Tidak ada kata dendam seusai pertarungan
     Mataram (Antaranews NTB) - Malam itu, bulan purnama berwarna merah tampak tidak malu-malu lagi, menunjukkan wujud utuhnya di atas Masjid Kuno Bayan Beleq, Kecamatan Bayan, Kabupaten Lombok Utara.
     Sejumlah pria dari orang tua, remaja dan anak-anak, tanpa diperintah sudah
membuat lingkaran sembari bersorak sorai menunggu para petarung masuk ke
gelanggang dan "pekembar sidi" (wasit pinggir) tidak kalah sibuk dengan tongkat
rotan di pecut-pecutkan ke tanah untuk meminta lingkaran di perlebar.
     Kegiatan malam itu adalah peresean, pertarungan para petarung bersenjatakan 
penjalin (tongkat rotan) dan perisai kulit kerbau yang tebal dan keras (Ende). Kegiatan itu untuk menyambut Maulid atau Hari
Kelahiran Nabi Muhammad SAW di lingkungan masyarakat adat Bayan.
     Mereka semuanya menggunakan sapuq atau ikat kepala khas Suku Sasak serta
mengenakan sarung batik sasak yang diikat dengan dodot atau ikat pinggang kain.
Sedangkan mereka wasit pinggir dan pekembar teqaq (wasit tengah) bertelanjang
dada.
     Tidak lama kemudian, seorang remaja mengacungkan tangannya untuk maju ke
arena, diapun membuka pakaiannya alias bertelanjang dada. Dukungan dari
teman-temannya turut membahana. Di seberangnya, remaja seusianya pun maju
menawarkan diri.
     Klop sudah ada petarungnya atau pepadu, mereka diberikan tongkat rotan dan
perisai kulit kerbau yang tebal dan keras biasa disebut oleh masyarakat Sasak, Ende.
Musik tradisional pun mengiringi menjelang petarungan yang mendebarkan, yang
terdiri dari gong, sepasang kendang, rincik atau simbal, suling dan kanjar.
     Musik itu menambah gairah untuk segera bertarung dan mencoba
menyeimbangkan suara sorak sorai. Ketika wasit menandakan pertarungan dimulai,
petarung dari sisi kiri sudah bersedia dengan tameng yang diangkat untuk
melindungi bagian kepalanya.
      Demikian pula petarung dari sisi kanan, mereka mencoba mencari kelemahan
lawan yang bisa dihajar oleh tongkat rotan itu. Ketika petarung itu maju untuk
mengenakan ke bagian kepala, lawan tidak kalah gesitnya mengangkat tameng itu.
Pertarungan pun semakin alot.
      Keringat pun terlihat dari balik lampu neon yang redup, debu pun beterbangan
bercampur dengan peluh. Penonton juga harus siap-siap mundur bilamana gerakan
mundur ke arah penonton. 
      Sekali gerakan taktis, petarung satu dengan menggunakan teknik tipuan,
tongkat rotan itu pun mengenai kepala lawan. Lawan pun menyerah, wasit
langsung menghentikan pertai kesekian kalinya itu. Tidak lama kemudian lawan
yang kalah menghampiri pemenangnya dan berpelukan mereka. Indahnya
pertarungan dua remaja itu.
     "Petarung hanya boleh menyasar ke bagian pinggang atas termasuk kepala, bagian bawah kaki dan paha tidak boleh," kata tokoh pemuda adat Bayan dari Desa Batu Grantung, Raden Kertamaji kepada Antara.
      Pertarungan akan dihentikan jika sudah ada petarung yang menyerah atau
kepala petarung yang mengeluarkan darah, dan wasit akan menyatakan siapa
pemenangnya.
      Disebutkan, siapa saja yang menonton aksi tersebut, diperbolehkan ikut bertarung. "Jadi mereka menawarkan dirinya sendiri, tanpa ada paksaan," katanya.
      Tidak ada kata dendam seusai pertarungan, dikatakan, kemudian penutupannya diakhiri dengan salaman dan berpelukan. "Tidak ada istilah kata dendam," katanya.
      Pertarungan itu akan berjalan semalam suntuk, dan para petarungnya bergantian. Sebenarnya untuk menyambut Maulid itu, pertarungan sudah dimulai sejak Jumat (23/11) sore yang berlangsung sampai keesokan harinya atau Sabtu (24/11).
     Ia menjelaskan pemain musiknya memang dikhususkan untuk acara itu saja, dan mereka menekuninya secara turun temurun dari nenek moyangnya. "Pemain musik hanya tampil pada Maulid saja," katanya.      

Kegiatan tahunan
      Raden Kertamaji, sarjana hukum lulusan Universitas 1945 itu, menyebutkan kegiatan peresean itu di Kecamatan Bayan untuk memperingati Hari Kelahiran Nabi Muhammad SAW, merupakan kegiatan rutin.
      "Kegiatan dilakukan di samping sejumlah masjid kuno Kecamatan Bayan," katanya.
     Sejumlah masjid kuno itu selain Masjid Bayan Beleq, diantaranya, di Desa Barung Bira, Gubug Anyar, Desa Semokan dan Desa Beliq.       
      Khususnya di Masjid Kuno Bayan Beliq, pria yang akan memasuki kompleksnya harus menggunakan pakaian khas Sasak, yakni, apuq atau ikat kepala khas Suku Sasak serta mengenakan sarung batik sasak yang diikat dengan dodot atau ikat pinggang kain.
      Jika ada yang tidak menggunakan pakaian adat itu, maka akan dilarang di pintu masuk menuju kompleks masjid tersebut. 
      Sementara itu, pemangku adat Bayan dari Desa Batu Grantung, Raden Nyakrawasih, menyebutkan kegiatan peresean setiap Maulid, sudah dilakukan oleh leluhurnya dan dilakukan secara turun temurun.
      "Sebenarnya kegiatan ini dilakukan untuk mengelabui penjajah Suku Sasak," katanya.
      Salah satu penjajah zaman dahulu, kata dia, tidak suka kepada kegiatan ritual Islam termasuk Maulid, khususnya masyarakat Bayan selalu dicurigai. Sehingga untuk mengakalinya dengan menggelar peresean seolah-olah kegiatan adu kemampuan saja.
      "Padahal itu acara rangkaian Maulid, yang puncaknya ada acara keagamaan," tandasnya.
      Bahkan untuk mengakalinya juga, dijelaskan, Maulid atau Kelahiran Nabi Muhammad SAW yang seharusnya digelar pada tanggal 12 Rabiul Awal, maka masyarakat Bayan menggelar pada tanggal 15 Rabiul Awal.
      "Sehingga penjajah tidak mengetahui adanya kegiatan peringatan Maulid, penjajah hanya mengetahui ada kegiatan peresean saja," katanya.

Pewarta :
Editor: Riza Fahriza
COPYRIGHT © ANTARA 2026