Dompu (ANTARA) - Dinas Kesehatan Kabupaten Dompu, Nusa Tenggara Barat, mencatat sebanyak 216 kasus suspek campak yang tersebar di delapan kecamatan sepanjang 2026. Meski terjadi peningkatan kasus, pemerintah daerah belum menetapkan status kejadian luar biasa (KLB).

"Kenaikan kasus tahun ini lebih tinggi dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, namun belum ditetapkan sebagai KLB," kata Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Dompu Hj. Mariam Ulfa di Dompu, Rabu.

Ia menjelaskan, ratusan kasus suspek tersebut tersebar di Kecamatan Dompu sebanyak 96 kasus, Woja 66 kasus, Manggelewa 18 kasus, Hu’u 10 kasus, Kilo 10 kasus, Pajo 8 kasus, Kempo 7 kasus, dan Pekat 1 kasus.

Menurut dia, pasien campak saat ini menjalani perawatan di puskesmas masing-masing kecamatan, serta di RSUD Dompu dan RSU Pratama Manggelewa.

Baca juga: Tiga fase gejala perlu diwaspadai terkena campak

Mariam mengatakan, sebagian besar penderita merupakan anak usia enam tahun ke bawah. Hingga saat ini belum dilaporkan adanya kasus kematian akibat penyakit tersebut.

"Rata-rata penderita berusia enam tahun ke bawah dan sampai hari ini belum ada laporan kasus kematian," ujarnya.

Untuk menekan penularan, pemerintah daerah melaksanakan outbreak response immunization (ORI) atau imunisasi respons wabah yang menyasar kelompok usia rentan.

Ia menjelaskan, ORI bertujuan meningkatkan cakupan imunisasi hingga 95 persen guna mencapai kekebalan kelompok pada anak usia 9 hingga 59 bulan.

Baca juga: Pemkab Bima tetapkan KLB campak, 306 kasus dan satu kematian

Dinas Kesehatan Dompu saat ini menyiapkan sekitar 400 vial vaksin atau setara dengan 4.000 dosis untuk mendukung pelaksanaan imunisasi tersebut.

"ORI bertujuan mengendalikan wabah, menurunkan angka kesakitan, serta mencegah kematian akibat penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi," katanya.

Program ORI campak di Kabupaten Dompu menargetkan sebanyak 25.705 anak usia 9 hingga 59 bulan.

Selain pelaksanaan imunisasi, pemerintah daerah juga melakukan sejumlah langkah penanganan, antara lain memberikan perawatan pada anak yang terkonfirmasi campak, memastikan ketersediaan obat dan vitamin A, serta melakukan penyelidikan epidemiologi terhadap pasien dan kontak erat guna memutus rantai penularan penyakit.

Baca juga: Pentingnya anak mendapat vaksin campak
Baca juga: Mataram sukses jaga nol kasus campak di tengah KLB NTB
Baca juga: Dinkes Mataram pastikan imunisasi MR aman cegah campak pada anak



Pewarta :
Editor: Abdul Hakim
COPYRIGHT © ANTARA 2026