Untuk mengolah hasil tanaman sisal tersebut PT PSA akan membangun pabrik.
Mataram,(Antara Mataram) - PT Pulau Sumbawa Agro (PSA) akan membangun pabrik pengolahan sisal (agave sisalana) di Satuan Permukiman Transmigrasi II, Kecamatan Sekongkang, Kabupaten Sumbawa Barat.

Kepala Dinas Kehutanan Perkebunan dan Pertanian (Hutbuntan) Kabupaten Sumbawa Barat H Muslimin HMY yang dihubungi dari Mataram, Rabu, mengatakan tanaman sisal yang dikembangkan Pemerintah Kabupaten Sumbawa Barat bekerja sama dengan PT PSA di SP I dan SP II di Kecamatan Sekongkang itu akan panen perdana pada 2014.

Sisal adalah tanaman perdu dengan daun-daun yang menjulang berbentuk pedang sepanjang 1,5 m sampai 2 meter. Dari daunnya yang panjang ini diambil seratnya kemudian dijemur, disisir dan diikat. Serat ini akan dirangkai menjadi tali tambang biasanya digunakan untuk pengikat kapal saat bersandar.

"Untuk mengolah hasil tanaman sisal tersebut PT PSA akan membangun pabrik. Sudah tersedia lahan untuk tempat membangun pabrik tersebut di SP II, hasil tanaman sisal itu akan diolah menjadi barang setegah jadi," katanya.

Ia mengatakan, serat sisal ini akan di jadikan tali kapal, bahan baku karpet, sajadah, topi, sandal, dan bahan tekstil pengganti kapas. Disamping itu air ampasnya dapat digunakan sebagai bahan baku pembuatan obat-obatan dan kosmetik. "Keunggulan barang berbahan baku serat sisal adalah tidak berbau, tidak menyerap minyak, dan lemak, serta dapat dicuci," katanya.

Dia mengatakan, perkembangan tanaman sisal yang ditanam dua tahun lalu cukup pesat. Bahkan lebih cepat dibandingkan dengan di negara asal bibit sisal di Guangdong China.

"Kalau di negara asal bibit tanaman tersebut di China baru bisa dipanen setelah tanaman berumur empat tahun, sementara di Kabupaten Sumbawa Barat pada usia tiga tahun enam bulan sudah bisa dipanen, karena curah hujan di daerah ini relatif rendah." katanya.

Didampingi Kepala Bidang perkebunan Dishutbuntan Kabupaten Sumbawa Barat Mustofa, dia mengatakan, bibit sisal yang didatangkan dari China berupa kultur jaringan terlebih dahulu dilakukan pembesaran bibit selama dua tahun.

Pada tahap selanjutnya, kata Muslimin, baru dipindahkan ke kebun dan setelah melalui masa pemeliharaan selama satu tahun enam bulan sudah bisa dipanen.

Menurut dia, tanaman sisal di China baru bisa dipanen setelah berusia empat tahun, karena di negara itu beriklim sub tropis yang menghambat pertumbuhan ketika memasuki musim dingin, sementara di Indonesia beriklim tropis

"Karena itu kalau tidak ada hambatan pada 2014 kita sudah mulai panen. Untuk itu PT PSA akan membangun pabrik serat sisal di SP II atau Desa Tatar, Kecamatan Sekongkang," katanya.

Untuk jangka panjang tanaman sisal akan dikembangkan pada lahan seluas 5.000 ha dengan memanfaatkan lahan kering yang cukup luas di daerah ini. Komositas itu cocok ditanam di lahan kering, karena sisal berasal dari daerah padang pasir.

Saat ini pengembangan sisal melibatkan 1.000 kepala keluarga (KK) di SP i dan SP II di Kecamatan Sekongkang. Para transmigran di SP I dan SPI sudah mulai menikmati hasil khususnya dari upaynya sebagai tenaga kerja.

"Setiap bulan para apekerja di perkebunan sisal mendapart upah mencapai Rp2 juta per orang. Karena itu kehadiran perkebunan sisal itu sudah dinikmati petani kendati belum mulai berproduksi," kata Muslimin.

Menurut dia, selama ini para petani di Unit Permukiman Tramsmigrasi itu hanya menanam padi, jagung, dan kacang-kacangan serta sayuran, namun karena tidak tersedia ioar untuk irigasi para petani hanya bisa menenam padi sekali setahun, selama sembilan bulan lahan menganggur.

Kondisi ini, menurut dia, menyebabkan pendapatan petani relatif rendah. Karena itu dengan adanya sisal diharapkan pendaatanm petani diharapkan meningkat rata-rata Rp2 juta per hektar per bulan atau Rp24 juta per hektar per tahun.

Produksi sial di Sumbawa Barat diperkirakan mencapai 92 ton pelepah per tahun. Dari pelepah akan dijadikan serat sisal dengan rendemen mencapai 5 persen.


Pewarta :
Editor: Zulaeha
COPYRIGHT © ANTARA 2026