Mataram, 15/4 (Antara) - Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) berharap Mandala Airlines segera beroperasi pada rute yang menyinggahi Bandara Internasional Lombok (BIL), karena sudah mengantongi izin operasional sejak 28 Februari 2013.

  "Izin operasional dari Kementerian Perhubungan sudah ada sejak 28 Februari lalu, 'slot time' ke BIL juga sudah, semestinya sudah beroperasi ke BIL," kata Kepala Dinas Perhubungan Komunikasi dan Informatika (Dishubkominfo) Provinsi NTB Ridwan Syah, di Mataram, Senin.

  Ridwan mengaku akan mempertanyakan alasan penundaan operasional Mandala Airlines ke BIL melalui PT Angkasa Pura I BIL.

  Pihak Angkasa Pura I BIL merupakan pihak yang juga mengetahui secara pasti mengapa Mandala Airlines belum beroperasi ke BIL, padahal sudah mengantongi izin operasional dari Kementerian Perhubungan dan "slot time" untuk rute Lombok-Surabaya.

  "Mungkin ada alasan krusial yang kami tidak tahu, nanti saya tanyakan ke pengelola BIL. Tapi kami berharap, rute Mandala ke BIL dapat segera direalisasi," ujar Ridwan.

  Ia menambahkan, rute penerbangan Mandala Airlines ke BIL diperjuangkan sebelum kasus pailit yang menimpa maskapai penerbangan Batavia Air.

  Pada Rabu (30/1), Pengadilan Niaga Jakarta Pusat menyatakan perusahaan maskapai penerbangan Batavia pailit karena tak mampu membayar utang 4,69 juta dolar AS kepada perusahaan sewa pesawat International Lease Finance Corporation (ILFC).

  Putusan pengadilan itu atas gugatan ILFC yang telah memenuhi berbagai persyaratan mengajukan permohonan pailit ke Pengadilan Niaga Jakarta Pusat, pada 20 Desember 2012.

  Atas putusan pengadilan itu, terhitung Kamis (31/1) pukul 00.00 WIB, maskapai penerbangan Batavia Air menghentikan seluruh aktivitas penerbangan di Indonesia.

  "Dengan pailitnya Batavia, maka izin operasional Mandala Airlines ke BIL dipercepat, dan itu sudah ada, tapi belum juga beroperasi ke BIL. Rutenya Dari Jakarta-Lombok-Surabaya," ujarnya.

  Mandala Airlines merupakan maskapai nasional berumur 40 tahun yang telah dibeli oleh Indigo Partners dan Cardig International di tahun 2006.

  Pada 2007, Mandala telah memesan 30 pesawat airbus baru senilai 2,3 miliar dolar AS, Mandala dikelola jajaran manajemen berpengalaman internasional. Mandala juga telah menghentikan penggunaan semua Pesawat Boeingnya dan menjalin kerja sama dengan Singapore Airlines Engineering Company untuk perawatan pesawat.

  Mandala kini menawarkan jaringan pelayanan yang luas untuk 17 tujuan penerbangan, dengan menggunakan pesawat yang aman dan armada Airbus A320 dan A319.

  Karena masalah utang, maskapai ini kemudian berhenti beroperasi pada tanggal 12 Januari 2011, sambil meminta penjadwalan ulang pembayaran utangnya ke Pengadilan Niaga Jakarta Pusat.

  Utang Mandala saat itu sebesar 800 milyar rupiah kepada 271 kreditur, terutama kepada penyewa (lessor) pesawat-pesawatnya.

  Akhir Februari 2011, para kreditur menyetujui untuk merestrukturisasi utang Mandala menjadi saham, dan  70,58 persen kreditur menyetujui merestrukurisasi utang maskapai ini sebesar Rp2,4 triliun.

  Pada April 2011, tim kurator menyatakan bahwa Mandala akan menjalankan operasinya kembali pada bulan Mei 2011, yang kemudian memastikan beroperasi pada Juni 2011.

  Sebagai bagian restrukturisasinya, maskapai ini pun mengalami pergantian kepemilikan saham. Pemegang saham mayoritas adalah PT Saratoga Investment Group sebesar 51 persen, diikuti oleh Tiger Airways dari Singapura sebesar 33 persen dan 16 persen sisanya dimiliki oleh pemegang saham lama dan para kreditor. (*)

Pewarta :
Editor: Anwar Maga
COPYRIGHT © ANTARA 2026