Lombok Timur (ANTARA) - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat meminta Pertamina untuk mencegah masyarakat panic buying atau membeli secara berlebihan tabung gas elpiji 3 kilogram (Kg) bersubsidi dampak isu kelangkaan gas tersebut.

"Padahal isu kelangkaan tabung gas elpiji bersubsidi tersebut tidak benar adanya," kata Bupati Lombok Timur Haerul Warisin di Lombok Timur, Senin.

Hal itu disampaikan saat rapat kordinasi bersama Pertamina, agen, dan perwakilan pangkalan gas elpiji guna membahas sulitnya masyarakat memperoleh gas elpiji 3 kg yang menjadi keluhan.

Bupati tidak menampik sulitnya mendapatkan gas elpiji 3 kg yang terjadi sejak akhir Ramadhan hingga saat ini dipicu berbagai isu yang menyebabkan masyarakat panik dan membeli secara berlebihan.

Baca juga: Pertamina Patra Niaga tambah 73.620 tabung LPG 3 kg di NTB jelang Paskah

Begitu Tim Satgas Elpiji yang telah dibentuk beberapa waktu juga menemukan elpiji 3 kg digunakan tidak sesuai peruntukannya.

"Satgas, di antaranya menemukan pengusaha ayam juga memanfaatkan elpiji tersebut. Masih banyak yang tidak boleh pakai ternyata pakai elpiji 3 kg ini," katanya .

"Sudah jelas pula dicetak pada tabung bahwa gas tersebut untuk masyarakat miskin," katanya.

Bupati juga menyadari pertumbuhan ekonomi Lombok Timur yang disebut tertinggi ke-2 di NTB pada 2025 menyebabkan kemampuan masyarakat meningkat, termasuk dalam penggunaan bahan bakar elpiji ini.

Baca juga: Pertamina Patra Niaga jaga distribusi LPG subsidi tetap aman di Lombok

Untuk itu, pihaknya berharap Pertamina bisa melakukan super ekstra dropping elpiji 3 kg untuk menekan panic buying yang terjadi di masyarakat.

"Dropping tersebut dibarengi dengan pengawasan ketat oleh satgas," katanya.

Selain itu, sebagai solusi jangka panjang, Bupati akan mengusulkan kepada kementerian terkait untuk menggunakan data desil untuk pendistribusian tabung gas 3 kg, sehingga tepat sasaran kepada masyarakat miskin.

"Ini salah satu upaya untuk menyelesaikan (clear-kan) distribusi yang tidak tepat," tegasnya.

Ia meminta para agen untuk terus melakukan pendistribusian guna menormalisasi kondisi. Pemerintah daerah juga akan menjalin komunikasi dan kerja sama yang baik dengan Sales Branch Manager (SBM) Rayon 1 NTB Pertamina Patra Niaga.

"Kami mengingatkan agen agar tidak mengurangi jatah untuk pangkalan dan memberikan jatah sesuai peruntukan," katanya.

Sementara itu, Sales Branch Manager (SBM) Rayon 1 NTB Pertamina Patra Niaga Tommy Wisnu Ramdan mengatakan akan melaporkan usulan permintaan tersebut ke pusat terlebih dahulu.

"Mulai 1-14 April, untuk penyaluran di Lombok Timur, baik reguler maupun fluktuatif mencapai 40.556 per hari. Artinya sudah ada penambahan 5.000-6.000 tabung per hari," katanya.

Sebelumnya, salah seorang agen, Reza mengungkapkan bahwa pangkalan sudah diminta untuk tetap menghimbau masyarakat agar membeli masing-masing satu tabung gas.

"Para agen tidak bisa berbuat banyak, Pertamina pun kewalahan. Saat ini tren masyarakat membeli sekaligus tabung dan isinya," katanya.

Ia menambahkan bahwa ekstra dropping atau penyaluran tambahan yang dilakukan sudah melebihi alokasi normal, namun agen tetap mengingatkan agar penjualan sesuai harga eceran tertinggi (HET).

"Terdapat sekitar 1.000 kandang ayam yang beberapa di antaranya ditemukan juga menggunakan gas elpiji 3 kg, begitu pula dengan mitra dari Dapur MBG yang turut memakai gas bersubsidi tersebut," katanya.

 



Pewarta :
Editor: I Komang Suparta
COPYRIGHT © ANTARA 2026