus populasi kerbau.
Jika tidak diantisipasi, karapan kerbau berisiko kehilangan basis utamanya, yakni keberlanjutan ternak dan pengetahuan lokal yang menyertainya.
Ekonomi budaya
Tahun 2026 menempatkan karapan kerbau di persimpangan antara pelestarian dan komersialisasi. Di satu sisi, penguatan agenda ekonomi budaya membuka peluang besar.
Karapan kerbau dapat menjadi daya tarik wisata berbasis kearifan lokal, berbeda dari atraksi buatan yang mudah ditemui di banyak tempat. Keunikan arena berlumpur, irama sorak penonton, dan keterlibatan komunitas menjadi pengalaman otentik yang bernilai tinggi.
Di sisi lain, tanpa pengelolaan yang hati-hati, orientasi ekonomi dapat menggerus nilai dasar tradisi. Risiko eksploitasi, pengabaian kesejahteraan hewan, hingga penyempitan makna budaya menjadi tantangan nyata.
Karapan kerbau tidak boleh direduksi menjadi sekadar produk wisata yang kehilangan ruh agrarisnya.
Sumbawa Barat telah memiliki modal awal berupa infrastruktur arena dan dukungan pemerintah daerah, namun tantangan berikutnya adalah tata kelola.
Karapan kerbau perlu ditempatkan dalam ekosistem yang lebih luas, terhubung dengan sektor peternakan, pariwisata, pendidikan budaya, dan ekonomi kreatif. Dengan demikian, manfaat ekonomi tidak bersifat sesaat, tetapi berkelanjutan.
Pengalaman daerah lain menunjukkan bahwa festival budaya yang berhasil bertahan adalah yang mampu menjaga keseimbangan antara nilai tradisi dan inovasi.
Karapan kerbau memiliki peluang serupa jika dikelola sebagai agenda budaya tahunan yang konsisten, dengan standar penyelenggaraan yang jelas dan berpihak pada masyarakat lokal.
Menjaga lintasan
Pelestarian karapan kerbau pada 2026 tidak cukup hanya dengan memastikan kalender perlombaan tetap berjalan.
Tantangan sesungguhnya justru terletak pada bagaimana menjaga seluruh rantai penopang tradisi ini agar tetap hidup dan relevan.
Di balik sorak penonton dan derap kerbau di lintasan berlumpur, ada ekosistem panjang yang perlu dirawat dengan kebijakan yang konsisten.
Populasi kerbau, misalnya, menuntut perhatian serius melalui kebijakan peternakan yang berpihak pada ternak lokal. Tanpa itu, karapan kerbau berisiko kehilangan fondasi utamanya.
Pada saat yang sama, pengetahuan tentang perawatan, pelatihan, serta makna simbolik karapan kerbau perlu diwariskan kepada generasi muda. Pewarisan ini tidak cukup lewat cerita, tetapi melalui keterlibatan langsung dalam proses latihan, perawatan, hingga penyelenggaraan ajang.
Dari sisi kebijakan publik, karapan kerbau dapat diintegrasikan dengan pendidikan budaya dan promosi pariwisata berbasis komunitas.
Pendekatan ini sejalan dengan semangat pelayanan publik yang mendidik dan memberdayakan, di mana masyarakat tidak sekadar sebagai penonton, tetapi menjadi pelaku utama yang memperoleh manfaat ekonomi, sekaligus kebanggaan identitas.
Lebih jauh, karapan kerbau mengajarkan nasionalisme dalam bentuk sederhana, namun nyata. Ia menunjukkan bagaimana budaya lokal menjadi bagian utuh dari mozaik kebudayaan Indonesia.
Merawat tradisi di Sumbawa Barat berarti merawat keberagaman yang menjadi fondasi kebangsaan.
Karapan kerbau pada akhirnya adalah cermin. Ia memantulkan cara sebuah daerah memandang warisan leluhurnya di tengah tuntutan zaman.
Tahun 2026 memberi kesempatan untuk menegaskan bahwa pelestarian budaya dan pembangunan ekonomi dapat berjalan beriringan.
Di lintasan berlumpur itu, kerbau berlari membawa pesan bahwa masa depan bisa dibangun dengan berpijak pada jejak peradaban sendiri.
Baca juga: Tajuk ANTARA NTB - Karapan Kerbau di persimpangan zaman