Logo Header Antaranews Mataram

Menakar masa depan kampus di timur Nusantara

Minggu, 11 Januari 2026 10:30 WIB
Image Print
Sejumlah mahasiswa mengendarai sepeda motor melintas di depan gerbang kampus Universitas Mataram (Unram) yang ditutup sementara di Mataram, NTB, Selasa (19/1). (ANTARA FOTO/Ahmad Subaidi/wsj.)

Mataram (ANTARA) - Sore menjelang malam itu, suasana di Gedung Rektorat Universitas Mataram (Unram) terasa berbeda. Bukan sekadar hasil pemilihan rektor yang diumumkan, melainkan sebuah penanda transisi kepemimpinan yang akan menentukan arah perguruan tinggi negeri terbesar di Nusa Tenggara Barat (NTB) dalam lima tahun ke depan.

Prof Sukardi resmi terpilih sebagai Rektor Universitas Mataram periode 2026–2030 dengan perolehan suara dominan. Kemenangan telak ini tidak hanya mencerminkan legitimasi prosedural, tetapi juga kepercayaan kolektif sivitas akademika terhadap sosok yang dinilai memahami denyut institusi dari dalam.

Pemilihan rektor bukan sekadar ritual demokrasi kampus. Ia adalah momentum evaluasi, harapan, sekaligus pertaruhan masa depan. Universitas Mataram berada pada persimpangan penting.

Di satu sisi, capaian akademik terus meningkat, jumlah guru besar bertambah, dan akreditasi unggul telah diraih. Di sisi lain, tantangan perguruan tinggi negeri kian kompleks, yakni keterbatasan fiskal, tuntutan globalisasi pendidikan, disrupsi teknologi, hingga ekspektasi publik agar kampus tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga berdampak nyata bagi masyarakat.

Dalam konteks itulah, terpilihnya Prof Sukardi menjadi relevan untuk ditelaah lebih dalam. Bukan hanya siapa yang menang, melainkan apa makna kepemimpinan ini bagi arah Unram ke depan.


Jejak akademik

Prof Sukardi bukan figur yang hadir tiba-tiba dalam kontestasi ini. Rekam jejak akademik dan manajerialnya terentang panjang dan berlapis. Ia tumbuh dari lingkungan akademik Universitas Mataram, menapaki jenjang struktural dari level program studi hingga posisi strategis sebagai Wakil Rektor II yang mengelola keuangan dan sumber daya universitas.

Pengalaman ini memberinya pemahaman menyeluruh tentang persoalan institusi, dari ruang kelas hingga neraca anggaran.

Capaian akademiknya juga mencerminkan konsistensi. Meraih gelar guru besar pada usia relatif muda, Prof Sukardi dikenal produktif dalam riset, publikasi, dan pengabdian kepada masyarakat.

Namun, yang kerap menjadi catatan penting adalah gaya kepemimpinannya yang cenderung tenang, tidak retoris, dan berorientasi pada kerja administratif yang rapi. Dalam konteks perguruan tinggi negeri, kualitas ini sering kali justru menjadi fondasi stabilitas.

Sebagai Wakil Rektor II, ia berada di jantung pengelolaan keuangan kampus. Periode ini bertepatan dengan fase penuh tekanan, mulai dari penyesuaian kebijakan anggaran, tuntutan efisiensi, hingga kebutuhan menjaga kesejahteraan dosen dan tenaga kependidikan tanpa membebani mahasiswa. Stabilitas institusi yang terjaga dalam beberapa tahun terakhir menjadi modal simbolik yang kuat dalam pemilihan rektor.

Dominasi suara yang diraih Prof Sukardi juga dapat dibaca sebagai sinyal bahwa sivitas akademika menginginkan kesinambungan yang diperbarui, bukan perubahan drastis tanpa pijakan. Ada harapan bahwa Unram dipimpin oleh figur yang memahami tradisi internal, tetapi tetap mampu membaca arah perubahan eksternal.


Harapan dan tantangan

Masa jabatan 2026–2030 akan menjadi periode krusial. Tantangan utama Unram bukan lagi sekadar bertahan, melainkan melompat. Perguruan tinggi negeri di luar Jawa kini dituntut bersaing secara nasional bahkan global, tanpa kehilangan fungsi dasarnya sebagai institusi pelayanan publik.

Dalam kerangka ini, kepemimpinan rektor harus mampu menyeimbangkan idealisme akademik dengan realitas kebijakan.

Pertama, agenda penguatan kualitas akademik perlu diarahkan pada dampak, bukan sekadar angka. Peningkatan jumlah guru besar dan publikasi ilmiah harus diikuti dengan relevansi riset terhadap persoalan riil masyarakat, khususnya di wilayah kepulauan dan daerah agraris.

Universitas Mataram memiliki posisi strategis untuk menjadi pusat pengetahuan terapan yang menjawab isu pangan, kelautan, kebencanaan, dan pariwisata berkelanjutan.

Kedua, tata kelola keuangan dan sumber daya manusia tetap menjadi kunci. Pengalaman Prof Sukardi di bidang ini menjadi harapan sekaligus ujian.

Transparansi, akuntabilitas, dan efisiensi harus diterjemahkan ke dalam kebijakan yang adil, mendorong kinerja, serta menjaga keseimbangan antara kualitas layanan dan keterjangkauan biaya pendidikan.

Dalam konteks ini, kampus dituntut kreatif mencari sumber pendanaan alternatif tanpa terjebak pada komersialisasi berlebihan.

Ketiga, transformasi digital dan adaptasi terhadap teknologi baru tidak bisa ditunda. Dunia pendidikan tinggi sedang bergerak cepat, termasuk pemanfaatan kecerdasan buatan dalam pembelajaran dan riset.

Tantangannya bukan sekadar mengadopsi teknologi, tetapi memastikan dosen dan mahasiswa siap secara etis dan kompetensi. Kampus perlu menjadi ruang aman untuk inovasi, sekaligus penjaga nilai-nilai akademik.

Keempat, relasi kampus dengan mahasiswa dan masyarakat harus diperkuat. Sikap netral organisasi kemahasiswaan dalam pemilihan rektor menunjukkan kedewasaan demokrasi kampus.

Ke depan, dialog yang sehat antara pimpinan universitas dan mahasiswa perlu dijaga agar kebijakan tidak lahir dalam ruang tertutup. Universitas Mataram harus tetap menjadi ruang kritik, bukan sekadar birokrasi pendidikan.


Amanah publik

Terpilihnya Prof Sukardi bukan akhir dari proses, melainkan awal dari tanggung jawab yang lebih besar. Rektor perguruan tinggi negeri pada dasarnya adalah pemegang amanah publik.

Ia mengelola institusi yang dibiayai negara, diisi oleh kepercayaan masyarakat, dan diharapkan melahirkan generasi berpengetahuan serta berkarakter.

Lima tahun ke depan akan menguji apakah legitimasi besar yang diraih dalam pemilihan dapat diterjemahkan menjadi kebijakan yang inklusif dan progresif.

Kepemimpinan yang membumi perlu dipadukan dengan visi yang melampaui rutinitas administratif. Unram membutuhkan arah yang jelas, yakni menjadi kampus unggul yang tidak tercerabut dari konteks sosialnya.

Pada titik inilah, harapan publik bertumpu. Bukan pada retorika perubahan, melainkan pada konsistensi kerja, keberanian mengambil keputusan strategis, dan kesediaan mendengar kritik.

Jika kepemimpinan baru mampu menjaga keseimbangan antara stabilitas dan inovasi, maka Universitas Mataram tidak hanya akan melangkah maju, tetapi juga memberi teladan tentang bagaimana perguruan tinggi negeri menjalankan perannya sebagai pilar pembangunan bangsa.

Pemilihan telah usai. Babak baru dimulai. Yang kini ditunggu bukan lagi angka suara, melainkan jejak kebijakan dan dampak nyata bagi dunia pendidikan dan masyarakat luas.

Baca juga: Tajuk ANTARA NTB - Sukardi dan taruhan masa depan Unram



Oleh

COPYRIGHT © ANTARA 2026