"Pak Gubernur sudah menginstruksikan Kepala BPBD NTB Wedha Magma Ardhi untuk melakukan pendataan guna memperjelas dampak bencana angin puting beliung itu," kata Kabag Humas dan Protokol Setda NTB Tri Budiprayitno.
Mataram (Antara Mataram) - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) mendata kerusakan infrastruktur akibat bencana angin puting beliung yang melanda Kota Mataram, dan lima kabupaten lainnya, Rabu (19/3) siang hingga malam.

"Pak Gubernur sudah menginstruksikan Kepala BPBD NTB Wedha Magma Ardhi untuk melakukan pendataan guna memperjelas dampak bencana angin puting beliung itu," kata Kabag Humas dan Protokol Setda NTB Tri Budiprayitno di Mataram, Jumat.

Ia mengatakan, pendataan tersebut dimaksudkan untuk mengklasifikasi bencana tersebut, agar penanganannya terarah dan komprehensif.

Jika masih tergolong bencana lokal maka hal itu menjadi tanggung jawab pemerintah kabupaten/kota untuk penanganannya. Bencana puting beliung itu melanda Kota Mataram, Kabupaten Lombok Tengah, Lombok Barat, Sumbawa dan Kabupaten Sumbawa Barat.

"Kalau laporan sementara dari pemerintah kabupaten/kota yang terkena bencana angin puting beliung itu sudah ada, sehingga akan diperjelas oleh BPBD provinsi," ujarnya.

Data hasil rekapitulasi dari pemerintah kabupaten/kota, bencana itu mengakibatkan 142 unit rumah rusak ringan, 60 unit rumah rusak sedang, dan 36 unit rumah rusak berat. Seorang warga di laporkan tewas akibat terkena pohon tumbang, di Kabupaten Lombok Barat.

"Sementara ini, BPBD kabupaten/kota sedang melakukan penanganan optimal, dan pemerintah provinsi menyiagakan bantuan tanggap darurat," ujar Tri.

Sebelumnya, Kepala BPBD Provinsi NTB Wedha Magma Ardhi mengatakan, pihaknya menyiagakan bantuan tanggap darurat, sebagai tindakan "back up` terhadap BPBD kabupaten/kota.

"Kami siagakan bantuan tanggap darurat agar memudahkan pendistribusiannya jika dibutuhkan, Sementara ini penanganan dampak angin puting beliung itu masih bisa ditanggulangi pemerintah kabupaten/kota," ujarnya.

Menurut Adhi, bencana angin puting beliung yang terjadi saat hujan lebat itu hanya berlangsung pada hari itu, namun harus tetap diantisipasi.

Apalagi, guyuran hujan masih berpotensi terjadi di akhir Maret hingga awal April, sehingga masih ada kerawanan bencana banjir dan tanah longsor.

"Sebenarnya akhir Maret ini tahap akhir kerawanan banjir dan tanah longsor, tetapi curah hujan masih berpotensi sehingga tetap diantisipasi. Kalau angin puting beliung merupakan bencana dadakan yang juga perlu diantisipasi," ujarnya.

Ia juga mengungkapkan bahwa masa tanggap darurat sejak akhir 2013 sampai 31 Maret 2014, yang berpeluang diperpanjang beberapa bulan kemudian jika mencuat cuaca ekstrem.

Selama masa tanggap darurat, siaga bantuan terus dilakukan, sambil berkoordinasi dengan pemerintah kabupaten/kota, agar seluruh bencana yang mencuat terpantau.

"Sementara ini provinsi siagakan bantuan tanggap darurat, dan kabupaten/kota yang terlibat penanganan bencana yang mencuat. Tapi kami merasa perlu mengimbau semua pihak untuk mewaspadai setiap potensi bencana," ujarnya. (*)

Pewarta :
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026