BBIL LIPI mampu memproduksi 100.000 benih teripang

id BBIL LIPI Teripang

Pekerja menujukan teripang pasir (Holothuria scabra) di Balai Bio Industri Laut Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) di Lombok Utara, NTB, Kamis (12/4). Balai Bio Industri Laut berupaya membudidayakan teripang pasir karena mengalami penurunan populasi dan terancam punah. ANTARA FOTO/Dedhez Anggara/kye/18.

Kami sudah mampu memproduksi lebih dari 100.000 ekor benih per tahun, memungkinkan untuk `up scaling`
Lombok Utara (Antaranews NTB) - Balai Bio Industri Laut, Pusat Penelitian Oseanografi, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia di Kabupaten Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat, mampu memproduksi 100.000 ekor benih teripang pasir (holothuria scabra) untuk mendukung konservasi dan budi daya.

"Kami sudah mampu memproduksi lebih dari 100.000 ekor benih per tahun, memungkinkan untuk `up scaling`," kata Kepala Balai Bio Industri Laut (BBIL) Hendra Munandar, kepada peserta media tour eksplorasi hasil penelitian Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), di Lombok Utara, Kamis (12/4).

Ia mengatakan tim peneliti melakukan penelitian cara memproduksi benih teripang pasir di laboratorium sejak 2011. Kemudian tim peneliti berhasil memproduksi secara massal pada 2015.

Namun kemampuan memproduksi dalam jumlah relatif banyak tersebut belum disertai dengan permintaan yang tinggi dari masyarakat maupun dunia usaha. Baik untuk konservasi maupun usaha budi daya komersil.

"Pernah ada kematian ribuan ekor benih teripang di laboratorium karena seharusnya dipindahkan ke tambak pembesaran. Itu menjadi kendala. Makanya, kami memproduksi ketika ada permintaan," ujarnya.

LIPI, kata Hendra, juga tidak bisa melakukan usaha budi daya pembesaran teripang. Pasalnya, tidak ada fasilitas tambak yang dimiliki sehingga harus bermitra dengan pemerintah daerah serta pengusaha.

Oleh sebab itu, pihaknya sudah mempublikasikan keberhasilan tim peneliti dalam memproduksi benih teripang pasir kepada Pemerintah Provinsi NTB dan kabupaten/kota agar mereka bisa memanfaatkan hasil penelitian tersebut.

Namun hanya Pemerintah Kabupaten Lombok Timur yang sudah memberikan respon dengan menyediakan lahan seluas dua hektare untuk budi daya pembesaran teripang. Proyek percontohan yang dilaksanakan di Desa Pijot, Kecamatan Keruak, itu bekerja sama dengan PT Sejahtera Putra Kusuma.

Lebih lanjut, ia menambahkan BBIL juga berupaya menjalin kemitraan dengan pihak lain di luar pemerintah, seperti BUMN dan lembaga swadaya masyarakat yang peduli terhadap kelestarian teripang yang terancam punah.

"Salah satu BUMN yang menjalin kemitraan dengan kami adalah PT Sarana Multigriya Finansial (Persero). Perusahaan yang berada di bawah Kementerian Keuangan itu memanfaatkan benih teripang untuk konservasi di Gili Trawangan," ucapnya.

Menurut dia, teripang merupakan komoditas yang memiliki nilai ekonomi relatif tinggi. Pasalnya, sudah diperdagangkan di 70 negara, di antaranya Tiongkok, Hong Kong, Taiwan, Korea, dan Singapura.

Biota laut tersebut mayoritas dipasarkan dalam bentuk kering dan sebagian berupa olahan, segar, beku atau hidup.

Indonesia, lanjut Hendra, juga sudah menjadi negara pengekspor tripang. Data yang dirilis Badan Pusat Statistik pada 2016, tercatat nilai ekspor tripang mencapai 9,44 juta dolar AS, dengan volume mencapai 2 juta kilogram.

"Sebagian dari perikanan tangkap atau mengambil dari alam bebas karena belum ada masyarakat yang membudidayakan. Padahal kami siap untuk membantu dari sisi teknologi budi daya," katanya. (*)
Pewarta :
Editor: Awaludin
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar