Mataram (ANTARA) - Pemerintah Kota Mataram, Provinsi Nusa Tenggara Barat, berkomitmen melanjutkan program bus gratis sebagai bentuk pelayanan publik sehingga tidak terdampak efisiensi, karena manfaat program itu dapat dirasakan langsung oleh masyarakat.

Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Mataram Zulkarwain di Mataram, Kamis, mengatakan, operasional bus gratis itu digunakan untuk pelajar dan masyarakat umum, saat ini masih berjalan dengan status uji coba dan tidak dipungut biaya alias gratis.

"Hingga saat ini, kami belum melakukan penarikan tarif sejak dicanangkan pada akhir November 2025," katanya.

Selain mempermudah mobilitas, program bus gratis dengan dua armada berkapasitas masing-masing bus 17 seat (tempat duduk) itu, disiapkan untuk mengatasi masalah kemacetan yang kian terasa di sejumlah titik di Kota Mataram, terutama pada jam sibuk.

Penggunaan kendaraan pribadi, khususnya sepeda motor, masih mendominasi aktivitas harian warga. Kondisi itulah, yang mendorong pemerintah kota untuk menghadirkan sistem transportasi umum yang lebih menarik dan dapat diandalkan.

Untuk operasional, layanan bus gratis berlangsung enam hari yakni Senin hingga Sabtu. Pada Senin–Kamis bus beroperasi dalam dua shift yakni pukul 06.30–10.30 Wita dan pukul 13.00–15.00 Wita. Sedangkan, hari Jumat dan Sabtu hanya tersedia satu shift, yakni pukul 06.30–12.00 Wita.

Adapun rute bus gratis meliputi Sangkareang, Jalan Gajah Mada, Kampus Muhammadiyah,Pasar Pagesangan, Kekalik, Mall Epicentrum, Kampus AMM, Kampus UIN, Islamic Center, Teras Udayana, hingga eks Bandara Selaparang.

Rute itu dipilih karena menghubungkan kawasan pendidikan, pusat perbelanjaan, ruang publik, dan area perkantoran yang menjadi pusat aktivitas masyarakat di Kota Mataram.

Untuk memudahkan layanan bus gratis tersebut, Dishub menyediakan sistem pemantauan posisi bus melalui pemindaian barcode yang ditempatkan di beberapa lokasi strategis.

Baca juga: Mahasiswa NTB dapat jatah mudik gratis, Bus disiapkan hingga Sumbawa

"Dengan pemindaian barcode itu, masyarakat dapat mengetahui perkiraan waktu tiba bus pada titik yang ditetapkan tanpa harus menunggu lama," katanya.

Berdasarkan hasil evaluasi selama uji coba bus gratis, katanya, sejauh ini animo dan respons masyarakat Kota Mataram terbilang sangat positif.

Bus tersebut selalu ramai diisi oleh para pelajar yang berangkat secara rombongan, serta ibu-ibu yang ingin pergi ke pasar maupun menghadiri acara pengajian.

Sementara menanggapi kekhawatiran mengenai tidak adanya pemasukan daerah untuk menutupi biaya operasional untuk bahan bakar minyak (BBM), Zulkarwin, mengatakan, program ini merupakan bentuk nyata kehadiran pemerintah dalam melayani masyarakat.

Baca juga: Program bus sekolah gratis di Lombok Tengah berlanjut tahun ini

Karena itu, program tersebut mendapatkan dukungan penuh dari Wali Kota Mataram dan Sekretaris Daerah (Sekda) Mataram.

"Ini kan bentuk pelayanan publik. Jadi Pak Wali melalui Pak Sekda juga mempertahankan pelayanan publik ini sehingga tidak kena efisiensi," katanya.

Menyinggung biaya operasional dua unit bus tersebut, dia memprediksi anggaran bahan bakar minyak (BBM) yang dialokasikan berada di kisaran Rp100 juta hingga Rp150 juta per tahun. Sedangkan untuk sistem penggajian supirnya dikelola melalui Tenaga Penunjang Kegiatan (TPK).

"Untuk angka pasti BBM akan saya cek kembali," katanya saat ditemui di Kantor Wali Kota Mataram.



Pewarta :
Editor: I Komang Suparta
COPYRIGHT © ANTARA 2026