Mataram (ANTARA) - Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (BBPOM) Mataram menyatakan masyarakat awam dapat mengenali ciri-ciri pangan olahan yang mengandung bahan berbahaya melalui pengamatan sederhana secara kasat.

"Jika makan kerupuk, lalu lidah terasa getir, maka kerupuk itu terindikasi mengandung boraks," kata Kepala BBPOM Mataram Yogi Abaso di Mataram, Rabu.

Yogi mengatakan kerupuk yang tetap renyah meski sudah dikeluarkan dari kemasan dan disimpan pada suhu ruangan selama dua hingga tiga hari juga bisa menjadi indikasi penggunaan bahan berbahaya.

Menurutnya, hal serupa bisa ditemukan pada mi basah atau mi kuning. Jika mi yang disimpan pada suhu ruang tidak basi keesokan hari, maka mi tersebut kemungkinan juga mengandung bahan berbahaya.

"Berdasarkan pengalaman kami, produk takjil berbahaya (seringkali) mengandung bahan-bahan, seperti rhodamin B, formalin, borax, atau metanil yellow," ucap Yogi.

Baca juga: Kerupuk terigu di Lombok masih tercemar boraks, BBPOM waspada

Berbagai senyawa berbahaya tersebut dapat menyebabkan iritasi pencernaan, merusak hati dan ginjal, mengganggu sistem saraf, serta meningkatkan risiko kanker bila dikonsumsi berulang oleh manusia.

Yogi menyampaikan kategori bahan pangan basah, seperti ikan, ciri yang mudah dikenali adalah tidak dikerubungi lalat. Jika itu terjadi, maka besar kemungkinan ikan tersebut mengandung formalin.

Menurutnya, ciri-ciri fisik yang bisa dilihat secara kasat mata menjadi alarm awal bagi masyarakat agar selektif dalam memilih makanan dan minuman yang layak konsumsi.

"Ciri-ciri itu bisa digunakan masyarakat untuk memilah dan memilih pangan, sehingga risiko paparan zat berbahaya dapat ditekan," kata Yogi.

Baca juga: Kopi keliling viral di Lombok, BBPOM Mataram turun tangan

Selama periode Ramadan, BBPOM Mataram bersama Dinas Kesehatan serta Dinas Perindustrian dan Perdagangan kabupaten/kota terus meningkatkan pengawasan pangan mengingat konsumsi masyarakat cenderung meningkat pada momen tersebut.

BBPOM Mataram berperan membantu memastikan mutu dan keamanan pangan yang beredar melalui serangkaian uji cepat hingga uji laboratorium.

Baca juga: BBPOM Mataram awasi takjil cegah bahan pangan berbahaya
Baca juga: Susu Formula S-26 Promil Gold pHPro 1 dipastikan tak beredar di Mataram
Baca juga: BBPOM intensifkan pengawasan pangan di Pulau Lombok



Pewarta :
Editor: Abdul Hakim
COPYRIGHT © ANTARA 2026