Mataram (ANTARA) - Pemerintah Provinsi (Pemprov) Nusa Tenggara Barat (NTB) menaruh perhatian serius terhadap tingginya konsumsi beras rata-rata warga yang mencapai 103 kilogram per kapita per tahun.

Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan NTB Eva Dewiyani mengatakan diversifikasi pangan menjadi jalan alternatif untuk menjaga ketahanan pangan daerah agar berkelanjutan.

"Konsumsi beras per kapita yang tinggi mencapai 103 kilogram per tahun menuntut diversifikasi pangan yang lebih gencar untuk mengurangi ketergantungan terhadap beras," ujar dia dalam keterangan di Mataram, Selasa.

Salah satu bentuk diversifikasi pangan adalah mengganti beras dengan sorgum. Di NTB, menurut dia, sorgum termasuk tanaman pangan potensial karena tahan terhadap kondisi air yang terbatas.

Baca juga: Polda NTB bongkar penjualan beras oplosan di Lombok

Eva mengatakan meski stok beras daerah berada dalam level aman dan meningkat, namun ketergantungan terhadap satu komoditas pangan justru berpotensi menimbulkan kerentanan jangka panjang.

Pada 2025, NTB memproduksi sebanyak 1,69 juta ton gabah kering giling atau meningkat 16,85 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Luas panen padi mencapai 322.927 hektare dengan produktivitas rata-rata 52,59 kuintal per hektare.

Pemerintah terus berupaya memperkuat optimalisasi lahan pertanian, penggunaan benih unggul, serta mendorong konsumsi pangan alternatif non-beras sebagai bagian dari penyelarasan program swasembada pangan nasional di tingkat daerah.

Baca juga: Produksi padi NTB melejit 17,56 persen, tembus 1,71 juta ton

Menurut Eva, gerakan Stop Boros Pangan dan Selamatkan Pangan harus terus digaungkan demi mengatasi kerawanan pangan dan gizi di masa depan, sekaligus mengurangi limbah dan menekan emisi gas rumah kaca.

Saat ini food waste dan food loss menjadi tantangan serius bagi ketahanan pangan di NTB, sebab sekitar 40 persen dari total timbunan sampah merupakan sisa makanan.

Lebih lanjut ia menyampaikan diversifikasi pangan adalah kunci menjaga ketahanan pangan di tengah tantangan alih fungsi lahan dan perubahan iklim yang dapat menyebabkan penurunan produktivitas beras.

"Gerakan Stop Boros Pangan mengajak masyarakat dan sektor pariwisata untuk bijak mengonsumsi pangan," ujar dia.

Baca juga: Bulog genjot serapan gabah petani NTB, Bidik target 4 juta ton beras 2026
Baca juga: Bulog NTB tancap gas serap 240.660 ton beras di 2026
Baca juga: Stok kebutuhan pokok di NTB aman jelang Ramadhan



Pewarta :
Editor: Abdul Hakim
COPYRIGHT © ANTARA 2026