Jakarta (ANTARA) - Sejumlah ekonom sepakat BI-Rate diproyeksikan tetap bertahan pada level 4,75 persen bulan ini jelang pengumuman hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI Kamis siang ini, seiring tekanan dan volatilitas arus modal dalam beberapa minggu terakhir.
Chief Economist BSI Banjaran Surya memandang bahwa nilai tukar rupiah masih menghadapi potensi tekanan sehingga mempertahankan suku bunga acuan (BI-Rate) dinilai menjadi langkah tepat.
“Walaupun inflasi relatif terjaga, BI juga perlu mempertahankan daya tarik yield surat berharga dibanding yang lain. Di sisi lain, pengaruh MSCI membuat aliran modal melalui pasar saham cenderung tertahan,” kata Banjaran saat dihubungi di Jakarta, Kamis.
Untuk menjaga stabilitas rupiah, Banjaran mencatat bank sentral Indonesia meningkatkan penerbitan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) pada Februari 2026, dengan kembali menerapkan operasi moneter yang bersifat kontraktif.
Baca juga: Ekonom: Perlu sanksi lebih tegas bagi pelanggar aturan DHE SDA
Dihubungi terpisah, Department Head of Macroeconomic and Financial Market Research Permata Bank Faisal Rachman mencatat bahwa tekanan pasca peringatan dari Morgan Stanley Capital International (MSCI) terkait isu free float serta revisi outlook Indonesia oleh Moody's dari stabil menjadi negatif berpotensi meningkatkan risk premium dan volatilitas arus modal.
Ia menilai, BI dalam jangka pendek akan tetap memprioritaskan stabilitas nilai tukar rupiah dan kepercayaan investor dibandingkan mendorong pelonggaran moneter. Menurutnya, ruang penurunan suku bunga dalam jangka pendek masih terbatas, setidaknya hingga tekanan mereda dan sentimen pasar kembali kondusif.
Sementara itu, Ekonom Makroekonomi dan Pasar Keuangan LPEM FEB UI Teuku Riefky mencatat bahwa sejak pengumuman MSCI, Indonesia mengalami arus modal keluar dari pasar saham yang mencapai 1,01 miliar dolar AS.
Baca juga: Ekonom Indef menilai kehadiran Danantara di WEF angin segar ekonomi Indonesia
Kemudian, Indonesia juga mengalami arus modal keluar dari pasar obligasi yang mencapai 0,37 miliar dolar AS sejak perubahan penilaian kondisi ekonomi oleh Moody’s. Secara kumulatif, Indonesia mencatatkan arus modal keluar sebesar 1,06 miliar dolar AS dalam 30 hari terakhir.
Alhasil, imbal hasil (yield) surat utang pemerintah tenor 10 tahun naik 6 basis poin (bps) dari 6,31 persen pada 19 Januari 2026 menjadi 6,40 persen per 13 Februari 2026, sementara tenor 1 tahun melonjak 20 bps dari 4,67 persen menjadi 4,87 persen, mengindikasikan terjadinya arus modal keluar di berbagai tenor obligasi.
Dalam rangka mengurangi tekanan arus modal keluar, catat Riefky, BI secara aktif meningkatkan kepemilikan surat utang pemerintah untuk mengurangi tekanan nilai tukar. Sebagai hasilnya, depresiasi rupiah relatif terbatas.
Sejak akhir bulan lalu, rupiah hanya melemah sebesar 0,27 persen dan bahkan menguat sebesar 0,44 persen (month to month/mtm) dalam 30 hari terakhir. Tetapi, rupiah tercatat mengalami depresiasi sebesar 0,84 persen secara year to date (ytd) dan terdepresiasi sebesar 3,74 persen (year on year/yoy) dalam satu tahun terakhir.
Di samping tekanan arus modal, inflasi juga meningkat pada Januari 2026 mencapai 3,55 persen (yoy), sedikit berada di luar kisaran target BI sebesar 1,5 persen-3,5 persen yang disebabkan oleh tekanan harga pada beberapa komponen.
Tekanan inflasi diestimasi akan terus berlanjut dalam jangka pendek menyusul datangnya periode Ramadhan dan Idul Fitri. Kepala Ekonom BCA David Sumual menilai, BI dan bank sentral AS (The Fed) akan cenderung mempertahankan suku bunga acuan setidaknya hingga akhir kuartal pertama tahun ini. Meski demikian, risiko perlambatan ekonomi AS serta koreksi harga aset dapat membuka ruang bagi penurunan suku bunga pada paruh kedua tahun ini.
Pewarta : Rizka Khaerunnisa
Editor:
I Komang Suparta
COPYRIGHT © ANTARA 2026