Mataram (ANTARA) - Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (BBPOM) Mataram menyatakan senyawa boraks masih menjadi zat berbahaya yang paling sering dipakai dalam proses pembuatan produk pangan olahan di Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB).

Kepala BBPOM Mataram Yogi Abaso mengatakan boraks sering disalahgunakan sebagai bahan campuran agar kerupuk menjadi lebih renyah.

"Rata-rata bahan berbahaya boraks ada pada kerupuk terigu," ujarnya saat diwawancarai dalam siniar Gerbang Mendengar ANTARA NTB di Mataram, Rabu.

Yogi mengungkapkan kegiatan pengawasan takjil dan pangan olahan yang dilakukan pada 2025, pihaknya telah mengambil sekitar 200 sampel dari berbagai wilayah di Pulau Lombok.

Baca juga: BBPOM intensifkan pengawasan pangan di Pulau Lombok

Dari hasil uji tersebut ada sebagian kecil sampel masuk kategori tidak memenuhi ketentuan dengan temuan terbanyak berupa boraks.

BBPOM Mataram melakukan pengawasan melalui metode uji sampel menggunakan test kit untuk mendeteksi bahan-bahan berbahaya dalam pangan olahan, seperti boraks, formalin, rhodamin B, dan metanil yellow.

"Kalau positif, kami langsung rujuk ke laboratorium untuk diuji kembali validitasnya sembari kami melakukan pendampingan dan sosialisasi kepada pelaku usaha," kata Yogi.

Selain temuan boraks, BBPOM Mataram juga mendapati sejumlah produk kedaluwarsa serta kemasan pangan yang rusak atau penyok. Petugas langsung meminta pelaku usaha untuk menurunkan produk rusak dari etalase, memusnahkan, bahkan melakukan pengembalian kepada distributor.

Baca juga: Di Mataram ditemukan kerupuk mengandung boraks

Yogi menyampaikan pangan olahan yang mengandung bahan berbahaya paling banyak ditemukan di Kota Mataram. Hal itu sejalan dengan padatnya populasi penduduk dan pelaku usaha pangan di ibu kota Provinsi NTB tersebut.

"Temuan kami terkait bahan berbahaya masih terfokus di Kota Mataram," ucapnya.

BBPOM Mataram memperketat pengawasan pangan terutama selama periode konsumsi masyarakat yang tinggi, seperti Ramadan, Lebaran, dan hari-hari besar keagamaan lainnya.

Kegiatan pendampingan dan sosialisasi terus dilakukan agar para pelaku usaha pangan olahan memproduksi makanan maupun minuman yang aman dan layak bagi masyarakat di Pulau Lombok.

Baca juga: Kesadaran tentang pangan sehat masih rendah



Pewarta :
Editor: Abdul Hakim
COPYRIGHT © ANTARA 2026