Mataram (ANTARA) - Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Provinsi Nusa Tenggara Barat mendorong Pemerintah Kota Mataram untuk memperbaiki ekologi sungai guna mencegah kembali terulangnya bencana banjir yang melanda daerah itu.
Direktur Walhi NTB Amri Nuryadin mengatakan pembangunan di Mataram selama ini tidak mempertimbangkan keberlanjutan ekologi dalam menyusun tata ruang di bantaran sungai. Hal inilah yang diduga menjadi penyebab utama banjir yang terjadi pada Minggu (6/7) kemarin.
"Kita tahu di daerah aliran sungai di Mataram terjadi penyempitan sangat luar biasa mulai hulu hingga hilir. Bahkan banyak bangunan yang ada di tepian sungai itu tidak ditertibkan dan tidak ditegakkan hukum," ujar Amri Nuryadin di Kantor Walhi NTB di Mataram, Selasa.
Amri mengaku melihat selama ini Pemerintah Kota Mataram dan Kabupaten Lombok Barat tidak memperhatikan daerah bantaran sungai, sehingga peristiwa banjir yang menerjang enam kecamatan di Mataram itu bukan hanya disebabkan oleh intensitas hujan tinggi tetapi terjadi karena adanya penyempitan sungai dan tumpukan sampah.
"Kami kira pemerintah harus segera meninjau ulang dan mengevaluasi ekologi seluruh sungai di Mataram. Harus dilakukan perbaikan-perbaikan dan juga upaya normalisasi agar sesuai dengan fungsinya untuk mengalirkan air ke laut," tegasnya.
Baca juga: Gubernur NTB fokuskan bantuan banjir untuk warga miskin di Mataram
Selain melakukan normalisasi aliran sungai, Amri juga mendesak Pemerintah Kota Mataram dan Lombok Barat melakukan persiapan mitigasi kebencanaan di daerah bantaran sungai agar banjir tidak terulang kembali.
"Setidaknya tidak ada korban jiwa dalam peristiwa banjir ini meskipun ada dua orang meninggal akibat tersengat aliran listrik dari informasi yang kita terima," ujarnya.
Tiga sungai yang perlu dilakukan normalisasi di Mataram dan Lombok Barat seperti Sungai Ancar yang ada di dekat Universitas Mataram, Sungai Jangkuk di Kelurahan Dasan Agung, dan Sungai Unus di Pantai Loang Baloq.
"Ketiga sungai ini perlu dilakukan perbaikan-perbaikan. Kalau tidak diperbaiki ke depan bukan tidak lagi terjadi banjir seperti yang terjadi pada hari Minggu kemarin," katanya.
Baca juga: TGC Mataram tangani 27 korban banjir dengan cedera serius
Sebelumnya, Gubernur NTB Lalu Muhamad Iqbal mengungkapkan ada tiga masalah utama yang menyebabkan banjir melanda sejumlah wilayah di Kota Mataram. Tiga masalah itu, adalah pendangkalan sungai, sampah, dan jembatan-jembatan yang berada di sepanjang aliran sungai masih terlalu rendah.
"Banyak di antara sungai-sungai itu endapan tinggi. Contoh, saat tadi malam saya meninjau Kelurahan Kekalik yang keluar itu pasir semua dan lumpur," ujarnya saat meninjau sejumlah kantor-kantor OPD Pemprov NTB yang masih digenangi air di Jalan Majapahit Kota Mataram, Senin (7/7).
Baca juga: Peduli sesama, PKK Mataram galang donasi untuk korban banjir
Selain persoalan pendangkalan sungai, menurut Iqbal, banjir yang menggenangi Kota Mataram disebabkan banyaknya sampah yang terbawa aliran sungai, sehingga menyebabkan aliran air sungai menjadi meluap dan menggenangi rumah-rumah warga dan perkantoran.
"Ini juga ada masalah sampah yang banyak di sungai, sehingga aliran air menjadi tersumbat," ujarnya.
Kemudian, lanjut Iqbal, adalah masalah jembatan. Banyak di antara jembatan-jembatan yang ada di aliran sungai masih terlalu pendek, sehingga ke depan perlu dirubah dengan ditinggikan posisinya.
"Jadi banyak sungai endapan-nya tinggi, sampah, dan kualitas jembatan. Jadi ada tiga masalah," katanya.
Baca juga: Banjir Mataram, Pemprov NTB tetapkan status darurat bencana
Baca juga: DLH Mataram anggarkan Rp100 juta perbaikan tembok TPST jebol akibat banjir
Baca juga: Gelombang pasang perparah dampak banjir di Mataram
Pewarta : Nur Imansyah
Editor:
Abdul Hakim
COPYRIGHT © ANTARA 2026