Mataram (ANTARA) - Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) menyatakan aksi beli panik atau panic buying menjadi salah satu pemicu kelangkaan elpiji tiga kilogram dalam beberapa waktu terakhir.

Kepala Dinas ESDM NTB Samsudin mengatakan kelangkaan yang terjadi tersebut bukan akibat kekurangan pasokan dari hulu melainkan faktor distribusi dan perilaku konsumen.

"Kelangkaan yang dirasakan masyarakat lebih bersifat fluktuasi di tingkat pangkalan atau pengecer akibat keterlambatan pengiriman atau aksi borong oleh konsumen," ujarnya saat dihubungi di Mataram, Kamis.

Samsudin menjelaskan isu kelangkaan telah menimbulkan kepanikan dan memperparah kondisi di lapangan. Konsumen cenderung membeli dalam jumlah lebih banyak dari biasa, sehingga pasokan elpiji tiga kilogram di tingkat pangkalan menjadi cepat habis.

Laju permintaan musiman yang meningkat juga turut memberikan tekanan terhadap distribusi. Konsumsi elpiji rumah tangga dan pelaku usaha mikro kecil menengah (UMKM) kuliner meningkat signifikan saat menjelang perayaan hari besar keagamaan.

"Menjelang hari raya seperti Idul Fitri, Idul Adha, Nyepi, dan hari raya lainnya menyebabkan aktivitas rumah tangga dan UMKM sektor kuliner meningkat drastis, sehingga konsumsi penggunaan elpiji tiga kilogram meningkat," kata Samsudin.

Lebih lanjut ia menyoroti masih adanya penggunaan elpiji tiga kilogram oleh kelompok masyarakat mampu dan pelaku usaha menengah ke atas. Padahal, elpiji bersubsidi tersebut hanya diperuntukkan bagi rumah tangga miskin dan usaha mikro.

Pada 2026, NTB mendapatkan alokasi kuota elpiji tiga kilogram sebanyak 130.802 metrik ton yang tersebar di seluruh kabupaten maupun kota dengan rincian Lombok Barat sebanyak 20.343 metrik ton, Lombok Tengah 24.784 metrik ton, Lombok Timur 30.591 metrik ton, Lombok Utara 6.207 metrik ton, dan Kota Mataram 17.798 metrik ton.

Adapun Kabupaten Sumbawa sebanyak 11.003 metrik ton, Dompu 5.495 metrik ton, Bima 7.914 metrik ton, Sumbawa Barat 3.112 metrik ton, dan Kota Bima mencapai 3.555 metrik ton.

Dinas ESDM NTB menilai total kuota sebanyak 130.802 metrik ton tersebut mencukupi kebutuhan masyarakat di seluruh Nusa Tenggara Barat.

"Saat ini kondisi stok di tingkat Depo Pertamina terpantau dalam level aman," pungkas Samsudin.



Pewarta :
Editor: Agus Setiawan
COPYRIGHT © ANTARA 2026