Lombok Timur (ANTARA) - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat (NTB), menyatakan pada 2026 menargetkan 46 persen capaian Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) bagi masyarakat, sebagai bentuk penguatan program nasional yang dicanangkan pemerintah pusat.
"Pelayanan primer di seluruh puskesmas digiatkan untuk deteksi dini faktor risiko penyakit masyarakat," kata Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Lombok Timur HL Aries Fahroji di Lombok Timur, Kamis.
Ia mengatakan capaian Program CKG pada tahun 2025 dinilai cukup bagus yaitu 35 persen atau 517.449 jiwa dari target 36 Persen.
"Alhamdulillah, di 2025 capaian target cukup bagus, bahkan di tahun 2026 harus lebih baik lagi, dan ditargetkan 46 persen atau 600.000 jiwa," katanya.
Untuk mencapai target itu pihaknya akan mengubah strategi dari pasif menjadi aktif, dari menunggu ke jemput bola dengan turun langsung ke masyarakat.
"Dulu kita menunggu di puskesmas, sekarang regulasi terbaru membolehkan kita mobile ke masyarakat. Kalau dulu fokusnya hanya yang ulang tahun, anak sekolah, ibu hamil, dan bayi, sekarang masyarakat umum pun kita sasar," katanya.
Baca juga: Sebanyak 582 warga di Lombok Timur manfaatkan program CKG
Lebih lanjut Aries mengatakan berdasarkan data lapangan ditemukan adanya pergeseran tren penyakit dari penyakit infeksi ke Penyakit Tidak Menular (PTM). Kasus diabetes melitus (DM) dan hipertensi menjadi temuan yang paling mendominasi.
" Mengetahui profil kesehatan sejak dini adalah kunci untuk mencegah komplikasi yang lebih berat," katanya.
Ia mengatakan CKG ini bertujuan mengetahui profil individu. Jadi petugas tahu, individunya juga tahu kondisi kesehatannya, sehingga bisa melakukan antisipasi.
"Jangan sampai sudah sakit, baru mengakses layanan kesehatan. Kita ingin mencegah sebelum parah," tegasnya.
Baca juga: Sebanyak 96 warga Lombok Timur manfaatkan CKG
Disinggung terkait tingginya kasus diabetes, Aries mengatakan hal itu dipicu pola hidup dan pola makan, terutama untuk DM Tipe 2 yang banyak ditemukan di masyarakat.
"Gaya hidup yang kurang gerak dan pola makan yang banyak mengandung gula itu yang banyak terjadi sekarang, sehingga menyebabkan banyak kasus DM di tengah masyarakat," katanya.
Selain fokus pada cek kesehatan, Dinkes Lombok Timur juga memperkuat kesiagaan tim medis menghadapi ancaman bencana alam, terutama di wilayah rawan seperti Sembalun, Suela, dan Sakra Timur.
Untuk setiap lokasi bencana, Dinkes minimal akan menerjunkan tiga orang personel yang bersifat dinamis sesuai kebutuhan lapangan. Fokus utama kesiagaan ini meliputi kesiapan Sumber Daya Manusia (SDM) yang paham penanganan gawat darurat serta ketersediaan sarana prasarana obat-obatan.
"Ada beberapa puskesmas yang rentan terhadap gangguan bencana, seperti longsor, hujan lebat, dan pohon tumbang. Kami selalu mengoordinasikan untuk waspada dan menyiapkan tim yang melakukan asesmen awal ketika terjadi bencana geologi," katanya.
Baca juga: Cek kesehatan gratis di Lombok Timur dimulai dari 35 puskesmas