"Ribuan ton gula pasir tersebut didatangkan secara bertahap sejak Juli 2016, untuk menstabilkan harga"Mataram (Antara NTB) - Perum Badan Urusan Logistik Nusa Tenggara Barat sudah mendatangkan sebanyak 1.062 ton gula pasir dari PT Perkebunan Nusantara XI di Jawa Timur untuk stabilisasi harga komoditas tersebut.
"Ribuan ton gula pasir tersebut didatangkan secara bertahap sejak Juli 2016, untuk menstabilkan harga yang sempat mencapai Rp15.000 per kilogram," kata Kepala Divisi Regional (Divre) Badan Urusan Logistik (Bulog) NTB Achmad Ma`mun, di Mataram, Rabu.
Ia menyebutkan, dari total 1.062 ton gula pasir yang sudah didatangkan, sebanyak 451 ton sudah didistribusikan ke masyarakat melalui operasi pasar murah gula pasir.
Badan usaha milik negara tersebut menjual gula pasir tersebut kepada masyarakat dengan harga Rp12.500/kg, sesuai penugasan dari direksi.
Achmad mengatakan, pihaknya akan terus melakukan operasi pasar karena harga gula pasir di tingkat pedagang pengecer di pasar tradisional dan toko-toko masih di atas Rp12.500/kg.
Stok gula pasir yang tersedia saat ini sebanyak 610,6 ton. Sebanyak 459 ton tersimpan di gudang Divre Bulog NTB di Kota Mataram. Selain itu, di gudang Subdivre Bulog Bima 46 ton, Subdivre Bulog Sumbawa 46,5 ton, dan Subdivre Bulog Lombok Timur 59 ton.
"Kami terus melakukan evaluasi stok. Kalau posisi stok di bawah 200 ton, kami akan minta lagi jika kondisi harga gula pasir masih di atas Rp12.500/kg," ujarnya.
Selain melalui operasi pasar, kata dia, pihaknya juga memasarkan gula pasir tersebut kepada masyarakat melalui 76 Rumah Pangan Kita (RPK), yang tersebar di di Kota Mataram dan sekitarnya sebanyak 38 unit.
Ada juga di wilayah kerja Subdivre Bulog Lombok Timur, Subdivre Bulog Sumbawa, dan Subdivre Bulog Bima.
"RPK tersebut dikelola oleh perorangan dan usaha dagang berbadan hukum yang menjadi mitra Bulog. Tidak hanya gula pasir yang dijual, tapi menjual beras juga dengan harga yang sudah ditentukan," kata Achmad. (*)
Pewarta :
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026