Dompu (ANTARA) - Perubahan pola tanam dari jagung ke tebu mulai terjadi di Desa Soritatanga, Kecamatan Pekat, Kabupaten Dompu, Nusa Tenggara Barat, dalam tiga tahun terakhir seiring meningkatnya minat petani terhadap komoditas yang dinilai lebih berkelanjutan dan menguntungkan.
Kepala Desa Soritatanga Merafudin mengatakan peralihan tersebut berawal dari keresahan petani akibat anjloknya harga jagung pada periode 2024–2025 yang tidak sesuai dengan harapan di tingkat lapangan.
Ia menjelaskan masyarakat kemudian mulai mencari alternatif komoditas yang mampu memberikan kepastian pendapatan dalam jangka panjang, hingga akhirnya melirik tanaman tebu.
"Tanpa harus dipaksa, masyarakat mulai berpikir sendiri untuk beralih ke tebu karena melihat perbedaannya," katanya.
Menurut dia, tebu dinilai lebih efisien dibanding jagung karena tidak perlu ditanam ulang setiap musim. Dalam satu kali tanam, tebu dapat dipanen hingga lima tahun dengan perawatan yang baik.
Selain itu, biaya produksi juga lebih stabil karena tidak terlalu bergantung pada fluktuasi harga bibit dan pupuk seperti yang terjadi pada komoditas jagung.
Merafudin menambahkan, perubahan tersebut tidak hanya berkaitan dengan komoditas pertanian, tetapi juga menyangkut kepercayaan petani terhadap sistem kemitraan yang dibangun bersama perusahaan.
Dalam pola kemitraan itu, petani diberi ruang untuk mengelola lahan secara mandiri, mulai dari proses tanam hingga perawatan, sehingga menumbuhkan rasa tanggung jawab terhadap hasil produksi.
"Hakikatnya seperti merawat kebun sendiri, itu yang membuat mereka serius," ujarnya.
Ia mengungkapkan, dampak ekonomi dari peralihan tersebut mulai dirasakan masyarakat dalam dua hingga tiga tahun terakhir. Sejumlah warga yang sebelumnya tidak memiliki kendaraan kini mampu membeli sepeda motor hingga mobil pikap dari hasil bertani tebu.
"Perubahannya terlihat nyata, ada yang mampu membeli kendaraan dengan nilai puluhan juta rupiah," katanya.
Perkembangan sektor tebu di wilayah tersebut juga didukung penetapan Kabupaten Dompu sebagai kawasan tebu nasional yang mendorong peningkatan produksi melalui pengelolaan lahan berbasis kemitraan.
Meski demikian, Merafudin mengakui masih terdapat sejumlah kendala di lapangan, salah satunya gangguan ternak yang masuk ke area perkebunan dan merusak tanaman tebu milik warga.
Baca juga: Petani Dompu dilatih produksi bibit tebu unggul
Ia menyebut kondisi tersebut kerap terjadi di wilayah yang berbatasan dengan area peternakan akibat kelalaian dalam pengawasan.
"Kadang pagar dirusak, lalu ternak masuk dan merusak kebun dalam waktu singkat," ujarnya.
Untuk mengantisipasi potensi konflik, pemerintah desa aktif berkoordinasi dengan aparat kepolisian dan pemerintah kecamatan guna menjaga stabilitas sosial di tengah perubahan ekonomi yang terjadi.
Merafudin menegaskan pentingnya komunikasi antarwarga agar persoalan di lapangan tidak berkembang menjadi perselisihan.
Baca juga: Danantara siapkan Rp1,5 Triliun beli gula petani
Di sisi lain, ia terus mendorong petani agar melihat tebu sebagai peluang jangka panjang, termasuk dalam meningkatkan akses pendidikan bagi anak-anak di desa.
"Dari tebu ini, kita berharap bisa menyekolahkan anak-anak hingga meraih cita-cita," ucapnya.
Secara pribadi, Merafudin juga mengembangkan usaha tani tebu dengan mengelola lahan seluas dua hektare dan berencana menambah luas tanam dalam waktu dekat.
Fenomena peralihan ke tebu juga terjadi di sejumlah dusun di Desa Soritatanga, termasuk Dusun Karyasari, yang diikuti oleh warga lokal maupun pendatang.
Bahkan, salah satu perangkat desa disebut mampu memperoleh pendapatan hingga ratusan juta rupiah per tahun dari komoditas tersebut.
Data di Kecamatan Pekat menunjukkan ekspansi tebu terjadi di berbagai desa dengan luasan yang terus meningkat. Desa Nangakara tercatat sekitar 500 hektare, Desa Sorinomo mencapai 1.700 hektare, Desa Beringin Jaya 1.200 hektare, Desa Pekat 700 hektare, Desa Karombo 500 hektare, serta Desa Kadindi sekitar 450 hektare.
Peningkatan tersebut didorong oleh produktivitas tebu yang dinilai mampu mencapai dua kali lipat dibanding komoditas sebelumnya, serta adanya dukungan insentif dari pabrik gula.
Dengan kondisi tersebut, tebu kini tidak hanya menjadi alternatif, tetapi telah berkembang menjadi komoditas utama yang menopang perekonomian masyarakat di Kecamatan Pekat, Kabupaten Dompu.
Pewarta : Awaludin
Editor:
I Komang Suparta
COPYRIGHT © ANTARA 2026