NTB menggalakkan budidaya udang vaname dengan sistem bioflok

id NTB,Budidaya Udang Vaname,Lombok Utara,Dinas Kelautan dan Perikanan NTB,Dislutkan NTB

NTB menggalakkan budidaya udang vaname dengan sistem bioflok

Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (Dislutkan) Nusa Tenggara Barat (NTB), H Yusron Hadi (kedua kanan) meninjau kesiapan pengembangan kampung budidaya udang vaname di Kecamatan Bayan, Kabupaten Lombok Utara, Jumat (12/3/2021). (ANTARA/Nur Imansyah).

Lombok Utara, NTB (ANTARA) - Dinas Kelautan dan Perikanan (Dislutkan) Provinsi Nusa Tenggara Barat terus menggalakkan budidaya udang vaname, salah satunya dengan mengembangkan sistem bioflok sebagaimana dilakukan ibu-ibu di Kabupaten Lombok Utara.

Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (Dislutkan) NTB, H Yusron Hadi mengatakan, budidaya udang vaname dengan sistem bioflok di Kabupaten Lombok Utara sudah menunjukkan hasil yang menggembirakan, terbukti dengan tumbuhnya kelompok budidaya udang vaname yang tersebar di enam titik di wilayah itu, salah satunya di Kecamatan Bayan.

"Biasanya budidaya udang vaname dilakukan oleh perusahaan skala besar, bermodal besar dengan super intensif membangun tambak di kawasan pinggir pantai. Tapi sekarang kita bisa melihat dengan pola budidaya yang sama pembudidayaan dapat dilakukan menggunakan kolam terpal atau sering kita namakan sistem bioflok. Mereka ibu rumah tangga ini membentuk kelompok yang beranggota 80 orang dengan kolam 40 unit berdiamater 5 meter dan tinggi 1,5 meter," ujar Yusron Hadi saat meninjau cikal bakal kampung budidaya udang vaname yang kini tengah diusulkan ke kementerian kelautan perikanan untuk dikembangkan di Kecamatan Bayan, Kabupaten Lombok Utara, Jumat.

Yusron Hadi menjelaskan, untuk membuat kolam udang vaname nelayan setempat mengeluarkan modal mencapai Rp25 juta. Masing-masing kolam berisi 5.000 bibit udang vaname. Sedangkan, waktu panen membutuhkan waktu hanya 3 bulan.

"Dari 5.000 bibit per kolam para nelayan bisa memanen sekitar 70 sampai 80 kilogram per kolamnya," kata mantan Kepala Biro Organisasi Setda NTB itu.

Selain itu, untuk menunjang budidaya kelompok tersebut kata Yusron, para nelayan bermitra dengan perusahaan. Di mana pihak perusahaan menyediakan bibit, pakan, sarpras sampai pemasaran sekaligus memberi pendampingan saat proses budidaya.

"Jadi kegiatan budidaya seperti ini harus kita perbanyak, karena memang wilayah pesisir kita cukup potensial dan lahan pun juga cukup tersedia," terangnya.

Menurut Yusron, pemerintah pusat sendiri mempunyai 3 prioritas dalam membangun sektor kelautan dan perikanan. Di antaranya bagaimana meningkatkan Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) dari sektor perikanan tangkap, selanjutnya pengembangan perikanan budidaya dan pengembangan masyarakat pesisir serta bagaimana konservasi sumberdaya laut dan perikanan.

"Tiga hal ini sejalan dengan program industrialisasi perikanan laut maupun budidaya di NTB tanpa abai dengan konservasi sumberdaya laut dan perikanan," katanya.

Oleh karena itu, pria yang akrab disapa Yusron ini telah mengusulkan kepada pemerintah pusat untuk memperbanyak kampung budidaya ikan di NTB, baik untuk budidaya lobster, udang vaname, ikan nila, ikan lele, dan lain sebagainya menurut potensi wilayah perairan masing-masing kabupaten/kota.

"Konsep kampung budidaya ini mengelola area dari sisi hulu ke hilirnya, dari produksi ke pemasarannya. Industrialisasi perikanan budidaya bisa masuk ada tersedia bibit yang cukup, pakan memadai, produksi yang baik, hasil yang olahannya hingga pasar. Untuk menggerakkan ini perlu pihak lain yang bisa mendampingi. Koperasi atau bumdes bagus ikut berperan untuk secara bertahap membangun kemandirian. Ini contoh yang berhasil harus kita tiru untuk wilayah lainnya," katanya.