Mataram (ANTARA) - Personel Taruna Siaga Bencana Nusa Tenggara Barat  ikut ambil bagian dalam penanganan pengungsi letusan Gunung Merapi, di Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta.

  Kepala Dinas Sosial Kependudukan dan Catatan Sipil Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) Bachrudin, di Mataram, Jumat, mengatakan 10 orang personel Taruna Siaga Bencana (Tagana) tengah menjalankan tugas kemanusiaan di lokasi pengungsian "Youth Center", Desa Bolawen, Kabupaten Sleman.

  "Mereka sudah berada di sana sejak 8 November  dan langsung menjalankan tugas kemanusiaan, yang bergabung dengan Detasemen Perbekalan dan Angkutan (Bekang) TNI Angkatan Darat (AD)," ujarnya.

  Lokasi pengungsian "Youth Center" Bolawen yang lokasinya berjarak sekitar 25 kilometer dari puncak Gunung Merapi itu, menampung 2.100 orang pengungsi yang datang dari Kecamatan Turi dan Tempel, Kabupaten Sleman.

  "Sekitar 30 persen pengungsi itu merupakan anak-anak dan remaja, selebihnya orang dewasa," katanya.

  Bachrudin mengatakan, 10 orang Tagana NTB yang sedang menjalankan misi kemanusiaan di lokasi pengungsian letusan Gunung Merapi itu didukung satu unit mobil dapur umum lapangan (Dumlap) yang dibawa dari NTB.

  Dari 10 orang anggota Tagana NTB itu, sebanyak delapan orang merupakan anggota Tagana Kabupaten Lombok Timur, dan dua orang lainnya merupakan Tagana Provinsi NTB.

  Keberangkatan Tagana NTB itu didanai oleh Pemerintah Kabupaten Lombok Timur, sehingga mayoritas personel Tagana yang terlibat dalam penanganan pengungsi Merapi itu berasal dari Lombok Timur.

  "Mobil Dumlap dibawa ke sana sesuai harapan Pemerintah DIY kepada anggota Tagana dari berbagai daerah di Indonesia yang ingin membantu menangani pengungsi Merapi," ujarnya.

  Menurut Bachrudin,  semula berbagai daerah di Indonesia beranggapan bahwa personel Tagana yang akan diterjunken untuk membantu penanganan korban letusan Gunung Merapi berasal dari provinsi terdekat.

  Pemerintah Provinsi DIY kemudian mempersilakan Tagana dari berbagai daerah ikut menangani pengungsi Merapi asalkan membawa  kendaraan Dumlap agar tidak menyulitkan pemerintah daerah setempat.

  "Karena itu Tagana NTB yang diterjunkan ke lokasi pengungsian di Sleman disertai kendaraan Dumlap, dan kami berharap misi kemanusiaan itu dapat meringankan penderitaan pengungsi Merapi itu," ujarnya.

  Tagana terbentuk di berbagai daerah di Indonesia sejak 2006 lalu dan sudah beranggotakan puluhan ribu orang, terdiri atas anggota pramuka, karang taruna, pemuda gereja dan masjid serta insan pers.

  NTB sudah memiliki 659 orang anggota Tagana yang menyebar di sembilan kabupaten/kota. Sebanyak 150 orang berada dalam bimbingan Dinas Kesejahteraan Sosial kabupaten/kota di Pulau Sumbawa dan selebihnya di Pulau Lombok.

  Semua anggota Tagana terdata di Departemen Sosial terkait dukungan kesejahteraan meski kesehariannya berada dalam bimbingan dan pengawasan langsung dinas sosial setempat.

  Tagana NTB pun sudah berkali-kali diterjunkan ke lokasi bencana alam, termasuk ke lokasi gempa tektonik berkekuatan 6,7 Skala Richter yang melanda kabupaten dan Kota Bima, November 2009.

  Tagana yang diterjunkan untuk membersihkan puing-puing yang roboh akibat gempa bumi itu, merupakan orang-orang pilihan yang memiliki pengetahuan dan kecakapan di bidang penanggulangan bencana alam.

  Bahkan, para Tagana NTB yang diterjunkan ke lokasi gempa Bima itu sudah pernah menjalankan misi kemanusiaan di lokasi gempa Dompu awal Agustus 2008.

  "Setiap kali menjalankan misi kemanusiaan di lokasi bencana, Tagana NTB selalu bergabung dengan satuan TNI di wilayah setempat untuk melaksanakan bakti sosial merapikan dan menata kembali lokasi permukiman yang berantakan akibat gempa bumi atau bencana alam lainnya," ujarnya. (*)

Pewarta :
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026